Di satu ruang keluarga, ada empat anggota keluarga yang sedang menonton salah satu siaran televisi. Namun, di antara empat orang itu, hanya satu orang yang sedang sibuk menghafal Al-Quran.
Melihat kakaknya sibuk dengan Al-Quran, sang adik berdecak, "Ck. Serius amat sih ka," komentarnya.
Sang kakak tidak membalas, dan hanya membalasnya dengan senyuman.
"Tuh liat si Zidan. Lama-lama, keliatan banget mirip kamunya," ucap Aisyah, uminya Azam dan Zidan.
Faqih, yang berstatus sebagai suami sekaligus ayah tersenyum penjara. "Sudah cukup ya, Zahra sama Azam sikapnya jutek kaya kamu."
Aisyah mengerucutkan bibirnya. "Ish! Nanti gimana kalo Zidan suka godain cewe yang bukan mahramnya kaya kamu dulu, ya? Awas ya, Umi ga akan bertanggung jawab."
Faqih merangkul sang istri. "Ya gapapa dong," ucap Faqih sambil tersenyum dan dibalas dengan injakkan cinta dari Aisyah. "Sakit ihh."
"Yang penting kan, Abi gak pernah ngajarin anak-anak pacaran. Abi mah ngajarinnya nikah muda, ehehe." Faqih tertawa lepas, sementara Aisyah mengerucutkan bibirnya.
"Eh, umi, abi, liat nih. Nashilla cantik kan?" tanya Zidan sambil membuka i********: seseorang di ponselnya.
Dengan cepat, Aisyah merebut ponsel milik Zidan. "Ih umi mah gituu," keluh Zidan sambil mengerucutkan bibirnya.
"Kamu tau zina kan? Mata itu zinanya dengan melihat. Kalo kamu menguntit i********: cewe mulu, mau sampai kapan ngumpulin dosanya, ya? Mata kamu tolong dijaga, ya," ucap Aisyah yang meminta Zidan membuat tak dapat menerima kembali.
"Udah dong Umi yang cantiknya sedunia. Jangan marah mulu, kasian kan Zidannya," ucap Faqih.
"Lagian nih ya, Zidan itu bukan cuma suka sama Nashilla. Zidan nanti mau ngelamar Nashilla kalo udah lulus SMA." Zidan tersenyum jail ke arah orang tuanya.
"Kamu itu, masih kelas 10 SMA Zidan sayang. Jangan dulu mikirin nikah. Lebih baik kamu banyak belajar agama dulu," ucap Aisyah sambil mengelus kepala Zidan.
Zidan menyengir kuda yang menampilkan sederet gigi putihnya. "Tapi Umi, dulu Abi pernah nyuruh Zidan buat nikah muda," ucap Zidan polos.
"Iiih, Abi mah gak usah di dengerin. Asal kamu tau Nak, dulu Umi nangis gara-gara Abi suka godain Umi. Dan saat ini belum ada ikatan halal, gimana Umi gak kesel coba?"
Zidan menatap Faqih sekilas. “Abi nakal juga ya, Mi? Pantesan aja Zidan sekarang kaya gini, orang Abinya juga kaya gitu,” ucap Zidan kali ini membuat Aisyah terkekeh.
"Tapi kan sekarang Umi sama Abi sudah halal. Jadi bebas mau ngapa-ngapain juga," ucap Faqih sambil mencubit gemas pipi Aisyah.
Aisyah menginjak Faqih lagi dan berkata, "Sakit ih, maen cubit-cubit aja."
"Aku juga sakit, diinjek kamu."
"Ah yaudah deh, kalo Umi sama Abi mau pacaran, di kamar aja. Zidan mau sholat Ashar dulu."
Aisyah menatap tajam Zidan yang berlari meninggalkan ruang keluarga. "Zidaaaannn !!!!!"
"Kenapa sih, Mi?" tanya Azam yang tiba-tiba mengalihkan pandangannya pada Umi dan Abinya.
"Tuh liat adik kamu, udah jam lima sore baru mau sholat," ucap Aisyah logat.
Tiba-tiba, ponsel milik Faqih bergetar. Ternyata ada telepon dari seseorang, dengan cepat, Faqih pergi ke teras rumah untuk naiknya.
"Umi. Emang dulu Umi jutek ya sama Abi?" Tanya Azam sambil menghampiri Uminya.
