Chapter 55

565 Kata

Saat ini, jika mengingat peristiwa itu, tidak jarang seorang Nalendra Al Ghifari membodoh bodohi dirinya sendiri. Menganggap bahwa Ale di masa lalu tidak punya pikiran yang panjang. Oleh karena itu, ketika Ajeng mengucapkan serentetan kalimat menyakitkan itu, dia tidak berlarut larut dalam kesedihan. Dia memang sedih. Patah hati. Akan tetapi, masa lalu telah mengajarkan hal banyak kepadanya. Tidak ada yang melarang siapa pun untuk bersedih, tetapi dirinya harus tetap berpikir rasional. Dia tak ingin jatuh ke lubang yang sama: menyakiti diri sendiri karena patah hati. Daripada merasakan hati yang sedang patah, Ale lebih penasaran kenapa dirinya bisa sesedih ini? Padahal, ini bukan kali pertama Ajeng mengatakan hal hal menusuk yang kalau dikalkulasi, sanggup membuat hatinya remuk. Apak

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN