Asyik bercakap-cakap dengan ibunya, Alicia hampir saja lupa akan satu hal penting yang seharusnya disampaikannya sejak tadi. "Ibu, aku membawakan ini untukmu." Menyodorkan bunga teluki yang tadinya disimpan di dalam saku. "Ah," mukanya berubah murung ketika mengetahui bunga teluki tidak lagi segar kelopaknya. "Harusnya aku menyimpannya dengan baik." Menghela napas panjang sambil meringis sedih.
Waktu Helian menjelaskan makna bunga teluki padanya, dia sudah bertekad untuk memberikannya pada ibunya. Bukan hanya sekedar janji pada Helian saja karena menurutnya yang memenuhi arti dari makna bunga itu adalah ibunya. Seseorang yang paling dia cintai di dalam hidupnya dan satu-satunya tempat yang memiliki kemungkinan rasa kesetiaan akan dia labuhkan.
Liana beranjak ke dapur dan mengambil sebuah gelas. Dia mengisi ruang kosong pada gelas itu dengan air dan membawanya menghampiri Alicia. Bunga teluki diambil dari tangan Alicia dan direndam tangkainya ke dalam gelas tersebut. "Bunga teluki putih biasanya diberikan pada kekasih." Meletakkan gelas di dekat jendela. "Ada warna khusus yang bisa diberikan pada seorang ibu seperti bunga teluki berwarna merah muda yang melambangkan cinta abadi." Mengurai sebuah senyuman tulus di wajahnya, lalu menghampiri Alicia. "Tapi bunga teluki yang kau bawa dari jauh dengan tangan kosongmu sudah melebihi makna itu. Terima kasih, putriku."
Alicia balas tersenyum dan matanya dibawa menatap sekeliling ruangan. Ada kesedihan yang menggayuti hatinya karena pertemuan mereka akan segera berakhir. Padahal dia masih sangat ingin berada lama di rumah bersama kehangatan sosok ibunya. Selalu menjadi penyejuk di kala kesulitan menggoyahkannya.
"Aku harus segera pergi."
Hati Liana berdesir dan membuat matanya terbuka lebar. "Pergi? Kemana? Bukankah kau baru saja pulang?"
"Sebenarnya aku tidak datang sendirian. Ada duke Lucherne yang menemaniku. Tapi aku sengaja tidak membawanya dan setelah ini kami harus kembali ke distrik Edelweiss." Alicia menggenggam kedua tangan ibunya. "Aku mohon selama aku pergi jaga diri ibu, Hana dan juga Hani baik-baik. Aku berjanji akan kembali setelah menyelesaikan semuanya dan kita akan hidup normal kembali."
Liana memegangi tangan putrinya dan mengusapnya lembut. Ada rasa tidak ingin akan perpisahan yang akan kembali terjadi. Dia masih sangat merindukan Alicia. "Ibu berjanji." Ucapnya menahan segala keinginan itu.
***
Melihat kejadian yang tidak sedap dipandang mata itu membangkitkan gairah kepemimpinan sang duke. Dia bangkit dan menghampiri pria bertubuh kekar tersebut yang kini tampak asyik dengan pelayan wanita di pangkuannya. Sangat jelas ada ketakutan di wajah pelayan yang mana tidak sanggup lagi menerima perlakuan buruk dari pria yang tidak tahu malu itu.
Mengetahui ada orang lain yang berdiri di samping meja mereka, pria itu mengabaikan mainannya untuk sementara waktu. Siapa yang telah berani menghentikan hasratnya? Dia tentu sangat marah dan tidak akan segan-segan menghancurkan orang tersebut.
"Apa yang kau inginkan?" Tanyanya dengan nada menantang.
"Aku akan mengampuni nyawamu jika kau melepaskan wanita tidak bersalah itu."
Pria itu tergelak dan semakin menguatkan cengkeramannya di bahu pelayan wanita hingga ringisan terdengar di ruangan yang kembali senyap. "Bagaimana kau bisa mengatakan wanita ini tidak bersalah? Dia secara terang-terangan telah menggodaku."
Pelayan wanita menggeleng-gelengkan kepala. Apa yang dituduhkan padanya jelas tidak benar. Dia tidak pernah menggoda siapa pun selama bekerja di Réserve. Namun, bagaimana dia bisa menjelaskannya? Apakah ada orang yang bisa mempercayainya yang mana hanya seorang pelayan rendahan?
Suara gesekan besi terdengar dan apa yang terjadi sekarang adalah sang duke mengacungkan pedangnya pada pria itu. Suasana yang tadinya senyap berubah riuh seketika. Ada seseorang yang membawa senjata tajam dan memperlihatkannya di depan umum. Bagaimana semua orang tidak terkejut?
Pria kekar itu menelan ludah ketika melihat sekilas aura kengerian yang terpancar dari dalam tudung kepala itu. Siapa orang itu sebenarnya? Dilihat dari caranya memegang pedang sepertinya bukanlah orang biasa. Dia sempat gentar namun hanya sebentar saja karena setelah itu dia bangkit dan melempar pelayan wanita yang dicengkeramnya hingga jatuh tersungkur ke lantai. Dia bisa melihat bagaimana mainan yang sudah dilepaskannya bersembunyi di balik punggung orang yang telah berani menghadangnya.
Tetapi bukan berarti dia langsung kalah begitu saja. Dia adalah Goddard, orang yang selalu ditakuti di distrik Syringa dan dia juga memiliki sebuah pedang untuk melawan. Pedang ditarik dari balik jubahnya pula, sehingga kini ada dua orang yang memiliki senjata dan mereka saling mengacungkan pedang. Hal itu membuat para pelanggan yang diselimuti ketakutan pergi satu persatu meninggalkan Réserve. Menyisakan beberapa pelanggan saja yang mana masih ingin terus menonton pertunjukan.
"T-tuan, l-lebih baik kita pergi saja." Ucap pelayan wanita tidak ingin orang yang menolongnya terkena imbasnya. Goddard jauh lebih kekar dan orang biasa seperti penolongnya bukanlah tandingan. Tidak mungkin akan menang melawan Goddard. Apalagi cengkeraman yang diterimanya tadi saja masih terasa sangat menyakitkan. Menandakan kalau kekuatan Goddard bukan sebuah omong kosong.
Sayang sekali anggapan itu harus runtuh sangat cepat karena baru saja sang duke diserang, salah satu pedang dengan mudahnya terlempar jauh. Hanya menggunakan satu tangan yang mengayunkan pedang, sang duke berhasil menguasai lawan dalam sekejap mata. Tidak sampai di situ saja, sang duke memajukan pedangnya hingga Goddard harus mundur.
Goddard yang tidak ingin pedang mengenainya terus melangkah mundur hingga membentur tembok. Dia memicingkan mata, takut menghadapi kematian yang akan menjemputnya sebentar lagi. Namun, beberapa detik kemudian dia tidak merasakan sakit apa pun. Apa yang terjadi? Seharusnya lehernya sudah ditusuk, tetapi kenapa dia masih berdiri tegak?
Goddard membuka matanya perlahan dan dia langsung bergidik ngeri melihat mata pedang yang berkilat tajam bukan lagi berada di lehernya seperti tadi namun berada tepat di depan mata. Sekali lagi ludahnya ditelan kasar dan tatapan dibawanya mengarah pada pria yang ada di hadapannya itu. Pendapatnya ternyata benar, pria itu bukanlah orang biasa.
"Kau masih tidak mengerti?"
"B-baiklah." Goddard mengangkat kedua tangan ke atas menandakan kalau dia sudah menyerah. "Aku tidak akan mengganggu wanita itu lagi." Perlahan menggeser tubuhnya menjauh dari mata pedang yang masih mengarah padanya. Setelah berhasil menjauh, dia pun terbirit-b***t meninggalkan Réserve.
Pelayan wanita masih tercengang tidak percaya bagaimana orang biasa bisa mengalahkan pria yang selalu ditakuti di Réserve. Selama ini tidak ada orang yang berani membuat Goddard bungkam kecuali pemimpin distrik Syringa itu sendiri. Mengetahui ada orang lain yang bisa membuat Goddard goyah, tentu merupakan sebuah berita yang sangat menggemparkan.
Bukan hanya dia saja yang tercengang. Bahkan pemilik Réserve dan pekerja yang bersembunyi sembari mengintip ditambah pelanggan yang masih tersisa juga tercengang. Setelah itu suara tepukan tangan meramaikan suasana kembali.
Dibandingkan ketercengangannya, pelayan tersebut tentu tidak lupa kalau orang biasa itu sudah bersedia membantunya keluar dari kebengisan Goddard. Lantas dia langsung menunduk dalam menghargai kebaikan orang yang belum diketahuinya siapa. "Terima kasih, tuan. Saya sungguh berhutang budi pada anda."
Sang duke tidak menjawab dan langsung saja pergi dengan menepuk pundak pelayan wanita sambil lalu. Lebih baik tidak banyak interaksi dilakukannya agar persentase terbongkar identitasnya kecil. Tidak tau apa yang akan terjadi setelah kejadian tadi apakah akan berdampak buruk pada penyamarannya.
"T-tuan, bolehkah saya tau nama anda?" Pertanyaan pelayan itu tidak mendapatkan jawaban namun dia pantang menyerah. Dia tetap mengiringi langkah pria yang menghiraukannya. "Kalau boleh saya ingin membalas budi karena tuan telah membantu saya tadi."
Kali ini pelayan wanita mendapatkan respon. Mereka sama-sama berhenti melangkah dan selanjutnya saling berhadapan. Dia tidak bisa melihat bagaimana rupa wajah penolongnya karena tertutupi oleh tudung kepala. Hanya ada kegelapan yang terlihat di sana. Siapa sebenarnya pria yang seakan menyembunyikan identitas itu?
Sang duke memperhatikan sekeliling dan di sana terlalu ramai untuk membahas sesuatu yang seharusnya dirahasiakan. Dia pun menarik pelayan wanita untuk ikut bersamanya. Sebuah sudut yang mana sepi dan jarang dilalui menjadi keputusan sang duke untuk dijadikan tempat berbicara.
"Tuan, biarkan saya memperkenalkan diri terlebih dahulu." Merasa kalau langsung berbicara tanpa berkenalan adalah sesuatu yang tidak baik. Dia yang menghormati penolongnya mengambil inisiatif lebih dulu. "Saya adalah Ruth, salah satu pelayan di Réserve."
"Kau tidak perlu tau siapa aku." Mengamati wajah pelayan yang tampaknya tidak masalah dengan keputusannya untuk merahasiakan identitas. "Aku hanya ingin tau apakah kau mengenal wanita bernama Alicia? Dia pernah bekerja di Réserve."
Ruth membeliak dan kebingungan bagaimana harus menjawab. Dia mengenal nama itu dan sebagai sesama pekerja di Réserve mereka sering mengobrol ketika jam istirahat. Jika ada yang tau kedekatan mereka, dia akan terkena akibatnya. Selain dipecat, dia juga akan diburu oleh pihak kerajaan jika ketahuan memiliki informasi mengenai Alicia.
Sang duke mengamati bagaimana kegelisahan tertanam jelas di wajah Ruth. Sesuai dugaannya ada sesuatu yang salah mengenai informasi yang didapatkannya. Dia memang sudah mencari informasi bersama Flint sebelumnya namun tidak mendapatkan sesuatu yang terperinci mengenai Alicia. Menurut pencariannya bersama Flint, tidak ada pekerja yang mengetahui tentang kehidupan Alicia.
Mungkin melalui Ruth yang mana dia harus memanfaatkan situasi, sang duke bisa mendapatkan setidaknya sedikit saja jejak kehidupan Alicia. "Bukankah kau berkata ingin membalas budi?"
Ruth tersadar saat otaknya berputar keras mencari cara menjawab pertanyaan yang jawabannya sebenarnya sangat sederhana. Dia hanya perlu memilih jawaban antara 'Ya' dan 'Tidak' saja. Setelah itu semua terselesaikan. Dia memang ingin membalas budi dan jika berbohong tentu bukan balas budi namanya.
Tidak. Pria di hadapannya sekarang sudah menolongnya keluar dari perilaku buruk Goddard yang melecehkannya di depan orang banyak. Dia tidak boleh lupa pada penolongnya setelah berhasil lolos. Seperti apa pun konsekuensinya, dia harus membalas budi. Seperti penolongnya yang tidak gentar menghadapi Goddard.
"Ya. Saya mengenal Alicia."
Akhirnya ada yang mengakui kebenaran yang sudah lama ingin didengar oleh sang duke. Padahal sudah ada informasi bahwa Alicia bekerja di Réserve, mustahil tidak ada yang tau mengenai Alicia. Tetapi tidak ada yang mengakuinya karena mungkin mereka takut terlibat dalam kasus kematian putri Haura.
"Bisakah kau memberitahuku bagaimana kehidupan seorang Alicia?"
Kini Ruth yang memperhatikan sekeliling untuk memastikan kalau mereka berada di tempat yang aman. Kecuali mereka tidak ada siapa pun di sana. Di tempat mereka berdiri sekarang gelap dan hanya suara jangkrik yang membuat suasana tidak begitu hening.
Setelah dirasa aman baru dia akhirnya mau membuka suara. "Alicia bekerja sebagai koki di Réserve. Dia diperlakukan buruk. Bukan. Maksud saya kami semua diperlakukan buruk oleh pemilik restoran. Bayaran yang kami terima tidak sebanding dengan hasil kerja keras kami."
Padahal Réserve merupakan restoran yang paling banyak peminatnya di distrik Syringa, tetapi kenapa begitu pelit membayar pekerjanya?
"Kami sangat ingin mencari tempat bekerja yang layak namun di Réserve bayaran yang kami terima cukup besar jika dibandingkan tempat lain meskipun masih tidak sepadan. Alicia sangat beruntung bisa mendapatkan pekerjaan di istana Primrose namun sayang harus berakhir seperti sekarang." Menghela napas panjang dan raut wajahnya berubah sedih.
"Apa kau tau bagaimana Alicia bisa mendapatkan pekerjaan di istana Primrose?"
Ruth menggeleng tidak tau. "Saya belum bertemu lagi dengan Alicia saat dia akan pindah bekerja. Berita yang beredar sungguh tiba-tiba dan membuat saya sangat terkejut." Dia diam memikirkan hal apa lagi yang bisa disampaikannya. "Hanya itu informasi yang bisa saya berikan pada tuan. Apakah ada lagi yang ingin tuan tanyakan pada saya?"
Sang duke berpikir sejenak dalam pertanyaan yang sejak tadi ada di benaknya dan sangat ingin ditanyakannya. "Apakah Alicia memiliki keluarga?"
Ruth mengangguk sangat yakin. "Ya. Alicia memiliki ibu bernama Liana dan juga adik kembar Hana dan Hani."
Terjawab sudah kegelisahan sang duke selama ini. Informasi yang didapatkannya bersama Flint sudah jauh melenceng dari kenyataan yang sesungguhnya. Alicia tidak tinggal di rumah kosong dan tidak hidup sebatang kara. Siapa yang telah berani mengganti informasi resmi itu? Semakin membuatnya curiga apakah semua ada sangkut pautnya dengan duke Charles? Pria yang mempunyai kekuasaan atas distrik Syringa.
"Ah, sepertinya saya harus kembali bekerja. Saya sudah pergi terlalu lama." Menunduk dalam sebagai akhir pertemuan mereka. "Sekali lagi terima kasih banyak, tuan."
Sang duke hanya diam saja sampai dia ingat satu hal lagi yang harus ditanyakan. "Tunggu sebentar!" Tampak Ruth berhenti di langkah terakhir saat permintaannya dilontarkan. "Apakah Alicia memiliki seseorang di hatinya?"
Ruth memiringkan kepala mengingat lagi waktu yang dilaluinya selama kenal Alicia. "Saya tidak bisa menjawab apakah Alicia memiliki seseorang di hatinya atau tidak, tetapi sepengetahuan saya Alicia tidak memiliki teman pria yang dianggapnya sebagai kekasih." Dia tersenyum dan kembali menunduk hormat sebelum akhirnya benar-benar pergi.
***
"Kurang ajar! Berani sekali pria biasa sepertinya melawan Goddard." Berjalan kesana-kemari dengan jalur yang sama. Dia sangat marah karena telah dipermalukan di depan umum oleh orang biasa yang tidak jelas asal usulnya dari mana. "Aku harus membuat perhitungan dan menunjukkan siapa aku sebenarnya."
Dia mengacak-acak rambutnya sendiri sambil berteriak kesal. Memukul dinding dengan kepalan tangan. Memikirkan cara untuk membalas dengan kekuatan yang sangat besar. Dia tidak mungkin sendirian menghadapinya karena tadi saja dia dikalahkan begitu mudah.
"Aku adalah Goddard! Pria pemberani yang tidak mungkin dikalahkan!" Serunya mengepalkan satu tangan dan meninjukannya ke telapak tangan yang lain. "Aku akan membalasnya berkali-kali lipat dan membuatnya memohon ampun sambil bertekuk lutut di hadapanku."
Penuh keyakinan Goddard mengumpulkan seluruh anak buahnya. Melengkapi senjata mereka satu persatu untuk menuntut balas. Kemudian dipimpin oleh Goddard langsung, mereka bersama-sama akan mendatangi musuh. Kali ini Goddard si pemberani tidak akan kalah.