"Kamu liat aja kakak kamu, Zahra, juteknya kaya gimana. Tapi, Umi lebih parah dari dia."
"Ooh ... pantesan ka Zahra kalo ketemu ikhwan suka judes, ternyata Umi yang mewariskan sifatnya."
Selang beberapa menit, Faqih kembali lagi ke ruang keluarga sambil menyimpan kembali ponselnya ke saku celananya.
"Telepon dari siapa, Bi?" tanya Aisyah penasaran.
"Dari cewe," ucap Faqih ketus.
"Oh," jawab Aisyah singkat sambil bangkit dari duduknya.
Faqih tau saat itu Aisyah marah. Aisyah hingga Aisyah terduduk. "Umi gak usah cemburu gitu dong. Abi Cuma bercanda kok, hehe."
Aisyah mengerucutkan bibirnya yang membuat Faqih gemas. "Bercanda ya? Haha, gak lucu!" ucap Aisyah.
"Ih Umii, jangan ngambek dong. Nanti cantiknya luntur loh," goda Faqih sambil mencubit pipi Aisyah.
"Bener kata Zidan Mi, kalo mau pacaran mending di kamar aja," protes Azam.
Faqih menatap Aisyah dengan tatapan penjara, sambil mengangkat kedua alisnya.
"Eh iya, Abi lupa. Tadi itu temen Abi nelpon, katanya dia minta biar dimulai diajarin ngaji. Kamu mau kan, ngajarin mengambil ngaji, Zam?" tanya Faqih pada Azam.
Azam berpikir sebentar. "Tapi kan, Azam nanti harus kembali lagi ke pesantren, Bi."
"Kalo gitu, setiap habis sholat Ashar di pesantren, kamu langsung ke rumah temennya Abi aja. Kamu ga perlu ikut kegiatan sakit, kalo masalah adzan harus biar Hikam aja yang ngurusin," ucap Faqih panjang kali lebar.
Azam tersenyum. Dia hanya diam. Jika Azam menolak, Tentu saja dia merasa tidak enak untuk Abinya. Hingga akhirnya, Azam menyetujuinya. Sebenarnya, Azam sedikit membantah, karena waktu untuk membaca Al-Qurannya di masjid utama pada waktu ashar terganggu oleh mengajar anak dari teman Abinya.
Azam. Begitulah orang mengundangnya. Seorang lelaki berkaki mata yang selalu santai menjalankan berbagai hal. Senyumannya yang manis, membuat hati senang terjatuh. Keramahannya, membuat semua orang semakin mengaguminya, termasuk kaum Hawa di Pesantren Al-Ikhlas. Membaca, membaca, dan membaca Al-Quran sudah menjadi hobinya sejak masih kecil. Semua orang akan sangat kesulitan jika diminta untuk mencari keburukan dari seorang Azam. Ibarat, semua yang menguntungkan ada pada Umi dan Abinya.
"Assalamualaikum, Om Faqih, Tante Aisyah, dan Azam," salam itu terucapkan oleh lelaki yang baru saja membuka rumah mereka.
"Waalaikumussalam, Dhan," jawab semua yang di sapa.
"Ada apa nih? Tumben amat Ente dateng kemari?" tanya Azam pada saudara sepupunya itu.
"Ini, Ane bawa kue buatan Umi. Dimakan ya Umi Aisyah, dijamin enak," ucap Ardhan.
Aisyah tersenyum. "Kue buatan Umi kamu memang paling enak kok," puji Aisyah.
"Dhan, Ane punya buku hadis sahih yang baru tuh, Ente mau baca gak?" tanya Azam.
Ardhan tertarik. "Hmm ... boleh juga tuh, Zam," ucap Ardhan.
"Yaudah, kita ke kamar Ane ," ajak Azam.
Begitulah Azam yang selalu mengajak sepupunya untuk membeli buku, ditambah buku tentang hadist, Azam senang. Hampir setiap hari mereka sedang membahas setiap hadist-hadist yang ada di dalam buku. Azam berhasil mengumpulkan ilmu agama sebanyak mungkin, agar salah satu cita-citanya dapat terwujud. Yaitu menjadi dokter setelah lulus kuliah di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Insya Allah.
"Zidan kemana, Zam?" tanya Ardhan yang berhasil membuat Azam tidak fokus lagi membaca buku.
"Zidan lagi di kamarnya, tadi sih dia sholat. Sekarang, mungkin dia lagi muraja'ah hafalannya," ucap Azam sambil kembali memfokuskan dirinya pada buku.
"Oh iya, hubungan Ente sama Fatimah, gimana?" tanya Ardhan.
Mendengar itu, Azam langsung menutup bukunya. "Fatimah temen masa kecil Ane , apa Fatimah anaknya Tante Qori?"
"Fatimah temen masa kecil Ente , Zam," jelas Ardhan.
Seketika, wajah Azam berubah menjadi lesu. "Ya gitu," jawab Azam singkat.
"Gitu gimana, Zam?" tanya Azam lagi.
"Bisa gak, Ente gak nanyain dia dulu? Ane sama dia gak mungkin ketemu lagi, dia juga mungkin udah lupa sama Ane ," ucap Azam lesu.
Ardhan menepuk pelan-pelan pundak Azam. "Tapi Ane yakin, kalo Ente sama Fatimah temen masa kecil Ente bakal ketemu lagi," ucap Ardhan seakan memberi semangat kepada Azam.
Azam tersenyum tipis. " Bi iznillah ," lirih Azam.
Di rumah yang sama, namun berbeda di dalam ruangan, ada yang membuka kekasih halal sedang membuka kue buatan Almira -uminya Ardhan. Dengan manja, Faqih meminta agar Aisyah menyuapinya. Begitulah Faqih, yang selalu meminta agar sang istri, Aisyah, menyuapinya.
"Ish! Manja amat sih kamu, selalu aja minta disuapin," ucap Aisyah sambil memasukan sepotong kue ke mulut Faqih.
Faqih tersenyum penjara untuk Aisyah. "Gapapa kali, Mi, lagian kan anak-anak kita udah pada besar, jadi gak perlu disuapin lagi. Nah, untuk Umi gak nyuapin siapa-siapa, memperbaiki nyuapin Abi yang imut nan manis ini, yakan?" ucap Faqih sambil mengangkat sebelah alisnya.
Sementara Aisyah saat ini sedang menunggu tahan senyumnya yang sudah lama semakin mengembang.
"Ih Umi, makin sayang deh kalo udah udah merah," ucap Faqih gemas, sambil mencubit pipi Aisyah.
"Udah selesai, ngegodanya?" tanya Aisyah.
Faqih menggelengkan sambil sambil tersenyum di Aisyah. " Uhibbuki fillah istri dan Uminya anak-anak Abi," ucap Faqih sambil merangkul Aisyah.
Aisyah tersenyum, manis sekali. "Anak-anak kita, Hubby ."
"Maksud Abi itu, hehe. Eh tunggu, sejak kapan Umi manggil Abi Hubby lagi?" Tanya Faqih.
Aisyah menahan senyumnya. "Barusan."
"Ah, Abi sangat merindukan panggilan itu. Semenjak kita punya anak, panggilan kita udah berubah menjadi Umi-Abi. Tapi, Umi tetep Humairahnya Muhammad Faqih Ath-Thalib ko," goda Faqih yang bisa membuat tangan Aisyah berubah warna menjadi berubah jadi.
"Udah ah, jadi merah gini, kan wajah Uminya," ucap Aisyah sambil tersenyum malu.
Faqih tersenyum penjara. "Ya gapapa lah Umi, lagian kalo Abi liat wajah Umi yang merah gini, makin nambah cinta Abi ke Umi."
"Kita udah tua ya, Bi?" ucap Aisyah pindah pembicaraan, lebih berhasil agar perpindahan tidak memerah lagi.
"Iya, kita udah tua. Tugas kita terus mendidik anak-anak kita, menjadi anak yang shalih shalihah. Agar kelak, mereka bisa menjadi alasan, masuknya kita ke surga Allah."
Aisyah mulai menitikan air melihat. " Uhibbuka fillah ya Hubby ," ucap Aisyah.
"Nanti di surga, kita kumpul bareng yah Humairah , sama Zahra, Azam, Zidan, dan semua keluarga kita," ucap Faqih bergetar memegang tangis.
Tangis Aisyah makin jadi-jadi Faqih memeluknya. Mereka senang, itulah waktu begitu cepat berlalu. Dan tanpa mereka sadari, kini anak-anak sudah hampir dewasa. Kelak, anak-anak yang akan melanjutkan kisahnya. Dari sini kah, kisah akan dimulai?
***