Robin menggosok matanya. Mencoba untuk memperjelas, kenyataan yang masih seperti mimpi ini. "Ini benar kamu??? Bukannya kamu sudah...," Lidah Robin kelu. Daripada banyak berkata-kata. Lebih baik ia pastikan langsung saja kebenarannya. Tangan kanan Rainer terulur. Ia mencoba untuk menyentuh bahu Senna dan terasa begitu nyata di telapak tangannya. Tangan Robin menjalar ke atas dan menyentuh pipi Senna. Begitu hidup dan tidak dapat ia ragukan lagi. Ini Senna, ibu dari putranya, yang entah bagaimana caranya, bisa berdiri di hadapannya sekarang. "Tapi, bagaimana bisa??? Dokter Andreas sendiri yang mengatakan, bila kamu mendonorkan hatimu bukan? Dia bilang, kamu kehabisan banyak darah dan kamu tidak selamat! Bahkan, abu mu saja tersimpan dalam guci di kamarku!" cecar Robin bertubi-tubi. "Apa

