Bab 8: Mendatangi Mulut Buaya

2161 Kata
Kemarin setelah melalui tahap pemeriksaan identitas, status pernikahan mereka langsung tersebar luas ke semua kalangan. Nasib baiknya, bukan pada pelaku pembunuhan orang-orang kini memusatkan perhatian. Berita pernikahan telah mengalihkan tujuan hadirnya prajurit kerajaan di Distrik Edelweiss. Dampak yang harus ditanggung dari tersebarnya berita itu adalah sang duke harus menghadap Raja Sargon. Anastasia juga dibawa bersama untuk diperkenalkan. Hal tersebut tidak bisa dibantah karena sang duke merupakan ikon dari Kerajaan Orchid. Dia harus menjelaskan berita pernikahan kepada orang yang telah mendukungnya selama ini. Anastasia tampak diliputi kegelisahan sepanjang perjalanan. Dia telah melatih ingatannya untuk menghafal rangkaian tulisan yang telah dibacanya berulang kali semalaman suntuk. Berkat kegigihannya dia berhasil mengingat deskripsi kehidupan yang dijalani seorang Anastasia tanpa bantuan coretan kertas. Tetapi hari ini dia harus kehilangan fokus karena matanya meminta untuk dipejamkan. "Waktu kita masih ada sekitar setengah jam lagi sebelum sampai. Kau bisa beristirahat selama itu jika kau mau." Sepertinya Anastasia harus menerima tawaran itu karena kalau tidak, dia tidak akan sanggup menghadapi Raja Sargon dan segala ancaman yang ada. Mengunjungi Kerajaan Orchid butuh persiapan mental dan fisik. Jika salah seorang pihak kerajaan mengetahui siapa dia sebenarnya, kerja sama antara dia dan sang duke tidak akan bisa dilanjutkan. Semua senjata akan diarahkan pada mereka pada saat itu juga. Terlebih dia tidak tahu ketika prediksi buruk itu terjadi, apakah sang duke masih berpihak padanya atau tidak. Anastasia menyandarkan pelipisnya ke lengan sang duke. Saat ini dia benar-benar membutuhkan waktu sejenak untuk beristirahat. Pada akhirnya dia memejamkan mata diiringi irama suara langkah kaki kuda yang mengentak. Perlahan dia memasuki alam mimpi yang sedaritadi ingin digapainya. Di samping itu raut wajah sang duke berubah tegang karena sikap Anastasia yang tiba-tiba. Dia hanya menawarkan waktu untuk tidur, bukan menjadikan lengannya sebagai sandaran. Anastasia sungguh melakukan sesuatu yang tidak dapat diprediksinya. Bahkan kemarin di hadapan semua penghuni Morning Glory dan prajurit kerajaan dengan lantang mengatakan kalau Anastasia adalah istri Lucherne. Bagaimana perhatian semua orang tidak teralihkan oleh keyakinan yang begitu menggebu-gebu itu? Semua mata yang menyaksikan terkesima memandangi Anastasia kemarin. Tidak pernah ada wanita yang berani mengeklaim pemiliknya di depan umum karena tindakan itu dinilai sebagai sesuatu yang memalukan dan hal memalukan itu dilakukan oleh Anastasia sendiri. Sebagai seorang wanita sudah seharusnya bersikap elegan dan menjadi pribadi yang terpandang. Apalagi Anastasia sudah menjadi istri seorang duke sekarang. Sorotan mata akan mengarah pada wanita yang akan sekaligus menjadi penyangga kehidupan Distrik Edelweiss. Sang duke menipiskan bibir jika mengingat kejadian kemarin. Meskipun memalukan namun entah mengapa melihat sikap Anastasia yang serampangan itu menyenangkan hatinya. Dia bahkan harus berpisah kamar karena tidak ingin memperlihatkan tawanya yang meledak tadi malam. *** "Kau sudah berjanji padaku kalau Alicia akan aman, tapi apa yang terjadi sekarang? Keberadaannya tidak diketahui." "Pelankan suaramu, Carol. Seseorang bisa saja mendengarmu dan semua rencana kita akan hancur," mengintip dari celah pintu agar bisa memastikan kalau tidak ada orang lain di luar gudang penyimpanan tersebut. Réserve begitu ribut oleh pengunjung yang datang. Sepertinya mereka yang sengaja mencari tempat sepi itu masih aman tanpa ada yang mengetahui. Caroline membuang muka ke arah lain. Dia tidak pernah mengira jika keputusannya sudah membuat orang lain terlibat begitu jauh. Dari penjara hingga kaburnya Alicia dan tidak ditemukan keberadaannya sampai sekarang. Bayangan mengerikan tentang Alicia yang entah bagaimana keadaannya tidak berhenti singgah ke alam mimpinya. "Apa yang kau takutkan dengan hilangnya wanita itu? Justru seharusnya kau senang karena semua bukti telah hilang." Muka yang berpaling tadi langsung dihadapkan pada pria di depannya, "Kau tidak memikirkan bagaimana keluarganya? Ibunya bahkan tidak berhenti menangis saat menanyakan keberadaannya padaku." "Bukan hanya cantik, tapi kau juga wanita yang sangat baik sampai memikirkan perasaan orang lain," mengangkat dagu Caroline agar bisa ditatapnya wajah itu lebih jelas lagi, "Sayangnya kebaikanmu hanya akan menjadi benalu dalam rencana kita," telunjuknya digunakan untuk mengelus pelipis hingga rahang wanita itu, "Kau tidak harus merasa bersalah ketika sudah mendapatkan aku. Bukankah kau juga merasa senang dengan itu?" Caroline menggigit bibir dalamnya menahan kekalutan yang dirasakannya kini. Bercampur dengan rasa takut yang meresahkannya sejak mengetahui kalau Alicia menghilang. Dia memang tidak terlalu dekat dengan Alicia, tetapi dia juga tidak sampai hati melibatkan seseorang sampai sejauh itu. Padahal niatnya hanya ingin memiliki seseorang yang dicintainya, tetapi kenapa harus begitu rumit? "Buang jauh-jauh nuranimu, Carol. Kita sudah sampai sejauh ini. Jangan kacaukan rencana kita hanya karena alasan iba." *** Sang duke mengguncang sedikit bahu Anastasia. Tidak terlalu sulit membangunkannya karena guncangan itu langsung menarik kesadaran Anastasia dari tidur lelap. Mereka sudah sampai di Kerajaan Orchid dan sudah waktunya untuk turun dari lindungan kereta kuda. Dikawal oleh prajurit kerajaan, mereka menginjakkan kaki ke singgasana raja. Di sana raja yang sudah diberitahu informasi mengenai kedatangan mereka, sengaja menunggu di takhtanya. Kabar pernikahan itu adalah sesuatu yang mengejutkan baginya. Mengingat tidak ada wanita yang mampu menarik perhatian sang duke. Di hadapan raja yang mana jaraknya sejauh lima meter, sang duke berhenti melangkah. Sedangkan Anastasia sempat lupa untuk mempertahankan jaraknya satu langkah di belakang sang duke. Untung saja di detik sang duke memberikan hormat pada Raja Sargon, dia langsung sadar dan memundurkan langkah sejajarnya. Seterusnya dia juga memberikan hormat seperti apa yang dipelajarinya tadi malam. "Maafkan atas kelalaian saya terhadap berita pernikahan yang datang saat duka masih menyelimuti Kerajaan Orchid, paduka raja." Raja Sargon menundukkan kepala sejenak untuk merenungi kematian Putri Haura. Menghormati Putri Haura yang tidak lagi ada bersama mereka. Menyelipkan harapan akan kebaikan Putri Haura yang akan terus tumbuh di Kerajaan Orchid. Tidak berlama-lama merenungi duka mendalam itu, kini kepalanya diangkat dan pandangannya langsung diarahkan kepada seorang wanita yang juga ikut menjadi saksi perbincangan mereka. Kemungkinan besar wanita itu adalah orang yang terlibat bersama sang duke dalam berita pernikahan. Tatapan itu disadari oleh sang duke rupanya. Lantas dia langsung mengambil alih situasi, "Anastasia berasal dari Distrik Statice di kerajaan Viscaria. Kami sudah mengenal lama dan kami memutuskan untuk menikah saat saya datang berkunjung. Kondisinya di sana tidak memungkinkan untuk ikut bersama saya ke Kerajaan Orchid." Raja Sargon ingat ketika sang duke diutusnya ke kerajaan Viscaria untuk menyelesaikan konflik dagang. Menurutnya mungkin pada waktu itu pernikahan terjadi. Namun, kenapa berita pernikahan baru tercium sekarang? Memangnya hal apa yang membuat berita itu harus disembunyikan? Bukankah itu adalah kabar bahagia yang mana akan lebih baik dibagi dengan semua orang? Sang duke yang sudah mempersiapkan segala kemungkinan pertanyaan yang ada tidak membiarkan kerutan di dahi Raja Sargon berdiam terlalu lama, "Saya bermaksud untuk memberitahukannya dengan membawa langsung Anastasia ke hadapan paduka raja, tapi semua tidak berjalan sesuai rencana karena duka yang kita terima." Raja Sargon paham setelah mendengar penjelasan itu. Dia tidak bisa ikut campur dengan siapa sang duke menikah. Dibandingkan itu meski Kerajaan Orchid sedang diliputi oleh duka cita, pernikahan seharusnya dirayakan dengan suka cita. "Saat ini kita sedang berkabung, tapi kita tidak bisa membiarkan kebahagiaan ikon Kerajaan Orchid dirayakan dengan hal yang sama," mengentakkan jemarinya secara bergantian, memikirkan perayaan apa yang bisa diberikan. Dia tidak bisa memperlihatkan pada rakyatnya suka cita di atas duka cita. Biar bagaimanapun kematian putri Haura masih baru, "Jamuan makan malam di istana kerajaan apakah sudah cukup untuk merayakan kebahagiaan kalian?" "Sungguh suatu kehormatan bagi kami bisa merayakan pernikahan di atas meja yang sama dengan paduka raja," jawab sang duke tanpa adanya bantahan. *** Anastasia mondar-mandir di dalam sebuah kamar. Tempat itu adalah fasilitas dengan kelas mewah yang diberikan padanya untuk beristirahat selagi jamuan makan malam dipersiapkan. Kegelisahan sudah merayapinya sejak tadi. Bahkan dia sampai mengunci pintu hanya untuk memastikan tidak ada orang yang bisa masuk ke dalam ruangan tersebut. Saat ini dia sendirian berada di mulut buaya tanpa perlindungan apa pun. Setelah tawaran jamuan makan malam, dia diminta untuk meninggalkan singgasana raja. Sementara Raja Sargon akan membahas sesuatu yang penting bersama sang duke. Kedatangannya di kamar itu dituntun oleh pelayan dan beberapa orang prajurit. Bayangan mengerikan akan pelayan serta prajurit yang saling bekerja sama untuk menangkapnya tidak berhenti melintas dalam benaknya tadi. Dia sampai menoleh ke arah pelayan dan prajurit secara bergantian hanya untuk memastikan kalau tidak ada pergerakan mencurigakan. Hal itu terus dilakukannya berulang kali. Bayangan buruk lainnya melintas kembali dalam pikiran. Bagaimana jika terkuncinya dia di dalam kamar sekarang adalah kesempatan bagi pihak kerajaan untuk menangkapnya? Bisa saja sang duke dan Raja Sargon sedang membicarakan dia sekarang, bukan? Lalu kalau dia terkunci bagaimana dia bisa lari dari kejaran? Pada akhirnya Anatasia memutuskan untuk keluar dari ruang peristirahatan. Di luar sepi tanpa ada pelayan atau prajurit terlihat. Lagi pula istana kerajaan sangat besar dan tidak mungkin setiap meternya ada prajurit yang berjaga. Mungkin dia akan menemukan prajurit di sisi lain. Untuk sekarang dia akan berdiri di luar kamar saja agar nanti ketika gerombolan prajurit datang dan ingin menangkapnya, dia bisa bersiap-siap kabur. Hingga malam menjelang sang duke masih belum kembali. Anastasia semakin resah dan akhirnya memutuskan untuk menyusul sang duke. Sebenarnya dari tadi dia sudah memendam rasa dongkol pada sang duke. Pria itu sungguh tega menelantarkannya seorang diri di kerajaan yang begitu luas. Semenjak pelariannya dari Distrik Syringa, dia memang menjalani hidup seorang diri. Tetapi sekarang setelah dihadapkan dengan ruangan yang mana hanya ada dia saja, bulu kuduknya harus dibuat merinding. Tidak ada yang melewati lorong sekitar kamarnya sejak tadi. Hanya ada beberapa suara yang menggema dari lorong lain. Baru saja dia berpikir akan lorong yang sepi tanpa ada orang yang melewati, tiba-tiba di ujung sana seseorang datang. Seperti apa rupa wajahnya dia tidak tahu karena kepala orang asing itu ditutupi oleh tudung. Hanya tubuh kurus tetapi kukuh saja yang bisa dia kenali sebagai seorang pria. Selain itu pakaian yang dilihatnya juga tidak mencerminkan seseorang dari kerajaan. Siapa orang asing itu sebenarnya? Mereka saling berhenti di lorong berbelok. Lama berdiam pada rasa penasaran di jarak empat meter mereka. Anastasia ingin bertanya siapa gerangan orang asing itu, tetapi isyarat langsung ditujukan padanya. Telunjuk yang mengarah ke bibir itu sedang memintanya untuk diam. "Anastasia," sang duke tiba-tiba muncul menampilkan ekspresi kebingungan, "Apa yang kau lakukan di luar? Tidakkah kau merasa kedinginan? Kita akan sampai di Distrik Edelweiss tengah malam nanti. Tidak ada persiapan mantel yang bisa membantu kita menghangatkan tubuh dari udara malam." Dari sisi bahu sang duke yang menghadap padanya, Anastasia melirik orang asing yang keberadaannya masih sama di tempat tadi. Kini dia memang harus diam karena ibu jari pria itu perlahan mengitari leher seolah menjadikannya sebagai pedang ancaman yang mana kalau dia tidak menuruti perintah itu, maka dia akan lenyap. "Lebih baik kita kembali ke dalam kamar," membalikkan tubuh dengan gerakan kaku. Di balik punggung Anastasia, sang duke tidak lagi tersenyum seperti tadi. Belatinya disimpan kembali dan langkahnya dibawa menyusul langkah yang sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar. Di depan pintu dia berhenti dan memutar kepalanya ke kiri agar bisa menatap lorong kosong yang mana tadinya ada seseorang di sana. Lorong didekorasi dengan lentera yang berisikan lilin dan api sebagai penerangan. Sebelum menyapa Anastasia, dia sudah melihat sebuah bayangan yang mana pemiliknya berada di lorong yang berbeda dengan lorong kamar yang disediakan untuk mereka. Suasana yang terasa janggal membuat dia bersiap dengan segala ancaman yang ada. Belati yang selalu dibawa langsung diselipkan ke telapak tangan hingga orang yang melihatnya nanti berpikir kalau itu adalah tangan kosong saja. Namun, hal yang tidak bisa diprediksi sebelumnya adalah kehadiran Anastasia yang berada di luar. Sehingga ada tiga bayangan yang dia lihat. Bayangan Anastasia, bayangan dirinya sendiri, dan juga bayangan yang ada di belakangnya. Dia sengaja mengulur waktu dengan membicarakan perihal mantel sambil membaca bagaimana ekspresi Anastasia. Tatapan yang dia lihat tampak diselimuti oleh ancaman yang mana berarti memang ada seseorang di belakangnya. Menyampingkan itu semua, sang duke melangkah masuk ke kamar. Di dalam sana Anastasia yang berbaring langsung bangkit ketika dia masuk. Sementara itu sang duke hanya berdiri saja sambil melipatkan tangan ke d**a memperhatikan Anastasia yang duduk dalam kondisi canggung. "Berdirilah. Kita akan menghadiri perjamuan." Anastasia bergeming dari duduknya dan napasnya diembuskan kuat-kuat. Dia masih dongkol dengan sikap sang duke yang membiarkannya seorang diri di tempat asing ini. Apalagi sekarang sang duke sama sekali tidak merasa bersalah sedikit pun. "Kau menolak untuk makan malam?" Sayang sekali Anastasia harus membungkam mulut demi harga dirinya. Dia sangat lapar dan ingin sekali mengangguk sambil berkata "Ya." Menyusul makanan lezat kerajaan yang kini pasti sedang menantinya. Tidak adanya respons, sang duke akhirnya membuat keputusan sendiri, "Baiklah. Aku akan menghadiri perjamuan seorang diri. Kau bisa melanjutkan istirahatmu di sini," membalikkan badan sambil melepaskan lipatan tangan. Anastasia langsung bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah sang duke. Langkahnya cepat melampaui sang duke dan keluar dari kamar lebih dulu. Kemarahan kian membara menghadapi tidak pekanya sang duke terhadap kesalahan yang telah dilakukan, meninggalkannya seorang diri di dalam mulut buaya. Sikap yang bagaikan anak kecil itu menarik kedua ujung bibir sang duke. Tidak ingin ketinggalan, dia menyusul langkah itu. Namun, ketika langkah lebarnya berhasil menyusul, dia selalu ditinggalkan oleh langkah Anastasia yang semakin cepat. "Anastasia." Panggilan itu berhasil menghentikan langkah Anastasia. Masih memasang raut wajah kesal dia menoleh pada sang duke yang jaraknya tidak lagi dekat dengannya. Dia tidak langsung bersuara agar sang duke lebih dulu mengatakan apa yang ingin dibicarakan padanya. "Kau tahu?" memperhatikan raut wajah Anastasia yang tampak kebingungan, "Arahmu salah." Anastasia menoleh ke arah jalan yang akan dilaluinya. Di sana terdapat jalan buntu. Hanya tembok menjulang yang sulit dilihat ujungnya. Dia sudah melangkah jauh dan baru sekarang sang duke memperingatinya. Rasa kesalnya semakin bertambah saja pada sang duke. Tanpa pikir panjang Anastasia memutar arahnya dan menambah kecepatan melewati sang duke begitu saja. Dia bisa mendengar suara tawa kecil yang seolah sedang mengejeknya saat ini. Menyebalkan!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN