Setelah perdebatan sengit di pinggir jalan. Mereka akhirnya memasuki kerestoran. Ida hanya mengikuti apa yang mereka lakukan padanya. Kalau-kalau Ida dibunuh dan di buang pun, tidak ada yang bisa dilakukannya. Dan sampai di dalam ruangan. Dalam restoran terjadi perdebatan lagi. Ida merasa sungguh beruntung, masih ada orang yang membelanya sampai segitunya. Hingga Ida masih dengan keadaan menunduk, mendengarkan kelanjutan perdebatannya tadi. "Apa yang terjadi. Dan tolong bicara yang baik dan pelan, karna saya adalah saksi sekaligus penentu nasibmu akan dipenjara atau tidak." Tegas Mas yang membela Ida. "Kamu mengancamku!". Teriak Ida dengan mendongak. "Tenanglah. Kita bisa berbicara dengan tenang, tanpa harus berdebat dan menyakiti." Ejeknya dengan menyeringai. "Wanita yang itu ad

