Bab 11: Bermain di Dapur

2115 Kata
Sang duke tidak melihat siapa-siapa lagi ketika menoleh ke asal suara. Hingga langkah pertama membawanya dapat melihat orang yang dicari dari tempat dia berdiri sekarang. Dia tidak tahu apa yang dilakukan Anastasia dengan posisi berjongkok di sisi ranjang. Satu hal yang dia tahu yaitu Anastasia tampak menggigil tanpa balutan pakaian. Kulit pundak dan punggung itu lembap seperti habis dibasuh dengan air. Dia juga bisa melihat kalau rambut panjang itu meneteskan air dan membasuh lagi kulit yang lembap. Dia memundurkan langkah dan mencari-cari sesuatu yang bisa menutupi tubuh Anastasia. Tidak ada pakaian apa pun di dalam lemari karena memang belum ada pakaian yang tersedia di sana. Orang yang akan merancang pakaian untuk Anastasia masih belum datang. Pada akhirnya sang duke memilih selimut sebagai jawaban. Dia menjadikannya sebagai kain pelindung untuk menggantikan pakaian yang sudah basah. Dia memberikannya langsung tanpa melirik ke arah Anastasia yang memalingkan pandangan darinya. Sebenarnya sah saja jika dia melihat bagian dari diri Anastasia karena mereka adalah sepasang suami istri. Lagi pula mereka juga sudah melakukan malam pernikahan yang mana sudah saling melihat satu sama lain. Tidak ada lagi yang dapat mereka sembunyikan seharusnya. Namun, mungkin saja Anastasia masih butuh pembiasaan. Terlepas dari identitas sebagai seorang pembunuh, Anastasia tetaplah seorang wanita. Melihat dari cara berinteraksi sepertinya Anastasia memang baru pertama kali dekat dengan seorang pria, polos dan canggung. Apalagi di dalam kereta tadi, Anastasia langsung memelotot ketika terbangunkan oleh panggilan Flint. Wanita itu sempat menengok ke kanan dan ke kiri seperti orang kebingungan. Dia tahu kalau Anastasia ingin beranjak, akan tetapi dia sengaja menahannya. Tidak ada yang tahu betapa merahnya wajah Anastasia saat dia mencoba untuk bersikap dominan. Anastasia melepaskan pakaian basah yang sejak tadi digenggam erat, lalu menggantikan genggamannya dengan selimut yang kini dibawa untuk menutupi seluruh tubuh. Dia perlahan bangkit dan menyingkir dari posisinya agar pakaian basah tidak menyentuh selimut yang kering. "Biarkan pelayan yang mengurusnya," sadar kalau Anastasia berniat untuk memungut pakaian yang basah, "Orang yang akan merancang pakaianmu masih belum datang. Mungkin terkendala beberapa urusan. Aku akan menyuruh seseorang memeriksanya. Untuk sekarang Myla yang akan menyiapkan pakaian untukmu." Ketukan pintu memunculkan para pelayan yang bertugas pagi itu datang membawa air hangat dan juga persiapan lainnya. Seperti biasa para pelayan langsung menuju kamar mandi menyiapkan segalanya. Setelah itu dengan rapi keluar dari kamar mandi untuk menerima aba-aba selanjutnya dari Myla. "Mari, Nyonya. Air hangat sudah siap." Alis sang duke mengernyit dalam setelah menyadari kalau Anastasia mandi tanpa air hangat yang baru saja siap untuk dipakai. Pantas saja tubuh itu sangat menggigil. Ternyata Anastasia lebih dulu mandi dengan air dingin. Selain itu alasan pakaian basah tadi juga karena handuk yang baru dibawakan sekarang oleh pelayan. Sang duke melirik pakaian yang menggantung di tangan salah seorang pelayan, "Tinggalkan saja pakaian Anastasia di sini dan bawa pakaian basah yang ada di lantai." Myla sedikit kebingungan sebelum melaksanakan perintah. Tanpa bertanya dia mengisyaratkan pada pelayan untuk meletakkan pakaian ke atas ranjang, kemudian mengambil pakaian basah di lantai. "Mulai sekarang sediakan air hangat untuk satu orang saja di malam hari dan gantungkan handuk di kamar mandi. Tidak perlu membantu Anastasia membersihkan diri karena aku yang akan membantunya." Semua wanita di sana terkejut mendengar perintah lantang sang duke. Wajah mereka langsung merah membayangkan sesuatu dengan bebas. Sebenarnya sesuatu seperti mandi bersama adalah hal yang wajar dilakukan oleh pasangan yang sudah menikah, akan tetapi menjelaskannya dengan lantang cukup membuat malu meradang di ruangan itu. Myla langsung mengambil tindakan. Tidak membiarkan pikiran bebas berlama-lama menghinggapi para pelayan, "Saya mengerti, Tuan," undur diri diikuti pelayan lainnya. Setelah pintu ditutup, Anastasia yang wajahnya sudah merah padam baru berani bersuara. Semua kalimat yang sudah dirangkai menjadi satu dan ingin dikeluarkannya secepat mungkin pun akhirnya menemukan jalan keluar, "Dasar kau! Pria yang tidak tahu malu!" Sudah sering kali sang duke menerima makian sejak mengenal Anastasia. Tidak mempermasalahkan bukan berarti dia tidak mendengar. Baru kali ini dia dimaki oleh seorang wanita dan tentu saja sangat melekat di kepalanya. Sang duke beranjak menghampiri Anastasia dengan cepat, sedangkan yang dihampiri semakin mengeratkan pegangan pada selimut. "Kau mau apa?!" melangkah mundur seiring sang duke melangkah mendekati, "Berhenti atau aku akan teriak!" Anastasia terus mundur sampai tidak bisa lagi melangkah. Dia melupakan selimut yang menjuntai ke lantai dan kini diinjak olehnya. Bisa saja dia terjatuh jika memaksa langkah mundurnya lebih jauh. Untuk pertahanan selanjutnya dia mengeluarkan tangan dari dalam selimut dan bersiap untuk menampar sang duke. "Dasar pria m***m!" Tamparan yang akan melayang berhasil dihentikan saat itu juga. Sang duke menahan tangan Anastasia yang masih terangkat ke atas. Anastasia berusaha melepaskan cengkeraman itu, tetapi terlalu kuat dan tidak bisa gentar oleh kekuatan yang seakan tidak ingin melepaskannya. "Kau harus belajar yang namanya sopan santun, Anastasia," senyuman yang tercipta di wajah sang duke di peruntukkan mengejek, "Siapa yang kau sebut tidak tahu malu dan m***m? Mereka akan mengejekmu jika kau menuduh suamimu begitu." Dalam suasana bersitegang itu tiba-tiba perut Anastasia berbunyi. Mengeluarkan gemuruh yang bisa didengar jelas oleh kedua orang tersebut. Anastasia memalingkan wajah lantaran sangat malu telah mengacaukan argumen yang kini berbalik arah padanya. Perutnya sungguh tidak tahu malu. Sang duke melepaskan cengkeraman dan membalikkan badan. Dia berbicara sambil berlalu ke kamar mandi, "Kenakan pakaianmu dan tunggu aku sampai selesai mandi. Setelah itu kita akan pergi sarapan." Anastasia memaki diri sendiri di dalam hati. Suara perutnya yang bisa dibilang lumayan kencang itu sangat memalukan untuk didengar. Apalagi suara gemuruh muncul di waktu yang tidak tepat dan merupakan sebuah malu yang harus ditanggung. Menyampingkan rasa malu yang masih melekat di kamar itu, Anastasia mengenakan pakaian yang ditinggalkan untuknya. Rambut yang sudah setengah kering disisir rapi dan digerai bebas begitu saja, lalu kakinya diayunkan keluar dari kamar. Di ujung lorong tampak pelayan sedang membawa troli makanan. Dia menyusulnya, tetapi hanya sampai belokan tempat di mana pelayan tadinya muncul. Dia tidak mengikuti ke mana arah tujuan pelayan membawa makanan karena lebih tertarik mendatangi dari mana makanan itu berasal. Dari balik pintu dia mengintip ke dalam ruangan besar yang mana ada banyak koki di sana sekarang sedang sibuk memasak. Padahal hanya sarapan pagi untuk dua orang saja namun kenapa harus begitu sibuk? Apa para koki di Morning Glory juga menyiapkan makanan untuk penghuni lainnya? Anastasia pun masuk ke dalam dapur karena tidak bisa menahan keinginannya. Betapa tangannya sangat gatal untuk ikut serta dalam kesibukan itu. Dia terus memasuki dapur hingga bisa berdiri di sebelah koki yang kini menumis bahan makanan. Di sana dia mematung dan menatap lekat ke arah wajan yang mengepulkan asap. "Pelham, bisakah kau mencucikan sayuran untuk salad terlebih dahulu?" tanya seorang koki wanita. Koki pria di sampingnya kemudian menoleh ke belakang dan menjawab dengan cepat, "Baiklah, Royanne!" kembali menatap lurus ke depan. Anastasia bisa melihat jelas raut wajah pria yang bernama Pelham berubah kesal setelah memalingkan muka. Mungkin juga bercampur bingung karena di sisi lain bumbu makanan yang ditumis hampir matang sedikit lagi. Di saat yang bersamaan Pelham juga harus mencuci sayuran untuk salad. "Menu apa yang akan kau buat?" "Tidak bisakah kau melihat kalau aku sedang sibuk? Siapa pun itu tolong jangan ganggu pekerjaanku," memasukkan kentang dalam bumbu yang ditumis, lalu dicampurnya merata. Anastasia mengamati bahan-bahan yang ada di dekat Pelham. Melihat dari bahan apa saja, sepertinya dia tahu menu apa yang akan dibuat, "Aku bisa membantumu. Kau akan membuat sup salmon asap, bukan?" Pelham menolehkan wajah pada orang yang mengganggunya. Tebakan itu jelas benar adanya. Dia memang akan membuat sup salmon asap. Bagaimana ada yang bisa tahu soal itu? Sebentar saja dia terkesima hingga dia sadar kalau menu pagi ini sudah didiskusikan oleh jajaran koki terlebih dahulu. Tentu saja akan ada orang yang tahu menu apa yang akan dibuatnya. Namun, wanita yang ada di depannya sekarang tidak pernah terlihat selama dia bekerja di Morning Glory. Apakah wanita itu baru direkrut? Hanya koki yang bisa masuk ke dalam dapur dan kemungkinan orang luar berada di dapur sangatlah kecil. "Kau masih belum mendapatkan seragammu?" tanyanya menarik sebuah kesimpulan. "Apa?" Anastasia berpikir sejenak sebelum menjawab, "Y-ya ...," mungkin itu adalah apa yang harus dia ucapkan. "Oh, ya ampun! Nanti akan aku tanyakan mengenai seragammu pada kepala koki," menuangkan kaldu dan krim ke dalam wajan, "Untuk sekarang bisakah kau membantuku menanganinya?" mengalihtugaskan pegangan wajan, "Kau tinggal menunggu masakan ini sampai mendidih, lalu biarkan hingga kuahnya menggelembung selama sepuluh sampai lima belas menit. Sampai kentangnya benar-benar lembut. Jangan lupa tambahkan salmon asap setelah itu," ucapnya cepat dan tidak menunggu jawaban, lalu beranjak pergi dari sana. Anastasia tidak membantah tugas yang diberikan padanya karena memang dia yang ingin ikut andil dalam pembuatan masakan itu. Lantas dia dengan senang hati melanjutkan masakan sesuai intruksi yang diberikan. *** Apa yang terjadi jauh berbeda dari apa yang diperintahkan. Seharusnya mereka keluar bersama-sama, tetapi perintahnya tidak didengar. Sang duke tidak menemukan Anastasia di dalam kamar. Ke mana wanita itu? Menghilangnya Anastasia mengingatkannya pada pelarian yang selalu terjadi berkali-kali. Dia berharap tebakannya salah kalau tidak, dia akan benar-benar marah kali ini. Anastasia jelas tidak boleh kabur dari Morning Glory. "Kalian melihat Anastasia?" tanya sang duke pada prajurit yang berjaga di sekitar kamar. "Saya melihat nyonya berjalan mengikuti pelayan ke ruang makan, Tuan." Sang duke bisa bernapas lega karena sekarang dia berpikir kalau Anastasia sudah sangat kelaparan sampai harus pergi lebih dulu ke ruang makan. Sejak tadi malam Anastasia selalu membahas makanan. Ditambah perut yang berbunyi tadi membuatnya tidak heran kalau Anastasia akan nekat membantah tanpa tahu risiko yang akan ditanggung. Akhirnya sang duke beranjak ke ruang makan namun justru anggapannya langsung berubah saat itu juga. Tidak ada Anastasia di ruang makan tersebut. Hanya ada meja yang sudah dipenuhi makanan dan juga para pelayan yang sibuk menata alat makan. "Di mana Anastasia?" nadanya tinggi sampai mengejutkan semua orang yang ada di dalam sana. Hanya geleng kepala yang didapat sebagai balasan atas pertanyaan. Sang duke keluar dari ruang makan bertepatan dengan sekelompok prajurit yang baru saja datang untuk memasuki ruang makan. Mereka semua langsung menunduk hormat. Sudah waktunya bagi penghuni Morning Glory menyantap sarapan dan seperti biasanya akan berkumpul di ruang makan. "Kumpulkan seluruh penghuni Morning Glory sekarang juga!" Flint yang mana ikut dalam anggota kelompok itu langsung bersuara, "Tapi semua koki pasti sedang sibuk di dapur sekarang, Tuan," sedikit mengerutkan dahi lantaran bingung untuk apa sang duke ingin mengumpulkan seluruh penghuni. Terbakar kemarahan, sang duke berjalan ke arah dapur seorang diri. Kalau tidak bisa perintah itu dilaksanakan, dia yang akan menyuruh semua koki untuk berkumpul. Sebelum Anastasia pergi terlalu jauh, pokoknya dia harus menemukannya secepat mungkin. Dia tidak bisa membuang-buang waktu hanya karena alasan koki yang tidak bisa dikumpulkan. Baru saja sampai di ambang pintu, satu koki yang melihat kedatangan sang duke segera menjalar ke koki yang lain. Mereka menghentikan pekerjaan dan berdiri menghadap sang duke. Tidak pernah pemimpin Distrik Edelweiss mengunjungi dapur. Hal itu merupakan sebuah penghargaan besar bagi mereka. "Maafkan saya, Tuan. Dapur sangat berantakan. Sebaiknya Tuan tidak melangkah lebih jauh dari posisi yang sekarang," ucap Bailey yang mana adalah kepala koki di Morning Glory. Sejenak mereka hening dan di saat itu pula bunyi denting piring terdengar. Sepertinya masih ada orang yang sibuk di belakang sana. Mereka semua menengok ke belakang dan menyuruh orang yang masih sibuk tersebut agar segera berhenti karena sang duke sedang berada di dapur. Sudah seharusnya pekerja dapur memberi hormat atas kunjungan berharga itu. "Hey! Anastasia!" Pelham berbisik dengan nada suara yang terdengar keras. Mendengar nama Anastasia disebut, sang duke tanpa pikir panjang melangkahkan kaki melewati sekelompok koki yang ada di hadapan sehingga menciptakan jalur tersendiri di antara koki-koki tersebut. Hingga pada akhirnya dia bisa melihat jelas siapa orang yang sibuk di belakang sana. Anastasia mencelupkan telunjuknya ke dalam mangkuk yang berisi kuah, lalu mencicipnya diam-diam. Di saat yang bersamaan pundaknya disentuh dan membuatnya mau tidak mau harus membalikkan badan. Dia mendelik kaget mengetahui sang duke berada di depannya. Jari telunjuknya diturunkan cepat dan disembunyikan ke belakang tubuh, "A-aku hanya mencicipinya sedikit saja." Sang duke memperhatikan Anastasia dari ujung kepala sampai ujung kaki. Jemari-jemari itu berdiri tanpa alas. Ditambah rambut yang digerai bebas yang mana bisa saja mengganggu jalannya aktivitas di dapur. Wanita di depannya jelas tidak mempersiapkan apa-apa sebelum masuk ke dapur. Semua koki memakai seragam yang tertutup untuk melindungi kulit, sedangkan Anastasia datang dengan terusan yang mana kedua pundak terbuka lebar. Bisa saja cipratan minyak panas mengenai kulit yang terbuka itu nantinya. Sang duke menarik lengan Anastasia, lalu membawanya menjauh dari semua penghuni Morning Glory. Tentu saja Anastasia tidak terima perlakuan berlebihan sang duke. Dia memberontak dan meminta untuk dilepaskan. Sayangnya kekuatan yang dikeluarkan sia-sia. Dia berhasil dibawa masuk ke sebuah ruangan yang tidak diketahuinya. Apa yang bisa dilihat adalah di ruangan itu terdapat meja yang panjang dan kursi yang banyak. Selain itu juga ada berbagai macam bunga yang menghiasi ruangan. "Aku hanya mencicipi sup itu sedikit saja. Kalau kau tidak menyukainya, kau bisa mengatakannya saja padaku. Tidak perlu memperlakukan aku dengan kasar di depan semua orang." Sang duke memutar tubuh Anastasia tanpa menggubris gerutu itu. Melihat apakah keadaan Anastasia baik-baik saja. Sampai setelah memeriksanya dia bisa bernapas lega karena tidak ada luka apa pun yang ditemukan. Anastasia baik-baik saja. "Kau ingin mati?" Anastasia mengernyitkan alis, "Apa?" menghela napas kasar sambil meletakkan kedua belah tangan di pinggang, "Pemimpin seperti apa kau sebenarnya? Menghukum mati seseorang hanya karena mencicipi makanan!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN