Tangisnya tertahan saat ponsel di tasnya berdering. Beruntung, hanya ada dirinya dan penjaga perpustakaan, sehingga tidak ada yang merasa terganggu dengan dering ponsel yang lupa dia ubah menjadi mode getar. Ilham menelepon. Awalnya, dia ragu untuk menjawab. Akan tetapi, dia sudah berniat untuk tidak bermusuhan dengan mantan pacarnya itu. Jadi, cewek itu bergegas keluar, dan merespons panggilan tersebut. “Halo,” sapa Ajeng. “Ada apa, Ham?” “Halo, Jeng.” Ilham terdengar menghela napas dalam-dalam. “Aku di belakang gedung B. Ada yang mau aku bicarain. Kamu bisa temuin aku sebentar?” Ajeng mengerutkan dahi. Memikirkan apakah dirinya harus bersedia atau biarkan saja Ilham pergi tanpa bertemu dirinya. Jika pergi, cewek itu takut Ale nanti salah paham. Namun, kalau tidak pergi, dia penasaran

