Andai saja aku tak terlahir dengan kemampuan ini mungkin akan sangat menyenangkan. Apakah kalian tahu jika gadis yang kutemui tadi pagi kini ada di kamar mandi? Apa dia penghuni kamar mandi? Ah entahlah yang penting itu sangat mengganggu mata ini.
"Aku tahu kamu bisa melihatku. Selama beberapa tahun tak ada yang bisa merasakan keberadaanku," ujarnya dengan senyuman. Ingat bukan senyuman manis ala manusia nyata.
Dia cantik jika dia itu manusia, tetapi sayangnya kulit pucatnya malah menambah kesan yang menakutkan apalagi ada luka lebar di sudut bibirnya.
"Sudah berapa lama kamu di sini?"
Ingatlah! Aku bertanya bukan memakai bibir melainkan suara hati. Jika aku bicara layaknya manusia nanti dipikir gila. Benar, bukan? Aku tidak mau dianggap gila, sudah cukup ada yang mengatakan. Dulu sekali sebelum aku pindah.
"Aku meninggal di tahun 1915. Kamu hitung saja sendiri."
Hantu kurang ajar. Dia menyuruhku untuk menghitung usia kematiannya. Memangnya aku ini temannya?
"Ini rumahmu dulu?" tanyaku lagi yang membuatku penasaran.
Biasanya hantu yang tinggal lama di suatu tempat itu menandakan jika dia pernah ada di sini atau meninggal di tempat ini.
"Dulunya ini tempat pemukiman warga. Karena suatu hal akhirnya dijadikan rumah sakit kemudian jadi sekolah hingga sekarang."
Rumah sakit? Pantasan hantu-hantu di sini kebanyakan perawat dan pasien dengan pakaian yang di era jaman dulu. Di pintu gerbang saja ada seorang suster sedang duduk dengan berlumuran darah.
"Kau tak mau pergi? Tempatmu bukan di sini." Aku sengaja mengusirnya.
"Itu bukan urusanmu. Aku suka tinggal di tempat ini dan bukankah kita sama?"
Aku mendelikkan mata dan tanpa sadar aku bicara melalui bibir. Enak saja dia mengatakan jika dirinya sama denganku.
"Kau dan aku itu tak sama. Kita berbeda dalam segala hal."
Sumpah deh ... baru kali ini aku menemui hantu mulutnya ember sekali. Aku mendengkus kesal dan segera berlalu darinya.
*****
Di dadaku rasanya sesak sekali menahan emosi atas ucapannya. Aku ini manusia bukan hantu. Dia saja yang tidak bisa membedakan manusia dan hantu.
"Kalau jalan itu lihat ke depan. Bukan ke belakang!" bentak seseorang ketika kami bertabrakan.
"Memangnya kenapa?" Aku membalasnya dengan bentakan juga.
"Mata itu dipakai untuk melihat jalan. Bukannya menoleh ke belakang sambil mengoceh tak jelas!"
Aku berdiri seraya mengusap kening yang terbentur. Sakitnya bukan main.
"Ini mataku. Ya seenaknya aku mau dipakai untuk apa." Aku sewot mendengarnya.
"Dasar cewek aneh. Bicara sendiri di kamar mandi seperti orang gila," sindirnya tajam dan matanya memandangku tidak suka.
Ingin rasanya kutonjok mukanya, tetapi aku ingat perkataan Ibu agar tidak mencari masalah di sekolah. Kutinggalkan pemuda itu yang masih mendumel.
Karena tidak ada pelajaran apapun akhirnya wali kelas memulangkan kami awal. Aku menghela napas lega dan senang.
"Lean, katakan kepada ibu. Aku pulang agak sore." Lois datang ke kelasku hanya untuk memberitahu yang tidak penting. Ia bisa mengirim pesan melalui ponsel.
"Terserah kamu saja." Aku tak ambil pusing dirinya mau pulang atau tidak. Ia bukan anak-anak lagi.
Aile sudah meninggalkan kelas sejak tadi karena ada latihan balet. Kuraih tas dan berjalan cepat agar gadis itu tak mengikutiku. Namun, tetap saja dia mengikuti hingga sampai gerbang.
"Namaku Coraline. Ya ... walau aku tahu kamu pasti tak suka dengan kehadiranku." Akhirnya dia sadar.
Dia melayang sambil mengoceh di sampingku. Aku sengaja tak mengajaknya bicara.
"Kuharap kau mau berteman denganku, Lean. Kurasa kita cocok jadi teman."
Aku berhenti sejenak, menatapnya tak suka dan menyuruhnya diam.
"Pergilah Coraline! Aku ingin pul---."
Seketika perkataanku terpotong karena pemuda yang menabrakku tadi terlihat bingung dengan keadaan ini. Tentu saja pemuda yang tidak kuketahui namanya tidak bisa melihat Coraline.
"Kamu bicara dengan siapa?" Ia melihatku dengan tatapan aneh.
"Kamu tak perlu tahu," jawabku ketus seraya meninggalkan pemuda tersebut.
Coraline sangat mengganggu hari ini. Dia selalu ingin tahu tentangku. Apa saja dia tanyakan dan selalu kuacuhkan.
"Sampai jumpa esok, Lean."
Suara cemprengnya terdengar tak enak di telingaku. Aku hanya bisa mengusap d**a. Di rumah lebih nyaman daripada di sini.
*****
"Bagaimana harimu di sekolah, Nak?"
Ibu menyambutku di depan pintu. Itu kebiasaan di keluarga kami. Ayah dan Ibu menekankan saling menghormati dan saling terbuka tentang kegiatan yang kami jalani.
"Tidak baik sama sekali," jawabku sambil merapikan sepatu lalu mencuci tangan sambil makan pie di meja makan.
"Ada mereka yang mengganggumu, ya?" tanya Ibu dengan bercanda.
Aku menggangguk lesu. Ini bukan pertama kalinya aku diganggu mereka. Beberapa kali pindah sekolah selalu begitu.
"Ibu rasa kau harus membiasakan diri mulai sekarang, Nak. Kita tak bisa pindah lagi."
"Iya Bu. Aku tahu kok."
"Di mana adikmu?"
"Biasa, Bu. Anak itu sibuk dengan teman barunya," sahutku dari anak tangga.
"Lean, setelah ini ibu minta tolong antarkan kue pai di tetangga sebelah," teriak Ibu dari bawah.
Aku hanya mengacungkan jempol dari atas. Ibu paham artinya.
Memang benar ternyata tempat ternyaman adalah di kasur. Kamu tidak usah memikirkan hal lain selain tidur.
"Dik, kamu punya gunting?"
Jika bukan mencari barang, Henzie tak akan ke kamarku. Dia orang yang diam, tetapi perhatian.
"Ada di dalam nakas, Zie."
"Apa senang dengan sekolahmu yang ini?" tanyanya sambil mencari gunting.
"Ya seperti yang biasanya. Tidak ada hal yang menyenangkan, sih." Aku menjawab seraya mengambilkan gunting yang sedari tadi tidak ia temukan.
"Terima kasih, Dik." Menoleh kepadaku sebelum menutup pintu kamar, "kuharap dirimu mendapatkan teman yang memahami kondisimu."
Aku membalasnya dengan senyuman. Apa aku bilang? Ia sebenarnya perhatian, tetapi dengan caranya sendiri. Oh, ya aku hampir melupakan sesuatu.
"Lean, cepatlah, Nak! Katanya kau mau mengantarkan pai ini?"
Aku bergegas turun sebelum Ibu mengadu kelakuanku pada Ayah.
*****
Rupanya tetangga yang dimaksud ibu ialah si pemuda yang satu sekolah denganku.
"Ada apa kamu ke sini?"
"Aku hanya mau mengantarkan pai buatan ibuku."
"Tidak usah---"
Untunglah perkataannya terpotong ketika wanita paruh baya menyambutku dengan hangat.
"Ternyata anak tetangga sebelah, ya? Ayo sini masuk."
"Tidak usah Nyonya. Saya hanya mengantarkan ini saja. Saya harap kalian menyukainya," ujarku menyerahkan pai kepadanya.
Nyonya Narve ternyata orang yang ramah. Beda dengan anaknya yang terasa tak menyukaiku.
"Ini Anson. Kau pasti Leanne, bukan?"
Aku menggangguk saja sedangkan anaknya hanya menatapku tajam. Memangnya ada yang salah denganku?
"Dia memang begitu, Lean. Tak mudah akrab dengan siapapun."
Nyonya Narve mengetahui isi pikiranku. Ia mengelus rambut sang anak dengan bercanda. Aku berpamitan pulang karena tak betah berlama di rumah Anson. Entah mengapa ada sepasang mata yang mengawasiku dari dalam.
"Saya pamit dulu, Nyonya Narve."
"Terima kasih pai-nya, Nona Manis."
Aku diam sejenak sebelum masuk rumah dan menghirup napas panjang. Kakiku gemetar hebat merasakan sensasi aneh di rumah Anson tadi. Makhluk apa tadi? Mengapa aku tak bisa melihatnya? Tubuhku ambruk sebelum meraih gagang pintu dan hanya terdengar teriakan Lois.
Makhluk apa yang dilihat Leanne?
Apa Anson tahu jika Leanne memiliki kemampuan tak biasa?
Nantikan jawabannya di part selanjutnya.
Part selanjutnya "Aku Berbeda."