"Baik. Baik, saya faham." Ucap Ibu mertua sinis. "Dimana aku harus tanda tangan?" Lanjut Ibu bertanya dengan tidak sabaran. "Di sebelah sini." Tunjuk Ady sambil mengambil bolpoin dari dalam tas yang dibawa. Ellen sendiri tidak menyadari, kalau Ady bisa sedetail ini menangani masalah yang dialaminya. Padahal Ellen yang memiliki masalah saja, tidak punya sesikitpun fikiran untuk menyiapkan apapun. Apalagi sampai membuat surat perjanjian. Apa mungkin? Pak Ady berfikir, menghadapi orang licik harus dengan cara yang licik juga? Atau hanya untuk berjaga-jaga? Ah, apapun itu. Semoga setelah ini semua menjadi lebih baik, dan masalah dengan keluarga Mas Meki selesai. "Nih, sudah. Mana uangnya?" Tanya Ibu dengan menengadahkan tangan. "Ini, surat yang satu buat Ibu simpan. Yang satu, saya yang

