Rafan masuk ke dalam rumah, mengamati Luna yang sedang membuka rantang, menghirup kumpulan asap yang keluar dari sop ayam yang masih panas itu. Di sana ada Elang yang duduk di samping Luna. Sepertinya laki-laki itu siap untuk mencurahkan segala perhatiannya untuk Luna. Ah, itu tak bisa dibiarkan begitu saja. Dengan langkah pasti Rafan mendekat, menarik sendok yang disodorkan Elang kepada Luna. Secara paksa, Rafan mendorong Elang kemudian menggantikan posisi duduk di samping Luna. “CK!” Elang pindah duduk di samping kiri. Dan kini giliran kaki panjang Rafan yang bertindak—menendang Elang sampai terjungkal ke belakang. “Loh, Elang. Kamu kenapa?” Luna hendak bangun tapi tangan kekar Rafan mencekal untuk tetap duduk. “Fanfan, lepasin gue!” Luna menarik tangannya tapi genggaman itu sangat k

