Putus

1260 Kata
Ketika bercermin pagi itu, Kirana merasa iba pada sosok pucat di hadapannya. Seperti burung, sayapnya yang patah di hari orang tuanya tiada, kembali terluka parah akibat keputusan melepaskan Ardana. Padahal, lelaki ituIah yang membuatnya kuat berjuang dan menjalani hidup sebatang kara. Sepanjang hari, ia limbung. Dua mata kuliah yang diikuti, hampir tak ada yang melekat di otaknya. Dia tergagap ketika dosen melemparkan pertanyaan kepadanya. Semua mata jadi menatap heran karena mahasiswa dengan indeks prestasi nyaris sempurna ternyata bisa juga tidak mengerti paparan pengajar. “Bodoh banget kamu, Kirana!” makinya dalam hati. “Fokus! Kamu harus fokus!” Meski sudah bertekad, tetap saja ia tidak bisa memusatkan pikiran. Kata-kata Gayatri bergantian dengan bayangan Ardana menguasai benak, mengoyak ketenangannya. Saat siang, ia tiba di kedai kopi melalui pintu karyawan dengan langkah gontai dan wajah muram. Ketika membuka pintu loker di ruang ganti, ia tertegun. Goodie bag berisi syal rajutan untuk Ardana langsung tertangkap penglihatannya. Ia tidak jadi memberikannya pada lelaki itu. “Kirana! Cepat ganti bajumu!” seru seorang lelaki dari balik pintu. Dia adalah Ferdi, supervisornya. Teriakan itu menyadarkannya. Cepat ia menukar pakaian dengan seragam kedai. Tak lupa dipoles wajahnya agar tidak terlalu pucat. Sampai di meja konter, Ferdi menunjuk sebuah ke sudut. “Pacarmu itu, sudah dua jam nungguin kamu.” Pacar? Kirana menengok ke arah yang dimaksud. Seketika, jantungnya tersentak. Tubuhnya membeku. Ardana yang sedang menekuni layar laptop, belum melihatnya. Kirana menguatkan diri untuk menghampiri. “Hai, Kak.” Suara Kirana hampir tak terdengar. Ardana mengangkat wajahnya. Matanya dalam menatap Kirana. “Mau tambah minum?” Kirana menunjuk gelas Ardana yang sudah kosong. Ia bertanya dengan nada formal seakan dia sedang berbicara dengan pelanggan biasa. “Aku mau kamu duduk, dan jelaskan maksud juga alasan pesanmu semalam!” jawab Ardana. Suara dan raut muka Ardana yang begitu dingin, membuat Kirana ciut. Belum pernah Ardana bersikap demikian kepadanya. “Aku harus kerja, Kak.” Kirana menoleh ke meja konter. Tak enak hati pada Ferdi yang sedang memeriksa buku catatan. “Aku tunggu di sini sampai kamu selesai,” tegas Ardana. “Tapi 4 jam lagi baru aku selesai. Masih lama.” Kirana keberatan. “Nggak masalah.” Ardana terus menatap gadis yang resah di hadapannya. Kirana menghela nafas panjang. Dia paham lelaki ini bisa menjadi sangat teguh dan keras kepala jika sudah menginginkan sesuatu. Percuma membantahnya. “Ya, sudah.” Kirana mengalah. “Aku pesan kentang goreng, dimsum, dan air mineral. Kalau kamu lihat makanan dan minumku habis, ambilkan lagi!” pinta Ardana seraya kembali memalingkan pandangan ke laptopnya. “Oke,” lirih Kirana, sebelum meninggalkan lelaki itu. Walau kemudian kedai ramai, perhatian Kirana terpecah pada Ardana. Lelaki itu tidak melulu sendirian. Beberapa temannya yang bergantian datang ke kedai, memilih duduk menemaninya. Setelah empat jam berlalu, karyawan shift berikutnya datang menggantikan. Kirana ke ruang ganti mengambil hadiah untuk Ardana. Dipikirnya, saat ini adalah waktu yang tepat untuk menyerahkannya. “Kerjamu sudah selesai?” tanya Ardana begitu melihat Kirana mendekatinya. Ia sudah duduk sendirian kembali. “Sudah.” Kirana meletakkan tas karton berwarna hitam berikat pita putih di atas meja Ardana. “Ini untuk Kakak.” “Apa itu?” tanya Ardana sambil memberikan isyarat agar Kirana duduk di depannya. “Hadiah.” Perlahan, Kirana meletakkan tubuhnya di kursi berjok tipis. “Hadiah apa?” Ardana mengambil tas itu, membuka dan melihatnya sejenak, lalu memasukkannya kembali. “Hmmm … hadiah wisuda juga sekaligus hadiah ….” Kirana menjeda kalimatnya. “Perpisahan?” sela Ardana. Kirana menunduk. Sebenarnya ia sengaja merajut syal itu untuk dikenakan Ardana saat musim dingin di Inggris, sekaligus sebagai pengingat dirinya. “Coba kamu jelaskan kenapa kamu nggak jadi datang semalam! Kenapa juga tiba-tiba kamu minta pisah dan nyuruh aku lupain kamu?” Ardana mulai mencecarnya. “Kak, bisa kita omongin ini di tempat lain saja?” mohon