"Fanfan, mana kucingnya?" Begitu Rafan pulang kerja, Luna langsung menagih janji. Kucing yang gemas yang sudah diimpikan sejak kemarin sore. Wajah semringah, tangan ditadahkan pada Rafan, masih menanti kucing meskipun dia menyadari Rafan hanya menenteng paper bag saja. Rafan melewati Luna, duduk dengan santai di sofa setelah meletakkan paler bag di atas meja. "Fanfan, mana?" Luna mendekat, duduk di samping Rafan dengan menaruh harapan besar. "Itu." Luna mengikuti lirikan mata Rafan. Diambil paper bag dengan sangat antusias, dia mengintip isinya. Kemudian zonk! Sepasang matanya melebar saat mengeluarkan tiga ekor kucing. Ah tidak, ini kucing tak bernyawa, alias boneka. "Fanfan, kenapa jadi boneka kucing sih?" Jelas Luna protes, dia ingin kucing hidup bukan mati. "Iihh, lo gak sesuai

