Terlihat begitu cekatan dalam mengurus Luna, semalaman Rafan rela begadang hanya demi mengompres agar suhu tubuh sang istri lekas turun. Tapi kantuk tetaplah kantuk yang tak bisa dihindari meskipun sudah menopang dengan plaster. Terus menguap sampai akhirnya Rafan tumbang di sisi Luna, dengan wajah yang ditelungkupkan di atas tangan yang dilipat menahan kening. Entah berapa lama, cahaya di luar yang menembus jendela kaca dengan gorden yang terbuka sedikit membuat kedua kelopak mata Luna berkedut. Perlahan dia membukakan matanya, ketika hendak bergerak tiba-tiba dia menyentuh sesuatu dan segera menoleh. “Fanfan,” lirihnya kaget sekaligus senang. Dikira hanya mimpi, tak disangka itu kenyataan yang sangat indah. “Tapi kayaknya mimpi deh.” Dicubit pipinya dan terasa sakit. Luna memegang da

