Satu minggu setelah pemecatan Sari kini posisi sekretaris sudah terisi oleh karyawan baru. Namanya mbak Intan, kira kira seusia mbak Laras dan kelihatan ia lebih profesional dilihat dari pemahamannya ketika kuberikan instruksi beberapa proyek yang sedang kami kerjakan.
Pukul sepuluh kembali menuju kubikelku untuk melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda. Rasanya lumayan juga setelah menjelaskan satu persatu pada mbak Intan, beruntungnya ia cepat paham maksud dari semua perkataanku.
"elo sih gak mau jadi sekretaris Pak Tama" ucap mbak Laras yang sudah berdiri berada disampingku.
"gak mau mbak" tolakku.
"karena skandal kemarin?" tanya mbak Laras memastikan.
Aku mengangguk, berulang kali kujelaskan pada mbak Laras ketika HRD memberikan peluang sebagai sekretaris Pak Tama kepadaku. Jujur aku tidak nyaman jika menggantikan posisi Sari, terlebih setelah kejadian kemarin yang membuat Sari dikeluarkan dari perusahaan.
Hari ini sudah merencanakan untuk mengambil pulang lebih cepat karena ada seseorang yang harus kujemput di stasiun. Tentu sudah konfirmasi sejak beberapa hari yang lalu dan mendapat ACC, karena kedatangannya hari ini memang sudah direncanakan jauh hari.
***
Sore ini bertolak menuju stasiun dan izin pulang lebih cepat untuk menjemput adikku, Nabila. Sesuai janjiku jika aku akan mengajaknya ke Surabaya ketika pekerjaanku sudah dibilang nyaman.
Dari pintu kedatangan terlihat seorang perempuan berlari hingga menabrakku kemudian memeluk erat.
"mbak Dia, apa kabar? Jahat banget nggak pulang pulang" katanya sambil tetap memelukku erat.
"mbak baik baik aja, kemarin kan masih penyesuaian Bil. Kamu, Ayah dan Ibu apa kabar?" tanyaku padanya.
Nabila melepaskan pelukannya.
"Ayah baik, Ibu makin rame kateringnya, aku semakin sibuk tugas kuliah sama bantuin Ibu ngantar pesanan sejak mbak pindah ke Surabaya" ujarnya sambil menggerutu.
Ya, mau tidak mau Nabila menjadi penggantiku untuk membantu usaha katering Ibu.
"yaa kalau Ibu gak minta bantuan kamu terus siapa lagi?" tanyaku kembali.
"mbak sih, balik Surabaya lagi" ujar Nabila masih menggerutu.
"balik ke Surabaya bukan buat main Bil, tapi kerja. Buat kamu juga kan?" jelasku padanya.
"iya sih, sekarang tiap bulan dapat jatah tambahan juga dari mbak Dia" katanya kemudian tertawa sumeringah.
"sekarang mau makan dimana?" ajakku pada Nabila.
"aku capek banget mbak, pengen tiduran tapi laper" keluhnya.
"yaudah, mbak pesen go food. Kita makan di kontrakan aja" kataku memberikan opsi.
"sippp"
Kami berdua berjalan menuju keluar stasiun untuk mencari kendaraan yang akan mengantarkan kami menuju kontrakan.
***
Setibanya di kontrakan aku meminta Nabila untuk segera membersihkan badan sambil menunggu pesanan makanan kami datang.
"kuliah kamu gimana Bil?" tanyaku saat kami baru selesai menghabiskan makan masing masing.
"lumayan" jawabnya singkat.
"lumayan gimana maksud kamu?" tanyaku memastikan.
"ternyata masuk sastra Indonesia enggak sesederhana itu. Banyak banget yang harus dipelajari" ujarnya sambil menerawang.
"kamu masih nulis buat cerita gitu?" tanyaku kembali.
Nabila memang menyukai hobi membaca sejak kecil, semakin besar ia sudah menemukan kegemarannya dalam membuat cerita hingga ketika lulus SMA ia meneruskan studi sarjana dijurusan sastra Indonesia.
"masih dong, lumayan dapat fee tambahan" jawabnya jumawah.
"laku gitu?" tanyaku menggoda.
"mbak aja yang belum pernah baca tulisanku, kejam memang" keluhnya.
"belum sempat aja. Kalau memang banyak peminat kenapa gak coba diterbitkan?" tanyaku semakin menelisik.
"masuk penerbit gak semudah itu mbak" katanya.
"katanya kemarin pernah ada yang nawarin" ingatku pada Nabila saat ia bercerita mendapatkan tawaran naik cetak dari penerbit untuk cerita onlinenya.
"ada, self publik tapi... Gak seru, aku pengennya mayor tapi ribetnya itu yang malesin" jelasnya yang tidak aku pahami.
"belum dicoba kok udah males" ujarku.
"banyak tahapannya, belum lagi nanti masih ikut mikir gimana pemasarannya" jelas Nabila kembali.
Sejauh ini aku mendengarkan ceritanya, kami sudah lama tidal menghabiskan waktu untuk mengobrol berdua seperti ini.
"iya kan ada bagiannya sendiri Bil" kataku kembali.
"maka dari itu aku pilih yang simpel aja, dan udah jelas pemasukannya" jelasnya pemuh penekanan.
"dasar kamu. Heran aja jurusan Sastra bisa ilmu ekonomi juga" ujarku.
"namanya juga jiwa perempuan, niru Ibu sama mbak kali ya"
"enak aja, bawa Ibu sama mbak" cibirku.
Kami berlanjut obrolan hingga malam semakin larut. Obrolan sejenis kegiatan Ayah dan Ibu, juga membahas tentang kegiatan kami masing masing.
"tidur Bil..." ajakku ketika melihatnya masih memainkan ponsel pintarnya.
"mbak, kayaknya ada yang mengetuk pintu deh" katanya sambil berusaha menajamkan telinga.
Samar samar terdengar suara ketukan pintu yang tidak terlalu nyaring.
"siapa yang bertamu jam segini mbak?" tanya Nabila.
Aku mengendikkan bahu,
"gak tau, bentar ya" kataku kemudian beranjak dari tempat tidur.
Jam menunjukkan lewat pukul sepuluh malam, membuatku menerka siapa yang bertamu larut malam begini.
"Pak Tama?" panggilku pada sosok yang berdiri menjulan di depan pintu.
Mataku membola karena sama sekali tidak menyangka akan ada Bosku berdiri di depan pintu kontrakanku saat larut malam begini.
"ponsel kamu rusak?" tanya Pak Tama kembali tanpa basa basi.
"ponsel? Oh, ya ampun... Tadi sore lowbat Pak, mungkin sekarang sudah off" kataku sambil mengingat ponselku.
Sejak kedatangan Nabila, benda pipih persegi itu memang tidak kusentuh sama sekali.
"siapa mbak?" tanya Nabila dari kamar.
"kamu tidur duluan Bil, mbak ada sedikit urusan" jawabku pada Nabila yang masih didalam kamar.
"maaf, ada keperluan apa Bapak selarut ini bertamu kesini?" tanyaku mencoba untuk sesopan mungkin.
"tadi sore saya cari kamu untuk meminta rekapan laporan proyek, katanya Laras kamu izin pulang lebih awal. Belum lagi ponsel kamu gak bisa dihubungi sejak tadi sore" jelasnya bertubi.
"ehh, Iya... Sore tadi saya ke stasiun Pak, sudah izin juga sama HRD. Kalau ponsel saya sepertinya off karena lowbat" jelasku padanya.
"saya butuh rekapan laporannya besok pagi Nad. Saya hubungi kamu gak bisa" jelasnya kembali.
Mataku membola mendengar penjelasannya.
"aduh, harus besok ya Pak?" tanyaku ragu.
"kenapa? Besok weekend kan?" Pak Tana berbalik tanya.
"itu hari libur Pak" ingatku padanya.
"saya tau, jam kamu saya masukan lembur plus bonus. Saya butuh laporan proyek untuk meeting besok pagi" ujarnya sesantai itu.
Hening, tidak ada jawaban dariku selama beberapa menit berlalu. Pun dengan Pak Tama masih menunggu jawabanku.
"saya ada datanya Pak, akan saya kerjakan malam ini. Tapi untuk meeting besok saya gak bisa ikut" jelasku pada Pak Tama.
Enak aja mau ganggu hari liburku, mana sudah ada janji sama Nabila juga.
"kenapa? Kan yang tau datanya kamu. Nanti saya tanya sama siapa kalau bukan sama kamu?" tanya Pak Tama bertubi seakan tidak menerima bantahan.
"mbak Intan sudah saya jelaskan detailnya Pak" kataku dengan nada merendah.
Obrolan seperti ini harus pintar mengontrol emosi.
"kamu lupa kalau dari awal proyek kamu sudah terlibat?" ingatnya padaku.
"saya ada janji sama adik saya Pak" jelasku.
"cancel aja" titahnya.
Enak aja,
"adik saya datang dari Jogja masa mau dicancel?" tolakku.
"profesionalitas kamu dipertanyakan" ujarnya yang membuat kesabaranku mulai menipis.
"saya janji akan menyajikan data secara detail untuk meeting besok pagi hingga Bapak tidak akan menemukan pertanyaan dalam data tersebut" jelasku penuh keyakinan.
"kamu yakin?" tanya Pak Tama ragu.
"seratus persen yakin Pak" jawabku mantap.
"oke, rekapan laporan saya tunggu dimeja kantor besok sebelum jam delapan pagi" pungkasnya kemudian meninggalkanku yang masih mematung setelah mendengarkan perintahnya.
Hingga mobil melaju meninggalkan area kontrakan pun masih terngiang titah Pak Bos yang akan mengganggu jam istirahat dan hari liburku besok.
Menyebalkan.
.
.
.
To be continued