Daniella menarik napas panjang. Pikirannya kalut. Ia muak dengan Aslan yang mengabaikannya serta ia juga lebih muak lagi dengan tuntutan mertuanya yang menginginkan keturunan. Jika Aslan sendiri tidak mau menyentuhnya, ya bagaimana juga ia bisa memberikan seorang keturunan?? Makanya, ia akan dan sedang mencari 'bantuan' lain. Itu pun karena hardikan Aslan, yang dengan sembarangan sekali menyuruhnya untuk mencari 'si penanam benih' sendiri. Dengan mengumpulkan segenap keberaniannya, Daniella berdiri, melangkah menuju sudut bar yang tersembunyi oleh pilar marmer. Di sana, seorang pria duduk dengan punggung tegak, menyesap minuman beraroma alkoholnya dengan tenang. Aura pria itu terasa sangat dominan, dewasa, dingin, namun entah mengapa terasa familiar juga. "Stranger?" panggil Daniella de
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


