Jujur, Rita dan Naura terbiasa dengan sifat Ajeng yang lebih sering menyembunyikan masalahnya. Mereka sungguh terbiasa, karena bagaimana pun, sahabat mereka itu, Nilakandi Ajeng Kiani, lambat laun pasti bercerita. Selama belum bercerita, Ajeng tetap berhubungan dengan keduanya. Kali ini, tidak sama sekali. Seolah olah mereka berdua mempunyai salah yang besar, yang membuat Ajeng bersikap seperti itu. "Ketuk aja, Ta." Naura berujar sambil merapikan rambutnya. "Gampang ngetuk doang mah. Lo yang ngomong, ya?" respons Rita. Naura mendelik. "Lo aja, lah. Siapa tahu, yang bukain pintu mas Wira." Celetukan Naura berhasil membuat Rita berdecak kesal. "Emang kenape kalau yang bukain mas Wira, hah?" Naura terpingkal pingkal, tertawa tanpa suara. Menggoda Rita dengan mengingatkannya tentang masa

