Unboxing Adelia.

1104 Kata
Happy reading. Adelia terperanjat hebat ketika ia mendengar Dewantara memanggilnya, ia kaget bukan main. Seperti pencuri ketahuan oleh pemilik rumah, dan akhirnya Adelia hanya diam saja tanpa mengeluarkan satu kata pun. "Adelia, saya tanya sama kamu. Kenapa nggak dijawab?" "Ma-maaf, sepertinya aku lelah Om. Adelia mau istirahat dulu." Adelia menutup pintu kamarnya, lalu ia tidak lupa mengunci. Tujuannya agar Dewantara tidak akan masuk begitu saja, malam ini sepertinya Adelia ingin tidur lebih awal tanpa adanya Sejak jam 08.00 malam, Adelia memang tidur di dalam kamarnya. Dan baru bangun ketika pukul 12.00 tengah malam, ia terbangun karena merasakan perutnya yang lapar akibat tidak makan ketika sore tadi. "Lapar sekali perutku, sepertinya aku harus mengisi perutku sekarang, kalau tidak aku akan lemas nantinya." Begitulah Adelia, sejak kecil ia memang terbiasa makan lebih dahulu. Dan setelah itu ia akan tidur kembali, Adelia selalu melakukan hal tersebut sampai saat ini dan anehnya ia tidak merasa tubuhnya gendut seperti orang-orang. "Kamu lapar tengah malam? Kenapa hanya makan buah saja?" Degh. "Om Dewantara, sedang apa di sini?" tanya Adelia gugup. Saat ini Dewantara memang sedang mengerjakan berkas yang ditinggalkan oleh Irgi, dan baru sekarang ia bisa beristirahat. "Saya belum tidur sejak kamu masuk ke dalam kamar, baru saat ini saya akan tidur. Apakah kamu lapar?" "Maaf, Om. Aku-" Cup. "Makan sekarang Adelia, setelah itu kamu istirahat kembali. Saya nggak akan mengganggumu nanti," Adelia menatap Dewantara aneh, malam ini ia merasakan kecanggungan diantara mereka berdua. "Om, minum apa?" tanya Adelia penasaran. "Sepertinya enak sekali." "Ehm, minuman yang selalu menemani saya ketika sedang banyak kerjaan." Saat ini Dewantara memang sedang membawa satu gelas kosong, Adelia memperhatikan dengan seksama dan membuat ia ingin tahu apa yang diminum oleh Dewantara. "Kamu mau mencobanya? Nanti saya buatkan untukmu." "Mau, Om. Aku mau mencoba minuman yang dibuat sama Om, sepertinya enak sekali." "Tunggu disini, saya akan membuatkan untukmu." Adelia tidak percaya bahwa saat ini Dewantara sedang meracik minuman yang akan Adelia coba, ia terpesona dengan Dewantara yang menurutnya paket lengkap. "Kenapa wangi sekali, apa aku sudah boleh mencobanya?" Dewantara terkekeh, ia menyukai Adelia yang polos seperti ini. Menurutnya Adelia sangat menggemaskan. "Ini minuman khusus untuk orang dewasa, kamu tidak boleh mencobanya Adelia." "No, aku sudah besar Om. Aku mau mencoba minuman itu, sepertinya memang sangat enak." "Saya tidak yakin, karena kamu belum melihat semuanya." Adelia diam, apa yang ada di otaknya berputar-putar seperti biasa. Jika ia ingin sesuatu dan tidak mendapatkannya, ia akan mencari cara agar Adelia mendapatkan secara langsung. "Kalau aku perlihatkan semua yang ada di tubuhku, apakah Om mau berikan minuman itu?" tunjuk Adelia. "Kamu mau tunjukan apa sama saya, coba jelaskan." Tanpa basa-basi, Adelia lalu membuka satu persatu kancing piyama yang saat ini ia pakai. Lalu membuka piyama tersebut hingga hanya terlihat belahan dadanya yang masih terbungkus bra berwarna hitam. Dewantara menelan salivanya, ia benar-benar tidak percaya apa yang diperlihatkan secara live dari Adelia. Bentuk buah d**a Adelia yang masih terbungkus rapi itu membuat Dewantara kembali b*******h. "Ini Om, aku sudah buka semua. Benar kan sudah gede," "Om belum lihat semuanya, karena masih terbungkus sama bra kamu." "Terus, Om mau lihat yang mana lagi?" Dewantara mengarahkan jarinya menuju pengait bra yang berada di depan, sepertinya memang Adelia menyukai bra model simpel tanpa ribet. Tak. "Om, kenapa semua dibuka? Aku malu." "Ini, coba kamu rasakan sedikit dulu. Setelah kamu meminumnya, katakan apakah enak minuman ini atau tidak." Adelia tersenyum senang, ia lalu meminum dengan cepat. Rasa aneh yang Adelia rasakan itu membuat sensasi panas di tenggorokan, namun beberapa detik kemudian Adelia menginginkan lagi. "Om lagi, enak minumannya." "Ternyata Adelia menyukainya, benar-benar anak ini." Racikan yang Dewantara berikan bukan s**u coklat atau minuman soda, Dewantara memberikan segelas minuman yang sedikit memabukkan. Niat untuk mengerjai Adelia itu sebenarnya hanya dalam pikiran Dewantara saja, namun anehnya ternyata berhasil, Dewantara menuangkan kembali satu gelas untuk Adelia dan ia tidak tahu reaksi Adelia selanjutnya. "Ehm, kenapa rasanya seperti ingin terbang." "Tidurlah Adelia, sepertinya kamu sudah mabuk." "Mabuk? Jadi itu minuman memabukkan. Aku mengira Om berikan aku s**u coklat," Dewantara mengangguk pelan, ia akhirnya memberitahukan bahwa minuman itu sangat memabukkan. Kadar alkohol yang dimiliki lebih dari 5%, dan untuk yang tidak biasa sudah pasti akan mabuk. "Om, Adelia mau tidur. Tapi jalam saja nggak bisa." "Lalu, saya harus apa? Mengendong kamu?" Adelia mengangguk yakin, ia tidak mungkin jalan ke kamarnya yang berada di lantai 2 dengan sempoyongan. Mau tidak mau Adelia harus meminta Dewantara mengendongnya. "Kamu mau tidur di kamar atas atau bawah?" "Kamar bawah bukankah kamar Om." "Ehm, kamar saya. Kenapa, kamu mau?" Adelia mengangguk yakin, rasa mabuknya telah mulai ia rasakan. Dan entah mengapa ia begitu menyukainya kali ini. "Om, berikan satu lagi minuman itu. Aku mau merasakan sensasi memabukkan yang belum yang belum pernah aku rasakan sebelumnya." Adelia lalu meminum kembali, dan untuk ketiga kalinya ia sudah benar-benar mabuk. Bahkan ketika Dewantara mengendongnya ia sama sekali tidak merasakan. "Tidurlah Adelia, sepertinya kamu sudah-" Cup. "Om, bukankah mau lihat buah d**a aku yang sudah besar ini. Terus kenapa nggak Om lihat?" Lagi dan lagi Dewantara menelan salivanya, ia sudah bersusah payah untuk menghilangkan pikiran kotornya. Namun sepertinya Adelia memang sengaja membuat lelaki itu b*******h. "Coba lihat, semua sudah besar. Bagian ini saja sudah terlihat sempurna, lalu bagian bawah ini apalagi. Aku sudah besar Om dan bukan anak kecil lagi." Dewantara melihat apa yang ditunjukan oleh Adelia, buah dadanya yang terbungkus kembali bra. Lalu dengan sengaja Adelia buka pengaitnya, agar memudahkan Dewantara untuk melihat bagaimana bentuk keseluruhannya. "Coba Om lihat, sudah besar bukan. Walaupun belum ada ASI-nya, tapi pasti Om menyukai milik aku." Adelia tersenyum tipis, ia lalu mengarahkan buah dadanya kearah mulut Dewantara hingga masuk ke dalam mulutnya. Dan Adelia mengatakan agar Dewantara mencobanya untuk mengisapnya. "Coba rasakan Om, apakah buah d**a milik aku membuat Om mendesah." Hisapan pelan yang sengaja Dewantara berikan, agar Adelia tidak merasa kesakitan. Dewantara sengaja hanya bermain disekitarnya saja, namun sepertinya Adelia lebih agresif untuk menuntun kepala lelaki itu hingga lebih dekat. "Ah, itu enak bgt. Hisapan mulut Om membuat aku ingin lebih dari itu." Tidak hanya Adelia saja yang menikmati, Dewantara pun sama. Ia bahkan semakin lama mengisap keduanya secara bergantian. Ini pengalaman yang tidak akan terlupakan untuknya, setelah sekian lama tidak pernah menjamah tubuh seorang wanita. Dan malam ini Dewantara merasakan kembali sensasi b*******h yang Dewantara rasakan. "Anak ini sepertinya memang sedang menggodaku, aku tidak akan melepaskan setelah ini. Akan aku berikan semua yang kamu pinta Adelia sayang." "Om Dewantara, apakah mau yang lebih lebih dari ini?" Seperti kucing mendapatkan ikan goreng, Dewantara mengangguk pelan. Ia pun mengikuti arahan Adelia yang membuatnya semakin meminta lebih dari ini. "Adelia, aku nggak akan berhenti ditengah jalan. Kamu harus melakukan hingga tuntas," ucap Dewantara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN