I thought it was done

1354 Kata
  No matter how much we suffer or how much we were hurt, we always have troubles letting go of our relationship.   Ballroom Grand Hyatt Hotel Jakarta disulap begitu cantik dan megah. Nuansa warna merah muda dan silver mendominasi ruangan, memberikan kesan bahwa pernikahan ini dipenuhi oleh kehangatan cinta nan kokoh dari dua manusia yang sedang dimabuk asmara. Tanaman hias turut ambil andil mendominasi ballroom, membuat para tamu undangan seperti sedang di dalam taman yang asri. Berbagai bunga terangkai indah di selingi dengan lampu lampu kecil berwarna warm white, sementara lampu utama ballrom sengaja dibuat redup, memberikan kesan intim yang sempurna.  Begitulah setidaknya menurut pandangan Ken ketika pertama kali menapakan kakinya di acara pernikahan Adam, mantan kekasih Ken. Setiap orang pasti memiliki alasan atas setiap perbuatannya, begitu juga alasan Adam mengundang mantan kekasih ke acara pernikahannya. Ken berfikir sederhana, mungkin Adam sudah menganggapnya seorang teman yang sudah seharusnya turut serta di hari bahagia Adam dan Amy. Disinilah Ken, menjadi bagian tamu undangan yang turut serta hadir di hari bahagia Adam dan Amy. Seharusnya seperti itu.  Ken berjalan menyusuri karpet beludru berwarna abu. Berusaha hati-hati dengan langkahnya sembari menghindari langkah tak terduga tamu-tamu yang lain. Ken terlihat anggun malam ini, dengan gaun berwarna merah terang melilit indah di badannya. Bahunya terekspos bebas, namun ada tali merah mengikat leher panjang Ken dengan manisnya, memberikan sentuhan jenjang yang menawan. Heels berwarna gold yang senada dengan clutch nya menambah sempurna penampilan Ken malam ini. Ken memang tidak secantik artis artis negeri ini, namun wajahnya yang berkarakter dan pembawaannya yang anggun adalah daya pikat tersendiri.  Ken meraih sebuah gelas berisi air berwarna merah, satu tegukan namun berhasil membuat dahaganya hilang. Pandangannya kembali jernih, Ia mencari celah kosong agar bisa melihat sang pengantin dari jauh. Ia melihat sosok itu. Adam. Terlihat begitu tampan, cerah tertepa cahaya yang berada di sekelilingnya. Tawa Adam melebar setiap ada tamu yang memberinya selamat, bahu Adam berguncang pelan karena terbahak. Ken mencoba menerka dialog antara Adam dan tamu-tamu yang datang memberinya selamat, hingga Adam terlihat begitu bahagia seolah tanpa beban. Amy pun terlihat cantik dengan gaun putihnya, sesekali tersipu malu. Tiba-tiba kedua mata Ken memanas, bola matanya bergetar, bibir dan hidungnya memerah. Jatungnya  berdegup lebih kencang dari normal, setetes air mata muncul di ujung mata kanannya. Ken menyeka dengan tangan kirinya yang bebas. Versace On The Floor, Bruno Mars mengalun merdu. Seorang penyanyi lokal dari ajang pencarian bakat membawakan lagu itu dengan apik. Membuat Ken menggigit bawah bibirnya. Let's take out time tonight Girl Above us all the stars are watchin' There is no place I'd rather be in this world Your eyes are where I'm lost in We're dancin' all alone There's no reason to hide What we're feelin' inside Right now So baby let's just turn down the lights And close the door Ooo I Love that dress...  But you won't need it anymore No you won't need it no more Let's just kiss 'til we're naked Baby....         "What a nice song." kata Ken pelan. Pikirannya tiba-tiba kacau, bahkan ketika dia sudah menenggak minuman. Bayangan akan kenangan yang dia pikir sudah tidak bermakna apa-apa lagi, kembali muncul memberi arti. Ia pikir perasaannya sudah berakhir. Atau sebenarnya belum. Ken hanya menyibukkan diri dan menipu dirinya sendiri dengan mengatakan bahwa semuanya sudah selesai. Bahwa semuanya tidak ada artinya lagi. Dia rindu melihat Adam tertawa, melihat Adam yang selalu menatapnya dengan penuh cinta. Atau mungkin Ken hanya rindu dicintai.  Hatinya saat ini terasa kosong melompong. Ken menarik nafas panjang, memejamkan mata sejenak kemudian ia letakkan gelas yang ada di tangan kanannya. Ken melangkah lebar, membiarkan heels cantiknya membelah karpet abu yang penuh taburan kelopak bunga. Langkahnya sedikit gontai, namun Ia terus berjalan ke tempat Adam dan Amy berdiri. Ken tidak pernah membayangkan Ia dan Adam berdiri dipanggung mewah sebagai pasangan pengantin, namun melihat Adam berdiri bersama wanita lain membuat hatinya nelangsa. Ia terus meyakinkan dirinya sendiri, bahwa Ia baik baik saja. Ini hanya perasaan alami yang akan hilang bila Ia pulang dan kembali beraktivitas seperti biasanya. Ken mulai mengembangkan senyumnya ketika Adam melihat Ken mendekat. Senyum yang Ia usahakan sekali agar terlihat natural. "Ken." sapa Adam. Suaranya terdengar pelan, lebih terdengar seperti gumaman. "Selamat ya Dam, akhirnya lo nikah juga." Holly s**t. What the heck am I doing?! umpat Ken dalam hati. "Hahaha, iya nih. Akhirnya gue laku setelah di buang sama lo." Crap! Ken nyengir, sembari menatap Amy sekedar ingin tahu reaksinya. Lelucon Adam sangat tidak lucu. Apa Amy tahu bahwa Ken adalah mantan Adam? Ken bertanya dalam hati. Amy hanya tersenyum simpul, namun tidak terlihat ada kilat cemburu di mata Amy. Sepertinya Adam memilih pasangan yang tepat, Amy terlihat dewasa dan penyabar.  "Selamat sekali lagi ya, semoga menjadi keluarga yang bahagia dan punya anak yang lucu-lucu." Ucap Ken sambil mengecup pipi Amy. Amy pun membalas dengan hangat.  "Aamiiin, makasih ya Ken. Dateng sendiri?" Tanya Amy tepat sasaran. Ken diam sejenak, Ia lupa tidak menyiapkan jawaban kalau-kalau datang pertanyaan seperti itu. Ia yakin Amy hanya bertanya basa basi, namun Ken tetap saja kelimpungan. "Haha, iya nih." Ya. Cukup jawaban itu saja. Batin Ken. Ia melenggang maju memberi selamat kepada orang tua Amy. Kemudian berjalan menuruni tangga kecil yang dihias bunga mawar merah. Baru saja Ia akan memijakkan kakinya di tangga terakhir, badannya limbung. Heelsnya tersandung gundukan kecil lampu yang tertutup karpet abu. Hampir saja Ia terjungkal dan jatuh. Namun dengan sigap lengannya direngkuh kuat oleh tangan seseorang. Wajahnya pucat, bola matanya melebar. "Oh Ya Ampun." ujar Ken ketika badannya tertarik ke belakang. Ken semakin kaget ketika Ia melihat sesosok pria berbadan tinggi tegap masih merengkuh bahu tangannya. "Are you okay?" tanya pria itu dengan suaranya yang berat. Suara yang entah mengapa tidak asing di telinga Ken. Ken mengerutkan dahinya. Mencoba mencari tahu sebuah informasi yang tersimpan di otaknya. "Are you okay? " tanya pria itu lagi. Ken yang larut dalam pikirannya tersentak kaget. Pria ber jas giorgio armany itu membuat Ken hilang akal. "Ah. " Seru Ken,  kembali tersadar ke kenyataan. "Sorry. I am fine . Thank you." kata Ken sambil mencoba menarik pelan lengannya yang masih dicengkeram laki laki itu. Ken menunduk pelan memberikan tanda terimakasih sekaligus memberi tanda bahwa Ia akan pergi. "Sendiri?" tanya pria itu kemudian yang membuat Ken menahan langkahnya. "Would you mind—" belum selesai pria itu bicara, Ken sudah tau arahnya akan kemana. "Well-" ujar Ken singkat. Percakapan yang singkat, namun keduanya seperti bisa menebak satu sama lain. Pria itu menuntun Ken ke arah meja bundar yang penuh berisi minuman. "Wine?" tanya pria itu. Ken menggeleng. “Nyetir sendiri?” tebak Lenan, tapi  kembali Ken menggeleng.  "Air mineral aja." Pria itu mengambil gelas kecil berbentuk piala dan memberikannya pada Ken. "Lenan." kata pria itu, memperkenalkan diri. Ken menjabat tangan besar Lenan.  "Ken." sahutnya. "Ken? " "Ya, Ken. Thank you again anyway."  "Never mind. Kebetulan tadi saya di belakang Anda. Tanpa sengaja juga dengar kalau Anda datang sendiri." Anda? Formal sekali? Batin Ken "Twice, I think." kata Lenan.  "Twice? What? " tanya Ken clue less.  "Don't you remember me?"  wajah Ken makin bingung mendengar pertanyaan Lenan.  "Di Sbux. Beberapa minggu lalu?" Ken masih dengan ekspresi datarnya. Mencoba menggali memory yang berhasil otaknya tampung minggu minggu ini. Wajah Lenan memang tidak asing. Namun Ia pun mengutuk daya ingatnya yang lemah. "Astaga, Astaga. " Ken mulai menemukan kembali ingatannya. "Lo yang nemuin hp gue kan?" "Remember?" "Oh God, Lenan ya? Astaga, lo temen Adam?" tanya Ken masih tidak percaya dengan kebetulan ini. Tapi tidak mungkin kalau teman Adam. Ken hampir tahu semua teman teman Adam baik yang di dalam maupun luar negeri. "Oh bukan. Orang tua mempelai wanita kerabat orang tua saya, tapi mereka tidak bisa datang. Jadi, Saya yang datang." tutur Lenan menjelaskan keberadaannya sekarang. Terdengar Lenan sedikit keberatan datang menghadiri pesta pernikahan sahabat orang tuanya. Mungkin Ia tidak suka datang di acara seperti ini. Ken hanya mengangguk-angguk memberi isyarat bahwa Ia mengerti. "Istri sama anakmu nggak diajak? " tanya Ken sambil mengingat kejadian beberapa minggu lalu waktu Lenan sedang bersama seorang anak kecil. Lenan langsung mengangkat kedua alisnya. Ken jadi serba salah melihat reaksi Lenan, Ia merutuki pertanyaannya yang spontan. Shit. Mulut lo Ken. Gimana kalau doi duda yang udah cerai?!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN