EPS. 14

1873 Kata
"Mam, kita mau kemana sih, Mam?" tanya Elang saat mobil yang dikendarai Papa melaju dengan kecang. "Mau ke villa sayang." Elang terdiam. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, terdapat banyak bukit dan lembah. Di ujung kanan—ada Danau Toba yang terlihat begitu indah dan besar. "Kita mau ke Danau Toba, Mam?" Mami yang sedang makan camilan keripik pisang mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Elang. "Berarti kita dekat sama Dara?" "Sayang ...." Mami mengelus kepala Elang penuh sayang. "Dara ada di Medan, Lang." Elang bangkit dari jok belakang mobil. Ia memajukan kepalanya di antara Mami dan Papa. "Yaudah, kita ke Medan. Elang rindu sama Dara, Mam, Pap." Kali ini Papa yang angkat bicara. Ia menoleh ke kiri sekilas. "Akan ada saatnya kamu bertemu dengan Dara." Mendengar itu tubuh Elang langsung lemas seketika. Ia kembali duduk dengan bahu yang merosot ke bawah. Helaan napas kecewa terdengar dari arah jok belakang. Pupus sudah harapannya untuk bertemu Dara tahun ini. "Lagian, Dara itu siapa? Kok Papa nggak pernah dengar ada teman kamu yang namanya Dara? Lagian aneh aja, karena selama Papa tahu kamu tidak punya teman anak perempuan." Elang menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju. Ia mengakui kalau Dara memang teman perempuan pertama dalam hidupnya, tapi Elang rasa bermain dengan Dara itu berbeda—tidak seperti anak perempuan kebanyakan. Ia tahu Dara berbeda karena sewaktu jatuh dari sepeda Dara tidak menangis, maka dari itu Elang dapat menyimpulkan kalau Dara bukan anak perempuan yang cengeng dan manja. "Dia itu satu komplek sama kita waktu masih tinggal di Medan, Pap." "Mami rasa si Dara anaknya, Jeng Rita deh, Pap," sambung Mami. "Oh ... yang rumahnya di ujung gang, ya Mam?" Elang kembali bungkam dan membiarkan orangtuanya berbicara. Pikirannya melayang-layang pada pertemuan pertamanya dengan Dara. Jujur, Elang merasa ada sesuatu yang aneh pada hatinya saat nama Dara terlintas di pikirannya. Untuk anak usia 12 tahun seperti Elang, mungkin ia mulai jatuh cinta pada Dara. Cinta pertama dalam hidupnya. Maafin aku, Dek Dara, kita belum bisa ketemu padahal aku udah rindu. Kamu lagi apa? Semoga aja kita bisa dipertemukan kembali, Elang membatin di hatinya. "AAAPAAA??!!" teriak Elang menggelegar ketika ia sadar dari mimpinya. Kenangan 18 tahun yang lalu tiba-tiba hadir dalam mimpinya. Sebuah kenangan yang sudah lama ia buang jauh-jauh, kenangan paling menjijikan baginya saat ini. Elang benci itu. Deru napas Elang menjadi tidak teratur. Keringat membanjiri dahi dan pelipisnya. Ia lihat jam di dinding, ternyata sudah pukul 01.00 pagi. Lagi-lagi Elang membuang napasnya dengan kasar. "Astagaa ... mimpi apa gue barusan?" Elang menoleh ke kanan, ia melihat Dara masih tertidur dengan nyenyak disertai selimut tebal menutupi hingga lehernya. Seketika Elang menggelengkan kepala saat memori 18 tahun yang lalu kembali hadir. "Nggak mungkin, itu cuma kisah bocah yang baru puber, nggak mungkin gue masih punya rasa sama dia." Dengan sekali hentakkan, Elang berhasil menyingkap selimut dari tubuhnya, lalu ia berjalan menuju toilet. Sampai di dalam, buru-buru Elang membasuh wajahnya. Ia gosok dengan cepat agar pikiran dan hatinya kembali normal. Setelah merasa lebih baik, Elang mendongak ke atas. Ia tatap wajahnya pada pantulan cermin di atas wastafel. Terdapat wajah penuh kecemasan serta ketakutan, Elang benci raut wajahnya seperti ini, ia merasa cemen sebagai seorang pria. "Gue enggak mungkin masih suka sama dia! Wanita bodoh, pemalas, selebor—arrghh!!!" teriak Elang kesal seraya menyingkirkan apapun yang ada di pinggiran wastafel. "Dia cuma benalu! Dia cuma titipan Tuhan aj—" "Bang! Oh Bang, kenapa?" tanya Dara dari luar seraya mengetuk pintu toilet. Tenggorokan Elang terasa tercekat. Suara Dara bagaikan petir yang siap menyambar tubuhnya kapan saja. Entah kenapa ia bisa takut dan secanggung ini pada wanita itu. Elang merutuki dirinya karena sudah mimpi kenangan itu. Baginya itu adalah mimpi buruk. Pria tanpa busana kecuali celana dalam itu, menarik napas dan membuangnya perlahan. Deruan napasnya kini sedikit lebih stabil dari sebelumnya. Sebisa mungkin Elang harus bisa tampil normal seperti biasa di hadapan Dara. Ia tidak mau kalau Dara sampai tahu apa yang barusan aja terjadi, karena kalau sampai tahu—Dara pasti besar kepala. Elang berjalan dengan santai dan membuka pintu toilet, di hadapannya sudah ada Dara dengan penampilan kumel seraya mengucek mata. Wanita itu menguap lebar tanpa menutup mulutnya, tentu saja hal itu membuat Elang menghindar. "Jorok banget! Nggak tau tata krama!" Elang menyingkirkan tubuh Dara dari hadapannya. "Tunggu," ucap Dara pelan saat ia berhasil mencekal tangan Elang. "Abang kenapa? Kok kudengar jerit-jerit kayak orang kemasukan setan? Sehatnya Bang?" Elang menyentak tangan Dara. "Selain jorok, ceroboh, pemalas, ternyata kamu juga pengin tahu segalanya tentang saya." Elang naik ke atas kasur dan berbaring ke arah kiri. "Urus saja dirimu, tidak perlu ikut campur urusan saya." Dara ikut naik ke atas kasur. Ia menatap punggung belakang Elang dengan tatapan sedih. Ia pikir dengan Mami mengajukan bulan madu untuk mereka, bisa membuat Dara lebih dekat dengan Elang, ternyata tidak. Elang masih membangun benteng besar di antara mereka. Dari belakang punggung Elang, terdengar suara tegukan ludah. Dara memberanikan diri untuk bertanya apa yang sudah terjadi. Ia elus punggung kekar itu penuh kasih sayang. "Bang, suami-istri itu harus saling terbuka. Masalah Abang, ya masalah aku juga, kek gitu sebaliknya." "Ini peringatan terakhir buat kamu, jangan sentuh saya atau kamu saya tampar! Lepaskan tanganmu itu!" Raut wajah Elang merah padam, ia bukan pembenci kaum hawa tetapi ia tidak menyukai kaum hawa yang seperti Dara. Lagipula menurut Elang, Dara sudah kelewat batas. "Jangan pernah buat saya semakin membenci kamu!" Bendungan tangis tidak dapat ditahan. Dara tahu kalau Elang membenci wanita cengeng, tapi air mata bukan pesuruh yang harus dikomandoin dulu. Air mata akan jatuh begitu saja saat hati merasa terluka. Perkataan Elang barusan begitu menusuk, bahkan dari setiap perkataan Elang yang kasar selama ini, kata-kata tadi yang paling menyakitkan hati Dara. Wanita dengan daster merah muda itu membalik tubuhnya memunggungi Elang. Ia tahan sekuat mungkin agar suara tangisnya tidak terdengar oleh Elang, ia tidak mau Elang semakin membencinya padahal Dara belum melakukan sesuatu yang membuat Elang merasa bahagia. Ia sebagai seorang istri merasa gagal. Jadi pura-pura tegar itu nyiksa diri sendiri yah, begini rupanya mencintai seseorang tanpa balasan. -00- KRING!! KRING!! Ketika suara alarm berbunyi, Dara langsung menyingkap selimut dan mematikan sumber suara melengking itu. Ia lihat jam pada ponselnya, waktu sudah menunjukan pukul 05.00 pagi. Seperti kebiasaannya, Dara merenggangkan otot-otot tubuhnya terlebih dahulu. Setelah merasa lebih enakan, ia berjalan keluar kamar tanpa sepengetahuan Elang. Bahkan suara hentakan kakinya tidak terdengar. Satu per satu anak tangga ia turuni, hingga pada di anak tangga terakhir bulu kuduk Dara meremang. Cuaca pagi di daerah Danau Toba benar-benar membuat niat Dara surut, karena cuaca dingin seperti ini sangat pas untuk kembali tidur. "Nggak! Ini pembuktian pertama kalo aku bisa jadi binik yang pande masak!" seru Dara menyemangati diri. Ia lanjutkan langkahnya menuju dapur. Hal pertama Dara menghidupkan lampu dapur terlebih dahulu, lalu ia menyiapkan semua alat dan bahan di atas meja. Pagi yang spesial ini, Dara akan masak nasi goreng dengan toping cumi tepung—kesukaan Elang. Setelah semua alat dan bahan sudah lengkap, kini aksi kedua; Dara membuka video tutorial memasak nasi goreng. Untung saja sewaktu di Jakarta, Dara pernah mendownload video ini. Menurut video, pertama-tama Dara harus mentumis bawang merah, cabe, dan juga daun sop. Ia melakukan hal yang sama seperti yang diperintahkan. Setelah selesai mentumis, Dara memasukkan nasi ke dalam wajan lalu ia gongseng nasi hingga merata dengan tumisan bawang. Dara menekan tombol play kembali dan melihat perintah selanjutnya. Menurut video, langkah berikutnya; Dara menuangkan sedikit cabe giling, garam, dan kecap manis lalu kembali aduk. Hingga akhirnya masakan Nasi Goreng Spesial dengan Cumi Tepung sudah selesai Dara masak. Setelah selesai memasak, ia masukan masakan yang ia buat tadi ke dalam lemari makan. Sembari menunggu Elang bangun tidur, Dara memilih mandi agar Elang tidak mencacinya. Ia naik ke lantai dua secepat mungkin karena waktu sudah menunjukan pukul 06.00 pagi, waktu di mana Elang sebentar lagi akan bangun tidur. Ia buka pintu kamar, ternyata Elang masih tertidur. Langsung saja Dara masuk ke dalam toilet dan mulai membasahi tubuhnya. -00- Setelah ia selesai mandi, ternyata Elang sudah tidak ada di kamar. Pria itu sudah bangun dan memilih mandi di toilet bawah. Dara mengedikkan bahu dan melaksanakan misi berikutnya. Ia mencari pakaian yang pas untuk memulai pagi yang baru. Dara mencoba memakai pakaiannya satu per satu, namun ia merasa tidak ada yang cocok. Hingga pada saat Elang masuk ke dalam kamar dengan lilitan handuk di pinggangnya, membuat gerakan Dara terhenti. Ia tatap pantulan tubuh Elang pada cermin di hadapannya. Ingin rasanya Dara menjadi buliran air yang menempel pada badan Elang. Air saja bisa sedekat itu dengan Elang, tapi Dara tidak bisa. Tanpa sadar Dara menelan ludahnya secara paksa ketika Elang berbalik—hingga Dara dapat melihat wajah pria macho itu. Belum lagi tonjolan pada s**********n Elang, Dara pengin tahu seberapa besar benda itu. Pikiran jorok mulai menjerumus otak Dara. Ia menggeleng tegas, mencoba untuk kembali pada tujuan awal. Dara mengambil asal pakaian yang ada di kasur setelah itu membawanya ke dalam toilet. "Sabar Dar, otak kau kontrol dikit. Hampir aja misi tadi hancur!!" pekik Dara tertahan ketika sudah berada di dalam toilet. -00- Elang sudah duduk dengan rapi di meja makan seraya membaca koran yang dibawakan oleh penjaga villa. Tidak beberapa lama Dara datang membawakan secangkir kopi untuk Elang, lalu disusul dua piring nasi goreng dengan toping cumi tepung yang ia masak tadi pagi. Untung saja sudah Dara panaskan di microwave sebelum dihidangkan. "Nasi goreng spesial dengan toping cumi tepung ala princess Dara!!" ucap Dara dengan girang. Mendengar suara meriah itu, Elang melipat koran yang ia baca, lalu menoleh pada nasi goreng yang sudah dihidangkan. Dari tampilannya terlihat menggugah selera. "Ini kamu yang masak?" Dara mengangguk. "Yakin kamu yang masak?" Dara kembali mengangguk dengan antusias. "Kapan masaknya?" "Tadi pagi sebelum Abang bangun." "Oh." Elang meletakkan koran yang sudah ia lipat di atas meja. "Boleh dimakan?" "Emang buat dimakan Bang, masa diminum," canda Dara mencairkan suasana. Saat suapan pertama sudah meluncur dengan sempurna di dalam mulut Elang, yang ia rasakan seperti makan setumpuk garam bukan nasi goreng. Sontak Elang menyembur nasi yang berada di dalam mulutnya. Sial, semburan itu mengenai Dara yang duduk di hadapannya. Saking rasa garam yang masih terasa aneh di dalam mulutnya, Elang minum kopi yang dibuat Dara namun kembali menyemburnya karena rasa pahit yang luar biasa. Buru-buru Elang bangkit dari kursi dan mengambil minum di dapur. Ia kembali ke meja makan dengan raut wajah kesal. "Kamu mau bunuh saya?" "Emang kenapa, Bang? Nggak enak ya?" Elang berdecih. "Cih! Pakai nanya lagi! Coba kamu rasakan sendiri masakan kamu itu! MASAKAN PALING SAMPAH!" Dara yang baru saja selesai membersihkan sisa nasi yang Elang sembur ke arahnya, menuruti permintaan suaminya. Ia ambil sendok dan merasakan masakannya. Dalam waktu seperkian detik, Dara mengeluarkan nasi itu kembali, nasi goreng yang ia buat benar-benar asin. "Nggak enak, Bang." "Itu kamu tahu!" Elang bersidekap. "Jangan pernah buatin saya masakan apapun. Ini yang pertama sekaligus yang terakhir saya merasakan masakanmu!" "Ta-tapi Bang, nanti aku belajar lagi. Pasti enak kali masakan aku nanti." "Tidak perlu banyak bicara, beresin ini semua terus beresin pakaian kamu juga, karena hari ini kita akan kembali pulang ke Jakarta." "Kan kita tiga hari di sini, kok udah pulang? Masih ada satu ha—" "Sst ... diam. Saya tidak butuh komentar darimu. Lakukan sekarang apa yang saya perintahkan!" "Ta-tap—" "LAKUKAN!" Mendengar suara bentakan itu, membuat Dara mau tidak mau harus menurut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN