#2

1838 Kata
Matahari bersinar cerah. Burung-burung berkicauan. Pagi yang lembap karena hujan badai kemarin. Hae Won tersenyum melihat Sang Jun sudah bangun dan berjalan-jalan mengelilingi Hanggu. Pemuda itu menemukannya dan berjalan ke arahnya. "Selamat pagi," Sang Jun menyapa dengan ramah. "Selamat pagi. Tidur Anda nyenyak semalam? Maaf jika tidak nyaman dengan kondisi Hanggu," Hae Won menunduk sopan. "Kalian ini gemar sekali meminta maaf. Kalian memberikan yang terbaik. Aku yang seharusnya meminta maaf karena merepotkan." Hae Won tersenyum saja mendengarnya. "Terima kasih karena telah membantuku." Hae Won yang masih tersenyum menganggukkan kepala. "Jadi inilah Hanggu?" "Iya." "Sepertinya Agasshi sangat suka tempat ini." "Hanggu adalah hidup saya. Sejak Tuan Jung membawa saya kemari, Hanggu tidak hanya menjadi tempat hidup bagi saya, tapi Hanggu adalah hidup saya. Segalanya bagi saya." "Tuan Jung berhati mulia. Aku merasa beruntung bisa bertemu dengannya." "Saat sampai di desa, Anda akan semakin tahu siapa Tuan Jung dan Hanggu." "Kenapa tidak Agasshi saja yang memberitahuku sekarang?" "Dia itu malas bicara," sahut seorang pemuda menyita perhatian Sang Jun dan Hae Won. Pemuda yang selalu mendampingi Jin Ho itu berjalan mendekat. "Dia, Moon Hak Kun, anak kesayangan Tuan Jung, ayah kami," Hae Won memperkenalkan pemuda yang baru saja bergabung itu. Hak Kun tersenyum pada Sang Jun dan begitu sebaliknya. "Tuan Jung mempunyai banyak anak, itu membuatku bingung," celetuk Sang Jun. "Beliau hanya mempunyai satu anak yaitu Jung Ae Ri Agasshi," Hak Kun menjawab celetukan Sang Jun. "Jadi benar dugaanku," batin Sang Jun. "Anak kandung Tuan Jung adalah Jung Ae Ri Agasshi?" "Iya," Hak Kun membenarkan. "Beliau menyebut semua muridnya sebagai anak." "Begitu rupanya," Sang Jun mengangguk-anggukkan kepala. Hae Won menggelengkan kepala melihat tingkah Hak Kun yang agak canggung di depan Sang Jun. "Kenapa?" bisik Hak Kun. "Kau bodoh, Oppa!" cerca Hae Won. "Eh? Kenapa?" Hae Won kembali menggelengkan kepala, kemudian berjalan pergi. Hak Kun mengejarnya. Sang Jun tersenyum melihat tingkah keduanya. *** Sang Jun dan pelayan pribadinya bersiap pergi melanjutkan perjalanan dan meninggalkan Hanggu. Ia berpamitan pada Jin Ho juga Hae Won. "Kalian sudah siap?" suara Hak Kun mengalihkan perhatian mereka. Ia datang bersama seorang pemuda. Sang Jun mengamati pemuda yang berjalan di samping Hak Kun. Ia merasa asing pada pemuda itu, karena semalam tak melihatnya saat makan bersama. "Hak Kun dan Ae Ri akan mengantar Anda" kata Jin Ho. "Ae Ri??" pekik Sang Jun, membuat pemuda yang berdiri di samping Hak Kun tersenyum. "Itu Jung Ae Ri Eonni," suara Hae Won lirih sambil menuding pemuda yang berdiri di samping Hak Kun. "Saat bertugas ia selalu berpenampilan seperti itu. Berdandan layaknya lelaki," imbuhnya menjelaskan. "Oh!" Sang Jun berdeham dan kembali bersikap wajar. Ia malu karena Ae Ri terlanjur menertawakannya. "Bisa kita berangkat sekarang?" Jin Ho dan Hae Won melepas keberangkatan Ae Ri dan Hak Kun untuk mengantar Sang Jun ke desa. "Kali ini tebakanmu benar lagi. Kadang-kadang aku berpikir apakah kau ini benar-benar memiliki keahlian seorang mudang?" Jin Ho bertanya kepada Hae Won, tapi tatapannya masih tertuju pada rombongan Ae Ri. Hae Won tersenyum. "Abonim yang menemukanku dan membawaku kemari. Harusnya Abonim lebih tahu dariku." "Hah... Saat itu usiamu tiga tahun dan ketika aku bertanya padamu kau hanya menjawab, Namaku Hae Won, Ok Hae Won. Itu saja." Hae Won tersenyum menatap rombongan Ae Ri yang semakin menjauh meninggalkan Hanggu. "Kisah baru akan dimulai." "Apa?" Jin Ho menoleh dan menatap Hae Won. "Aku harus memasak sekarang." Hae Won membungkuk sopan dan berjalan meninggalkan Jin Ho yang masih berdiri di tengah-tengah gerbang Hanggu. *** Ae Ri dan Sang Jun berjalan berdampingan. Di belakangnya berjalan Hak Kun dan pelayan pribadi Sang Jun. Mereka berempat berjalan menyusuri hutan menuju desa Haedochi. Hak Kun terus memerhatikan tingkah Sang Jun dari belakang. Sesekali pemuda itu melirik Ae Ri yang berjalan di samping kirinya. Ia pun teringat pada kejadian pagi tadi ketika ia menghampiri Sang Jun dan Hae Won yang sedang mengobrol. Hae Won memakinya bodoh usai ia membuka kedok Ae Ri. Hak Kun mengejar Hae Won yang pergi begitu saja usai memakinya bodoh. "Ya! Ok Hae Won! Kenapa kau memakiku bodoh di depan Tuan Muda Seo?" buru Hak Kun yang berhasil menghentikan langkah Hae Won dengan menarik lengan gadis itu. "Kau memang pintar dan murid kesayangan Abonim, tapi bagiku kau bodoh!" Hae Won mengulang makiannya. "Bodoh?? Kenapa??" "Membongkar jati diri Ae Ri Eonni sebagai putri tunggal Abonim." "Astaga! Kenapa kau baru menegurku sekarang?" "Aku sudah memberimu kode! Aku mengerjapkan mataku berulang kali tapi kau tak paham!" "Ya ampun! Aku benar-benar bodoh!" Hak Kun memukul kepalanya sendiri. "Bagaimana kalau Tuan Muda Seo adalah musuh kita? Kau memang bodoh Moon Hak Kun!" Hae Won tiba-tiba tergelak melihat tingkah Hak Kun. "Ya! Kenapa kau malah tertawa?" "Mana mungkin aku membawa orang jahat ke sarang kita. Kau memang bodoh Moon Hak Kun!" "Ok Hae Won! Kau membuatku bingung. Tapi banyak orang jahat bertampang polos seperti Tuan Muda Seo. Kau tahu hakim terdahulu dan putranya, kan?" "Hah..." Hae Won menghela napas. "Selain belajar ilmu pedang, seharusnya kau juga belajar ilmu bagaimana meraba perasaan." "Apa??" "Tuan Muda Seo menyukai Ae Ri Eonni. Aku rasa itu cinta pada pandangan pertama. Aku ingin bermain-main dan membuatnya penasaran terlebih dahulu, tapi kau mengacaukan segalanya dengan mengungkap jati diri Eonni." "Ap-apa? Tuan Muda Seo menyukai Nona Besar? Bagaimana bisa? Mereka... mereka baru bertemu pertama kali dan..." "Dan apa? Saat makan malam kau terus mengawasi Tuan Muda Seo. Aku pikir kau juga menyadari gelagatnya." "Gelagatnya? Gelagat apa?" "Astaga! Kau ini benar-benar! Lalu kenapa kau terus menatapnya?" "Aku hanya penasaran. Masa iya orang semuda itu akan menjadi hakim di Haedochi?" "Dia lebih tua darimu! Kau saja yang terlihat lebih tua dari usiamu yang sebenarnya!" Hak Kun menggelengkan kepala. "Masa iya Tuan Muda ini menyukai Nona Besar?" gumamnya lirih. "Kenapa?" tanya pelayan pribadi Sang Jun yang berjalan di sampingnya. "Ah tidak!" Hak Kun tersenyum canggung. Ae Ri tiba-tiba menghentikan langkah membuat Sang Jun, Hak Kun dan pelayan pribadi Sang Jun turut menghentikan langkah. "Agasshi, ada apa?" tanya Hak Kun. "Kita diawasi! Apa kau tidak merasakannya?" Ae Ri dengan sikap siaga mengamati sekitarnya. "Iya??" Hak Kun turut was-was. Siaga mengamati sekitar. Di dalam hati ia memaki dirinya sendiri yang terus memikirkan ucapan Hae Won hingga berjalan dengan pikiran kosong dan tak menyadari bahaya telah mengintai mereka. "Lindungi Tuan Muda!" perintah Ae Ri yang segera berdiri di depan Sang Jun. Hak Kun turut merapat untuk melindungi Sang Jun, begitu juga pelayan pribadi Sang Jun. Posisi ketiganya mengunci Sang Jun di tengah-tengah. Mereka siaga mengamati sekitar. Tak perlu menunggu lama. Gerombolan pria berbaju hitam dan bercadar dengan warna senada muncul mengepung mereka. Sang Jun terkejut juga takjub pada ketelitian Ae Ri. "Mereka siapa?" tanya Sang Jun. "Entahlah. Yang pasti bukan penjarah hutan," jawab Ae Ri. "Dari dandanannya aku yakin mereka pembunuh bayaran," Hak Kun ikut menjawab. "Aku setuju denganmu." Ae Ri menyetujui pendapat Hak Kun. "Pem-pembunuh bayaran?? Untuk membunuh siapa??" tanya pelayan pribadi Sang Jun. Ia gemetaran. "Calon hakim baru. Kau bisa bela diri?" tanya Hak Kun pada pelayan pribadi Sang Jun. "Bib-bisa!" "Jangan takut. Anggap saja ini latihan." Hak Kun menenangkan. Pelayan pribadi Sang Jun menganggukkan kepala. Pimpinan dari gerombolan pria berbaju dan bercadar hitam memberi isyarat. Anak buahnya mulai maju dan menyerang kelompok Ae Ri. Pertarungan pun dimulai. Ae Ri, Hak Kun dan pelayan pribadi Sang Jun bertarung melawan kelompok bercadar yang tiba-tiba menghadang dan menyerang mereka. Jumlah mereka lebih banyak hingga membuat ketiganya sedikit kuwalahan. Sang Jun yang bisa ilmu bela diri namun tak terlalu mahir pun ikut melakukan perlawanan. "Doryeonnim!" Ae Ri berteriak ketika melihat Sang Jun akan diserang dari belakang. Dengan gerakan cepat Ae Ri berhasil menghalau serangan yang hampir melukai Sang Jun. Namun ia sedikit lalai hingga salah satu pria bercadar berhasil menghunuskan pedang ke bahunya. "Aak!" pekik Ae Ri menahan sakit ketika ujung pedang menancapkan di bahunya. "Agasshi!" teriak Sang Jun yang segera menangkap tubuh Ae Ri. Ia panik melihat darah segar mengucur deras dari luka di bahu Ae Ri. "Agasshi! Kau tidak apa-apa?" Tanya Hak Kun yang berhasil mendekati Ae Ri dan Sang Jun. "Ag-agasshi berdarah," kata pelayan pribadi Sang Jun yang berdiri di samping Hak Kun. Di depan keduanya kelompok pria bercadar mulai berjalan mendekat. "Doryoennim, bawa Agasshi pergi dari sini," pinta Hak Kun pada Sang Jun. "Bawa Agasshi kembali ke Hanggu. Hae Won bisa menyembuhkan lukanya." "Ak-aku baik-baik saja..." Ae Ri sedikit terbata sambil menahan sakit. "Ayo!" Sang Jun membantu Ae Ri berdiri. Ia memapah Ae Ri sambil berjalan pelan meninggalkan Hak Kun dan pelayannya. "Kau bisa menghadapi mereka?" tanya Hak Kun pada pelayan pribadi Sang Jun. Pemuda itu mengangguk yakin tanda siap untuk kembali bertarung. Pertarungan kembali terjadi. Hak Kun dan pelayan pribadi Sang Jun berusaha menghalau, namun karena jumlah tak imbang, beberapa orang dari kelompok pria bercadar berhasil mengejar Ae Ri dan Sang Jun. Ae Ri dan Sang Jun beradu punggung. Beberapa pria berbaju dan bercadar hitam mengepung mereka. Ae Ri mengabaikan lukanya dan mengangkat pedang. Ia siap untuk kembali bertarung. Walau terluka Ae Ri tetap bertarung melawan penjahat yang menghadangnya dengan sigap. Sang Jun pun turut bertarung dengan kemampuan bela dirinya yang pas-pasan. Ae Ri berhasil menghalau seorang pria bercadar yang hampir melukai Sang Jun dengan pedangnya. Ia jatuh berlutut di depan Sang Jun dan menggunakan pedang sebagai penopang tubuhnya. Luka di bahunya mengeluarkan cukup banyak darah. Itu yang membuatnya semakin lemah. Satu orang pria bercadar maju ke depan dan hendak menyerang Ae Ri. Sang Jun menghalaunya dengan tongkat kayu yang ia temukan. Pedang tajam pria bercadar itu berhasil memotong separuh dari tongkat kayu yang digunakan Sang Jun. Tubuh Sang Jun gemetar. Ia melirik Ae Ri yang berlutut di belakangnya. Wajah gadis itu pucat dan semakin lemah. Ia tak bisa berpikir jernih. Di benaknya muncul pertanyaan, apakah perjalanannya menuju desa Haedochi akan berakhir seperti ini? Berakhir dengan kematian dengan cara mengerikan bersama gadis yang ia sukai? Sang Jun merasa kerdil dan bodoh. Sejenak ia menyesal karena selalu malas jika harus berlatih ilmu beladiri. Kini ia benar-benar merasa sebagai pria tak berguna. Sang Jun menggenggam erat tongkat kayu di tangannya. Ia bertekad untuk melindungi Ae Ri dengan sisa tenaga dan kemampuannya. Pria bercadar yang tak jauh di depan Sang Jun mulai bergerak. Ia mengangkat pedangnya bersiap menyerang Sang Jun. Sadar dirinya akan diserang, Sang Jun pun mengangkat kedua tangannya yang memegang tongkat kayu. Setidaknya itu akan berhasil. Namun ia tak merasakan apa-apa. Tak ada sentuhan atau tabrakan yang ia rasakan pada tongkat kayunya yang terangkat. Sang Jun membuka kedua matanya yang sempat terpejam ketika ia menaikan kedua tangannya untuk menghalau serangan musuh. Ia terbelalak melihat pria yang hendak menyerangnya sudah terkapar tak bernyawa dengan anak panah menancap di dadanya. Sang Jun menurunkan tangannya dan bingung melihat satu per satu pria bercadar hitam yang mengepungnya jatuh usai anak panah menyerang tubuh mereka. Sadar mendapat pertolongan, Sang Jun segera beralih posisi menghadap Ae Ri. Betapa terkejutnya ia melihat gadis itu sudah jatuh tak sadarkan diri. "Agasshi! Agasshi!" panggil Sang Jun sambil menggoyang tubuh Ae Ri. Karena tak ada respon, Sang Jun pun menggendong Ae Ri di punggungnya. "Bertahanlah Agasshi!" bisiknya yang kemudian segera berlari menuju Hanggu. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN