Seorang pria tampak begitu kusut bersender pada kursi kerjanya. Dasinya yang semula rapi kini telah acak-acakan, kendur di bagian atas. Dua kancing kemejanya bagian atas terbuka. Rambutnya tak kalah kusut dari wajahnya, bahkan bisa dibilang kalau dia benar-benar berantakan. "Huft!" Pria itu membuang nafas kasar. Jari-jarinya kini sedang sibuk memijit pelipisnya. "Apa seharian ini kamu tidak bisa menghubungi manajernya?!" Setiap kata dia ucapkan penuh penekanan. Rahangnya mengatup menahan kemarahan. Satu pria lagi yang berada di ruangan itu hanya menggeleng. Sebenarnya hal ini adalah tanggung jawab bagian marketing, tapi kenapa dia yang jadi sasaran? Tapi, lebih baik dia diam ketimbang kena omel lebih banyak lagi. Seharian ini dia sudah sangat puas mendapat ceramah dari bos-nya itu. "Fa

