Kesembilan

1184 Kata
Kesembilan "If you give me what i want. Then i'll give you what you like." —Give You What You Like, Avril Lavigne (lirik)— "Gue Naraka." Cowok itu memperkenalkan dirinya dengan nada dan wajah datar. Feri tersenyum miring. "Siapa yang udah lo kalahin? Yakuza?" Dia mencemooh. Naraka tetap tenang. "Lo percaya bahkan gue pernah ngebunuh orang?" Sontak semua orang yang ada di sana melongo kaget, apa Naraka serius dengan perkataannya? Dilihat dari wajahnya yang datar sepertinya ucapannya bukan candaan. "Gue percaya," kata Feri memecah keheningan. "Kalau gue kalah, motor gue jadi milik lo." Naraka tidak menyebutkan hal apa yang diinginkan jika dia menang. "Jika lo menang?" Bukannya menjawab Naraka malah tersenyum miring. Ekspresinya benar-benar terlihat menakutkan. "Kita liat saja nanti," katanya sambil melirik Sagar yang diam melihat dirinya. Seseorang maju ke depan, menyuruh ketiga cowok yang akan balapan untuk bersiap di garis start. Sagar mengancingkan jaketnya hingga ke leher lalu memakai helmnya kemudian bersiap menaiki motor maticnya namun terhenti ketika merasakan ujung jaketnya ditarik seseorang. "Lo beneran datang?!" pekik Rhea tidak percaya. Padahal dia sudah menunjukan nilainya yang masih tetap anjlok pada Sagar dengan harapan semoga cowok itu tidak memperjuangkan nilainya yang merah. Bahkan dia sama sekali tidak memberitahukan di mana balapan akan diselenggarakan. Tapi, Sagar memang cowok sinting, keras kepala lagi. "Lho, Rhea?! Aku nyariin kamu ke mana-mana juga." Sagar tersenyum, seolah tidak kesal apalagi marah dengan kelakuan Rhea yang sama sekali tidak menepati janjinya. "Lo beneran mau ikutan balapan ini?" "Lha, emangnya kenapa? Kan, aku udah janji sama kamu. Aku bakalan menangin balapan ini sesuai yang kamu mau." "Tapi—" "SIAP!" teriak seseorang. Rhea menatap Sagar khawatir, jika cowok itu benar-benar ikutan balapan ini maka bisa dijamin hidup Sagar akan sengsara. "Lo nggak usah ikutan aja deh, Gar. Gue nggak mau ngan—" "Aku bakal menang dan baik-baik aja. Kamu tunggu di sini, aku akan berusaha menangin balapan ini dan bersihin nama kamu." Rhea tidak bisa membalas Sagar karena cowok itu keburu naik motor, terakhir tersenyum padanya dan melajukan motornya secepat mungkin. Dalam hati Rhea mendesah panjang, untuk pertama kalinya berdoa setelah sekian lama; dia ingin Sagar selamat Sagar berada di tengah-tengah sedang yang memimpin adalah Feri sendiri. Naraka terlihat tenang-tenang saja melajukan motornya. Seolah dia memang tidak berharap untuk memenangkan balapan ini. Cowok itu menarik gas, hampir menyalip Feri yang mungkin saja sedang lengah. Dalam kepalanya dia harus memenangkan balapan ini jika ingin Rhea berubah dengan kemauannya sendiri. Dalam hati Sagar tersenyum, bahkan tadi Rhea terlihat khawatir padanya. Saat mereka hampir tiba digaris finish, Sagar berhasil mendahului Feri dan melihat kerumunan orang-orang yang menandakan garis finishnya. Tapi sayangnya Feri tidak tinggal diam, hampir saja dia menjatuhkan andaikan—dengan sangat cepatnya—Naraka tidak menghalanginya dan berbalik menyelakai Feri sampai motornya berhenti. Sagar terkejut melihat yang dilakukan Naraka. Cowok itu tidak berniat menang diilihat dari gayanya yanh terlampau santai, dan malah berbalik melindunginya. Ketika akhirnya Sagar sampai di garis finish, bukannya sorakan dia malah mendapati orang-orang sedang berkelahi dengan orang-orang yang sama sekali tidak dia kenal. Namun bukan itu yang menjadi perhatian Sagar, dia mencari Rhea. Meski Rhea itu sering berkelahi tapi siapa tahu cewek itu tidak bisa melawan karena jumlahnya terlalu banyak. "b******k!" umpat Sagar begitu melihat Rhea sedang dipojokan oleh seseorang. Ada bekas luka di sudut bibirnya. Sontak hal tersebut membuat Sagar marah bukan main, dia langsung berjalan menghampiri Rhea dan menghalangi cowok itu memukul pacarnya. Tanpa sungkan cowok itu berbalik memukul cowok yang sudah berani memukul Rhea, menendangnya, mememukulnya lagi dengan membabi buta. "Siapa lo? Beraninya lo mukul gue." Tatapan Sagar menajam. "Elo yang berani mukul cewek gue." Tatapannya tajam, menakutkan. "Nizam, bawa Rhea pergi," katanya pada Nizam tanpa melihatnya atau pun Rhea yang masih shock melihat wajah menyeramkannya Sagar. "Sagar!" Sagar tidak menghiraukan Rhea, dia kembali menyuruh Nizam untuk membawa Rhea pergi. Dia hanya tidak ingin Rhea melihat sisi buruk dalam dirinya. "Kenapa? Lo mau lawan gue? Sendirian?" Kepala Sagar meneleng. "Lo udah pernah kalah sama Sam, lo pikir gue takut." "b******k!" Cowok itu maju menyerang Sagar namun gerak refleks Sagar yang bagus berhasil menghindarinya dan berbalik menendang perut cowok itu. "Jangan pernah ngusik ketenangan gue." Sagar berkata sangat dingin, sama sekali tidak takut kalau orang di hadapannya ini adalah ketua geng motor yang ngerusuh di sini. Sagar benar-benar sangat marah saat melihat cowok itu memukul Rhea. "Karena gue nggak bakalan tau apa yang bakalan gue lakuin buat ngancurin lo." Cowok itu memukul Sagar, kali ini mengenai hidungnya. Ekspresi Sagar tetap tenang, dia berbalik menyerang cowok itu dengan membabi buta. Meski sesekali dia juga terkena pukulan yang cukup parah. Dan kali ini Sagar yang memenangkan perkelahinnya. Dia menatap dingin cowok itu kemudian berbalik mencari Rhea. "Lo harus pergi." Tiba-tiba Naraka datang, penampilannya tetap rapi meski sudah berkelahi juga. Penasaran, Sagar melihat ke belakang Naraka, mendapati orang-orang sedang duduk di aspal dengan tangan terikat. Sagar tersenyum, hebat sekali Naraka ini. "POLISI!!" teriak seseorang lalu berhamburan meninggalkan tempat balapan. Sagar mendecih, akan repot jadinya kalau dia tertangkap polisi. Dengan nada datar Naraka mengajak Sagar untuk pergi dari sana, maka dari itu bersama-sama mereka berlari menjauh dari tempat itu. Keduanya terengah namun yang terlihat paling parah Sagar yang seperti menahan sakit. "Ahh, kenapa harus pake acara lari-larian segala sih," gumamnya terengah. Naraka melirik sekilas ke Sagar lalu memerhatikan keadaan sekitar—memastikan bahwa tidak ada polisi yang mengikuti mereka. Dia tersenyum miring. "Lo pikir kalau Rheana berubah lo bakalan hidup, begitu?" Tiba-tiba Naraka bertanya. Nada dan wajahnya tetap datar. Sagar mengerjap, terkejut mendengar pertanyaan Naraka. "Bagaimana bisa?" Lagi-lagi Naraka hanya tersenyum miring. "Apa lo sadar kalau deket sama Rheana hanya akan bikin lo menderita? Satu pertanyaan gue, dari dua film fiksi gue sebutin mana yang bakal lo pilih? Snow White atau Little Mermaid?" Sagar mengerutkan keningnya, sama sekali tidak mengerti yang dikatakan cowok satu ini. Penuh teka-teki namun membuatnya pusing. "Lo pasti punya makna tersendiri, kan? Lo pasti tau sesuatu tentang hidup gue." Naraka berjalan mundur meninggalkan Sagar. "Kadang gue nggak mau bantu orang lain, tapi seseorang minta gue buat ngasih tau sesuatu ke elo. Pilih film yang gue sebutin, Snow White atau Little Mermaid?" "Gue nggak pernah nonton yang kayak gituan. Mana gue bisa milih." "Bohong adalah keahlian lo 'kan?" Naraka melemparkan kunci motornya pada Sagar. "Motor itu jadi milik lo. Hati-hati, hidup lo bakal berubah setelah ini." Sagar hanya bisa terbengong-bengong, Naraka ini sungguh menyebalkan dan misterius. Seolah-olah Naraka bisa menebak semua jalan pikirannya, apa Sagar harus jadikan Naraka sebagai penasihatnya? "Dan ..." Naraka berbalik menatap Sagar. "Priderzhivaytes' svoyey tseli. Nezavisimo ot togo, yesli vy sobirayetes' umeret', voz'mite yego. Tol'ko eto yedinstvennyy sposob, kotoryy mozhet sdelat' vas schastlivym, a takzhe boleznennym dlya vas." Setelah itu Naraka tersenyum lebar dan tiba-tiba saja menghilang bagaikan hantu. Sementara itu Naraka hanya bisa melongo, sebenarnya apa yang dimaksud cowok itu? Sagar sama sekali tidak mengerti maksudnya apa. Tetapi melihat wajah seriusnya Naraka membuat Sagar yakin kalau kalimat yang diucapkan dalam bahasa alien itu merupakan sesuatu yang penting. "Yahh, punya motor baru lagi," desah Sagar, mengingat Naraka yang sengaja kalah darinya dan memastikan dirinya untuk memenangkan balapan sekaligus melindunginya dari Feri. 'Saat lo udah milih antara Snow White sama Little Mermaid. Hubungi gue, Cafe Seven. —Naraka.' ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN