61 Zayan tiba tepat waktu di kantor perusahaan utama. Pria itu memilih untuk menunggu di mobil daripada turun dan menghampiri Ivana di ruangan pribadinya. Pria berparas tampan itu sesekali memindai sekitar, mengenang masa-masa dia masih menjadi pegawai magang di tempat itu. Seulas senyuman tercipta di wajahnya yang bercambang tipis. Merasa bersyukur dulu ayahnya bersikeras untuk mempekerjakan anak-anaknya setara dengan karyawan lainnya. Dia dan Berliana juga mendapatkan perlakuan yang sama, tidak diistimewakan. Lamunan Zayan terputus ketika melihat sosok Ivana tengah jalan menuju kendaraan. Eko yang bertugas sebagai sopir dengan gesit membukakan pintu untuk sang nyonya yang masih ngotot untuk dipanggil dengan sebutan Non. "Hai, sorry lama turunnya. Tadi lagi teleponan sama ibu," uja