Kirana. Biarpun mereka berbicara pelan dan kedai juga tak ramai pengunjungnya lagi, ia merasa tak nyaman. Beberapa orang dari mereka adalah teman satu fakultasnya. “Di sini saja.” Ardana menolak. Kirana meremas tangannya. Otaknya berputar mencari kata-kata yang tepat. Ekspresi menakutkan Gayatri saat mengancam terbayang jelas. “Apa kamu jatuh cinta sama lelaki lain?” Ardana menautkan jari-jarinya. “Nggak!” sangkal Kirana cepat. “Aku tahu, banyak lelaki di kampus ini yang naksir kamu,” ujar Ardana. “Jumlah mereka kalah banyak dibanding perempuan-perempuan yang naksir dan ngejar-ngejar Kakak,” balas Kirana. Matanya melirik ke arah sejumlah pengunjung wanita di sudut. Ia tahu di antara mereka ada yang menjadi pemuja Ardana. Ardana mengikuti arah pandangan Kirana. “Tapi, aku sudah memilih kamu dan aku nggak main-main dengan komitmenku!” Kirana tahu itu. Ardana memang tipe lelaki setia. “Kamu sudah bosan sama aku?” telisik Ardana. “Nggak.” Walau mulai sebal dengan selidik Ardana, Kirana mencoba bertahan. “Terus apa?” Ardana jadi geram sebab Kirana begitu sulit mengungkapkan isi hatinya. “Seperti yang sudah aku bilang di pesan kemarin. Karena Kakak mau pergi jauh dan lama, jadi sebaiknya kita akhiri saja.” Kirana menjawab parau. “Itu bukan alasan. Sudah lama kamu tahu kalau aku akan lanjutin kuliah ke Inggris. Kamu nggak pernah keberatan sebelumnya. Lagian nggak lama juga. Paling lama dua tahun.” Ardana mengingatkan. “Kayaknya aku nggak bakal kuat LDR-an.” Kirana berkilah. Wajah geram Ardana memerah. Tampak jelas ia menahan emosinya meluap. “Kamu dulu mendukung aku ambil S2, sembari kamu menyelesaikan S1. Kamu juga dulu meyakinkan aku kalau kita bisa berhubungan jarak jauh. Sekarang kenapa berubah dan bahkan menjadikan itu alasan untuk mengakhiri semuanya?!” Suara Ardana meninggi. Tubuh Kirana menggigil. Dadanya nyeri karena ia sesungguhnya tidak ingin semuanya berakhir. “Sumpah aku bingung banget sama kamu. Kukira kamu perempuan yang pengertian, penuh simpati dan empati, tapi kamu minta kita bubar di hari bahagia aku. Kamu memang super tega dan jahat!” kecam Ardana. Ingin ia mengungkapkan berbagai perasaan yang berkecamuk di hatinya, seperti kala ia biasa bercerita tentang apapun. Namun, ia tak mampu. “Terserah Kakak mau nilai aku apa. Yang jelas, aku nggak bisa melanjutkan hubungan ini. Aku cuma bisa minta maaf sebesar-besarnya karena sudah bikin kecewa,” ujar Kirana. “Apakah kamu sudah nggak cinta lagi sama aku?” tanya Ardana. Mulut Kirana terkatup rapat. Namun, suara jiwanya berteriak, “aku selamanya cinta tahu!” Kediaman Kirana disalahartikan oleh Ardana. Lelaki itu menarik nafas panjang. “Oke … aku ambil kesimpulan kamu sudah nggak punya perasaan itu lagi … atau mungkin dari sejak awal kamu memang nggak pernah mencintai aku.” Ardana menatap Kirana dalam. “Jadi … kita putus.” Biarpun Kirana yang lebih dulu mengutarakan perpisahan, ucapan putus dari Ardana menikamnya. Sejenak ia merasa nyawanya terbang menjauh. Pandangan matanya mengabur. Ardana membenahi barang-barangnya ke dalam tas ranselnya, kemudian berdiri. Meskipun gerakannya tenang, tapi mukanya gusar. Dengan menahan air mata, Kirana menyodorkan tas hadiahnya. Suara di batinnya berharap Ardana menerimanya. Lelaki itu mengambil dan memegangnya beberapa detik, kemudian melemparkan dengan gerakan kasar, kembali ke atas meja. “Aku nggak butuh hadiah dari kamu!” serunya. Tindakan Ardana tersebut serupa sembilu yang menggoreskan luka tajam di hati Kirana. Perih sekali. “Kamu tahu nggak … aku sebenarnya berencana melamar kamu kemarin malam,” ucap Ardana sebelum melangkah pergi. Sembilu itu, menggores lukanya lagi semakin dalam. Mata Kirana panas. Hatinya yang terluka tak mampu membendung rasa sakit yang tak terkira. Egonya, tidak menerima keputusan otaknya. Dia pun bangkit berdiri dan memanggil Ardana. “Kak ….” Ardana menghentikan langkah dan menoleh. Kirana menatap dengan bibir bergetar ingin menyampaikan yang sesungguhnya. Namun, bayangan Gayatri menari-nari di benaknya. Ia cuma bisa meggelengkan kepala, sambil menahan air matanya agar tidak jatuh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN