"Saya sudah mengirim pesan pada mata-mata yang ada di distrik Syringa. Di perbatasan nanti dia akan membuat prajurit yang berjaga lengah agar tuan bisa menembus gerbang."
Anastasia menyentuhkan tangannya pada kuda yang akan dinaiki nanti bersama sang duke. Baru sekarang dia secara langsung merasakan bagaimana kuda sebenarnya karena selama ini dia hanya melihatnya saja dari jauh. Dulu ketika masih bekerja di Réserve, dia pernah mendapat tugas untuk memerah s**u sapi. Di kandang yang berbeda ada seekor kuda namun dia tidak boleh menyentuhnya sama sekali. Pemiliknya sangat pelit.
Kuda yang ada di depannya sekarang berwarna legam dengan perawakan tubuh yang mengesankan. Tidak heran karena penunggangnya adalah sang duke. Orang yang punya kemampuan untuk memiliki kuda terbaik. Di samping itu binatang peliharaan juga mencerminkan pemiliknya. Kuda itu terlihat seperti sang duke yang kekar.
Dari Flint perhatian sang duke tersita pada Anastasia yang mana seperti terpesona dengan kudanya. Dia menyelesaikan percakapan dan beranjak menghampiri Anastasia. "Bukankah Borneo sangat tampan dan memikat hati?"
Anastasia menjauhkan tangannya dari kuda tersebut. Dia melirik sang duke yang berdiri di dekatnya. Menyentuhkan tangan pula pada kuda itu kini, mengusapnya lembut layaknya seekor kucing yang butuh diberi kasih sayang melalui usapan. Tampaknya kuda itu senang akan sentuhan pemiliknya.
Sejak tadi mulutnya sudah gatal untuk bertanya namun pertanyaan yang memenuhi pikiran akhirnya lolos juga. "Borneo?"
"Aku menamakan kuda ini Borneo. Kuda perang berjenis Friesian. Borneo sangat anggun dan gerakannya tangkas ketika ditunggangi." Menawarkan tangan pada Anastasia. "Kau bisa merasakannya ketika sudah menaikinya." Mengedipkan mata kemudian.
Sudah waktunya mereka untuk berangkat sebelum matahari menampakkan sinarnya. Anastasia akhirnya menerima tawaran dengan mengulurkan tangannya. Kemudian dia dibawa menghampiri sisi samping Borneo. Dia menginjak sanggurdi dengan dibantu oleh sang duke yang mana sengaja memegangi pinggulnya agar dia bisa sampai ke punggung kuda. Perlakuan tidak sopan itu seketika membuat wajahnya merona merah.
Namun, dia tidak bisa mendebatnya karena masih ada Flint di sana. Dia sudah menikah dengan sang duke dan melihat ketidakharmonisan di dalam hubungan rumah tangganya dan sang duke hanya akan membuat Flint curiga. Terpaksa dia harus diam dan melupakan kejadian itu.
Sang duke kemudian ikut naik ke punggung kuda. Duduk di belakang Anastasia dengan mudahnya, lalu meraih tali kekang kuda. Tali kekang tidak langsung diayunkan karena sang duke ingin Anastasia mempersiapkan diri terlebih dahulu. Biar bagaimanapun seperti yang diamatinya tadi mungkin saja Anastasia baru pertama kali menaiki kuda.
Untung saja Pirsa membuatkan celana panjang untuk Anastasia sehingga dia tidak kesulitan bergerak. Ditambah jubah bertudung yang akan membantu penyamaran. Tidak lupa sepatu bot yang menutupi kaki sampai ke tungkai. Semuanya diberi kesan sederhana tanpa ada unsur kata 'Mewah' yang mana hanya akan mengganggu jalannya penyamaran.
Begitu pun dengan penampilan sang duke untuk keberangkatan hari ini. Sengaja penampilannya dibuat seperti orang biasa saja. Tidak akan ada yang mengira jika pemimpin sebuah distrik ada di balik jubah bertudung itu.
Anastasia menegakkan tubuhnya dan tanpa sengaja membentur d**a sang duke. Setelah itu dengan sendirinya dia mencondongkan tubuh ke depan dan menunduk dalam-dalam. Dia kebingungan bagaimana harusnya posisi yang baik ketika menaiki kuda.
Hal itu disadari oleh sang duke dan langsung saja bahu yang menunduk itu ditegakkan kembali. "Kau tidak perlu menunduk terlalu dalam." Hanya memberi jarak kurang dari satu jengkal saja di antara mereka. "Cukup dengan jarak seperti ini, aku bisa melihat ke depan dengan jelas." Dia meremas bahu yang selalu tegang itu agar bisa lemas ketika dibawa berkuda nanti. "Menunggangi kuda adalah salah satu bentuk dari olahraga." Menundukkan kepalanya sampai mencapai telinga Anastasia. "Kau hanya perlu rileks." Bisiknya dengan nada menggoda, lalu menegakkan kepalanya kembali sembari tertawa kecil.
Mendengar ucapan yang bertujuan untuk menggoda itu, wajah Anastasia harus dibuat merah kembali. Dia sungguh sedang mencerca sang duke sekarang dan sudah meletup ingin berhamburan keluar, tetapi semua itu harus ditahannya karena masih ada Flint bersama mereka.
Anastasia menoleh ke kiri menghadap Flint. Menciptakan sebuah senyuman di balik paksaan agar tidak dicurigai. "Apakah kita bisa pergi sekarang, Luce?"
Sang duke menghela napas panjang sembari menatap lurus ke depan. "Pegang yang erat, Anastasia." Ucapnya sembari mengayunkan tali kekang kudanya, meninggalkan Flint yang termenung seorang diri.
Sepeninggal sang duke dan Anastasia, Flint jadi teringat bagaimana pertemuannya dengan Myla pertama kali. Waktu itu Morning Glory sedang membutuhkan pelayan tambahan dan di saat itulah mereka bertemu. Dia menjadi pengawas ujian pelayan dan Myla yang bersenandung ketika ujian sedang berlangsung menarik perhatiannya. Begitu santai tanpa beban di saat semua pelamar sangat gugup menghadapi ujian dengan diawasi oleh para prajurit.
"Apa yang sedang kau lakukan pagi buta begini di sini?"
Flint menolehkan kepala dan melihat siapa yang datang membuatnya segera menutup mulut itu dengan tangannya dan menggiringnya ke tempat yang lebih aman untuk berbicara. Baru setelah itu tangannya dijauhkan. Dia hampir kewalahan tadi jika yang datang bukan Myla. Penampilan sang duke dan Anastasia akan mengundang pertanyaan bagi penghuni Morning Glory dan mereka menghindari hal itu demi tidak adanya kebocoran informasi.
Sebelum berbicara Flint memastikan kembali kalau memang tidak ada orang lain selain mereka. Menengok ke sekeliling dan hasilnya mereka bisa aman untuk membicarakan perihal dua orang yang baru saja meninggalkan Morning Glory.
"Duke Lucherne dan nyonya Anastasia baru saja berangkat ke distrik Syringa."
Myla mengangguk-anggukkan kepala seperti memahami sesuatu yang mana membuat Flint kebingungan. "Pantas saja nyonya Anastasia membangunkan aku pagi sekali."
"Membangunkanmu?" Memiringkan kepala menginginkan penjelasan atas kebingungannya.
"Ya." Menganggukkan kepala tanpa terselip keraguan. Pikirannya menerawang kejadian di saat dia dibangunkan. "Nyonya meminta bunga teluki yang didapatkan dari Helian kemarin."
Sebenarnya bunga teluki yang jatuh kemarin adalah bunga yang diberikan oleh Helian untuk Anastasia. Sayangnya karena kelalaiannya membuat Myla harus merelakan bunga teluki yang diberikan Flint padanya.
Terlebih dari itu entah untuk apa Anastasia memerlukan bunga teluki yang mana seharusnya tidak perlu dibawa dalam perjalanan. Mereka tidak tau dan hal itu menimbulkan pertanyaan di benak mereka masing-masing. Jika disimpan demikian pentingnya sampai diangkut ke distrik Syringa, apa mungkin akan diberikan pada seseorang? Tetapi dari makna bunga teluki itu sendiri harusnya Anastasia memberikannya pada sang duke dan untuk memberikannya tidak perlu menunggu waktu lama karena Anastasia selalu bertemu dengan sang duke. Jika bukan diberikan untuk sang duke, lalu untuk siapa? Apakah bunga itu akan diberikan pada pria lain?
"Astaga!" Ujar mereka serempak langsung diselimuti oleh kegelisahan. Tidak tau akan seperti apa kemarahan sang duke nanti ketika mengetahui sang istri bermain mata dengan pria lain.
Meskipun kegelisahan mereka bermuara ke tempat yang sama namun kenyataannya jelas berbeda. Myla yang hanya mengetahui kalau kedua pasangan itu menikah atas dasar saling mencintai, orang ketiga jelas tidak diharapkan dalam hubungan tersebut. Sedangkan Flint yang beranggapan kalau di dalam pernikahan kerja sama itu baru sang duke saja yang jatuh hati pasti akan memercikkan api kecemburuan jika Anastasia dekat dengan pria lain.
***
Menghilangnya Anastasia masih menyisakan kesedihan mendalam di hati Liana. Di mana anaknya itu sekarang? Bagaimana keadaannya? Dia sungguh sangat mengkhawatirkannya dan juga sangat merindukannya.
"Semakin hari pekerjaannmu semakin buruk saja." Mendengus kesal sembari melipatkan tangan ke d**a. Senyumnya sinis melihat Liana dari atas sana.
Kesadaran Liana ditarik paksa saat mendengar suara majikannya. Liana segera bangkit dari jongkoknya dan menunduk hormat. "Maafkan atas kelalaian saya, nyonya."
Majikannya itu bernama Wyanet, pemilik perkebunan terbesar di distrik Syringa. Lebih tepatnya suaminya Wyanet yang memilikinya. Namun, wanita yang ada di hadapannya sekarang terkenal akan keangkuhannya. Bahkan menurut kabar yang pernah didengarnya dari teman-teman kerjanya, bayaran para pekerja juga diselundupkan oleh Wyanet dari sang suami. Sungguh sangat tamak sebagai wanita yang sudah digelimangi harta kekayaan.
Para pekerja tidak bisa berbuat apa-apa karena memang selain angkuh, Wyanet terkenal suka menindas atas kekuasaan yang dimiliki. Tidak ada yang berani mengadukan perbuatan Wyanet yang semena-mena itu. Jika ada yang mengadukannya sudah pasti akan diberi pelajaran oleh Wyanet.
Sayangnya Liana yang mengambil jadwal kerja lebih pagi dari biasanya agar mendapatkan waktu pulang lebih cepat untuk menemani anak-anaknya, mengharuskannya bertemu dengan Wyanet. Biasanya majikannya itu akan bangun pagi sekali setiap akhir pekan untuk melihat pekerjaan para pekerja dari awal sampai akhir.
"Beruntung aku datang ke kebun kalau tidak, pekerja kecil sepertimu akan menerima bayaran saja tanpa mau bekerja keras." Melirik Liana dari atas sampai bawah. Pekerjanya itu sangat kumal dan membuatnya tidak berselera untuk membiarkan matanya lama-lama menatap. Dia memalingkan pandangan ke arah lain. "Biar bagaimanapun kau sudah lalai dan aku harus mendisiplinkanmu. Bulan ini bayaranmu akan aku potong setengahnya."
Setengahnya? Majikannya sungguh sudah gila. Hasil jerih payahnya saja sudah diselundupkan dan kini harus dipotong setengahnya? Apa yang akan didapatkannya dari uang yang terbilang sangat sedikit itu?
Liana yang hanya memikirkan bagaimana mencukupi kebutuhan Hana dan Hani langsung bersimpuh dan memohon di kaki Wyanet. "Saya mohon maafkan saya, nyonya. Tolong jangan potong gaji saya." Dia sampai menitikkan air mata.
Wyanet berusaha menyingkirkan Liana dari kakinya. "Lepaskan aku!"
"Saya berjanji akan bekerja lebih baik lagi. Saya mohon, nyonya. Hanya dari pekerjaan ini saya menyambung hidup."
"Peduli apa dengan hidupmu." Menendang keras Liana hingga tersungkur mengenai tanaman yang baru bertumbuh itu. Bertambah marah Wyanet dan dia langsung menghardik Liana. "Kau sungguh tidak tau diuntung! Seharusnya kau bersyukur kalau aku hanya memotong gajimu saja." Membalikkan badan dan berlalu pergi dengan kesalnya.
Sekarang bagaimana Liana harus mencukupi kebutuhannya? Selama ini ada Alicia yang akan membantu namun semenjak kepergian anaknya itu, dia harus bekerja seorang diri. Ditambah kejadian tadi membuatnya harus kehilangan setengah bayarannya.
***
Mereka sudah berada dekat dengan distrik Syringa. Tidak jauh dari persembunyian mereka, gerbang distrik dapat terlihat. Mereka tidak langsung menembus gerbang karena mata-mata yang dinanti masih belum terlihat. Oleh karena itu mereka harus menunggu di balik semak-semak yang membantu mereka bersembunyi.
"Untuk apa kau membawanya?" Melirik bunga teluki yang ada dalam genggaman Anastasia. Sebenarnya sebelum mereka berangkat, dia sudah melihatnya. Tetapi, dia mencari waktu yang pas mengatasi keinginannya untuk bertanya.
"Apa urusanmu dengan aku yang membawanya atau tidak?" Anastasia beranjak dari sisi sang duke. Berdiri di sisi Borneo yang mana sengaja dibuat duduk agar tidak terlihat.
Keheningan membentang luas di antara mereka untuk beberapa saat. Baru terlihat mata-mata yang dinanti dan di saat itu pula sang duke menampakkan sedikit dirinya agar mata-mata itu tau kalau rencana sudah bisa dijalankan. Tidak butuh waktu lama karena keributan langsung terjadi. Prajurit yang menjaga gerbang langsung mengelilingi mata-matanya itu.
Tidak ingin membuang-buang waktu, sang duke langsung menggendong Anastasia seperti sebuah karung. Memanggulnya di atas bahu. Seketika aksi itu mendapat penolakan keras dan punggungnya dipukuli berulang kali. Anastasia tidak berhenti meronta dan meminta untuk dilepaskan.
"Diamlah atau kita akan ketahuan." Penuh kehati-hatian berjalan di tepi dinding. Secara bersamaan memantau bagaimana gerak-gerik para prajurit yang masih sibuk berkerumun di sana.
Anastasia terpaksa diam dalam posisi yang sangat memalukan itu. Kepalanya harus dibuat menghadap tanah dengan pinggulnya menungging ke atas. Dia tidak berhenti mencerca dalam hati dan betapa dia ingin meneriaki sang duke sekeras-kerasnya.
Namun, demi lolosnya mereka memasuki distrik Syringa dia harus menahan keinginan itu. Kerinduannya pada ibunya dan juga adik-adiknya tidak boleh usai sampai di situ saja. Dia sudah menjalani kompromi yang sangat panjang agar bisa datang ke distrik kelahirannya. Alhasil yang bisa dilakukannya hanya pasrah dipermalukan oleh sang duke.
Sang duke sudah terlatih melangkah tanpa mengeluarkan suara. Hal itu adalah alasan mengapa dia harus menggendong Anastasia. Dia tidak ingin langkahnya nanti membuat Anastasia berjalan tergesa-gesa dan mengeluarkan suara yang bisa mengalihkan perhatian para prajurit. Padahal mereka harus cepat dan tidak boleh membuang-buang waktu sedikit pun.
Setelah jauh dari gerbang dan mendapatkan tempat aman, baru sang duke menurunkan Anastasia. Membiarkan wanita itu mengatur napas terlebih dahulu karena letak organ yang terbalik tadinya. Dia menunggu sembari memperhatikan bagaimana Anastasia menghirup dan menghela napas.
Anastasia yang sudah menstabilkan napasnya langsung melontarkan apa yang ingin dikatakannya sejak tadi. "Kau sangat kurang ajar! Menyamakan wanita seperti karung beras!"
Dia sudah menanti dan apa yang didapatkannya adalah cercaan. Kenyataan itu sungguh membuatnya kesal. Apalagi ketika melihat betapa bersikerasnya Anastasia melindungi bunga teluki itu. Tidak membiarkan sedikit kelopak pun tersentuh.
Tanpa memedulikan Anastasia, sang duke kembali melanjutkan perjalanan. Dia menyusuri gang yang mana sudah sedikit terang. Tudung kepalanya dibuka untuk sementara waktu agar dia bisa menikmati bagaimana keindahan matahari yang akan memunculkan diri sebentar lagi.
"Aku belum selesai bicara!" Berjalan cepat menyusul sang duke yang jaraknya belum terlalu jauh itu. "Tidakkah kau mendengarkanku?"
Awalnya sang duke tidak ingin meladeni namun melihat kegigihan Anastasia yang ingin sekali berbicara dengannya membuatnya mau tidak mau harus meladeni. Dia berhenti melangkah dan menghadap pada Anastasia. "Aku tidak pernah tau kalau ada karung beras yang begitu ringan seperti bulu angsa."
"A-apa? Ringan? Bulu angsa? Kau sedang mencercaku sekarang?!"
Dengan tampang tidak bersalahnya sang duke melanjutkan langkah. Membiarkan Anastasia yang masih menggerutu di belakang. Setelah ini mereka akan mencari tempat tinggal sementara selama berada di distrik Syringa.