Namanya Harold.

1113 Kata
[ H A R O L D ] Laki-laki itu lebih tua dariku yang masih anak-anak. Maniknya biru keabu-abuan, terlihat seperti marble. Dia berdiri bertumpu lutut di hadapan, meraih telapak tanganku yang terdapat luka goresan panjang di sana. “Kau tidak aneh, nak,” tuturnya. Aku membelalak, beralih dari menatap darah ke arahnya. Sungguh? Aku tidak aneh? Dia mendenguskan senyum tipis seraya menutup telapak tanganku dengan telapak tangannya yang besar, menyatukan tangan kami seolah tak jijik pada darah yang bersimbah. Kurasa dia tak bermaksud menghiburku karena senyum itu menyiratkan kepedihan. “Kau sama sekali tidak aneh.” Wanita dengan manik yang sangat berbeda dan terlihat lebih tua darinya entah mengapa terus menatap dengan senyum lega dari sofa di belakangnya. Dia menoleh menatap pengasuhku di panti asuhan yang duduk di depannya lalu berkata, “Aku akan mengadopsinya.” “Nyonya, aku sudah menjelaskan soal situasinya—“ “Aku tidak masalah,” tekan laki-laki di depanku dengan nada penuh penekanan. Dia berdiri tak melepaskan tanganku, ikut menatap ibu pengasuh. “Kami tidak akan mengembalikannya ke sini seperti orang-orang lain karena kami menerima semuanya. Baik kondisi dan masalahnya.” Ibu pengasuh menatapku dengan perasaan ngeri yang tersirat, lalu dia menghempas napas lelah. Aku juga sama lelahnya. Berkali-kali pergi ke rumah baru, ke keluarga baru dan berkali-kali juga dipulangkan ke sini setiap aku terluka tanpa sebab. Karena itu, jika dua orang ini mengembalikanku lagi ke panti, aku ingin mengakhiri harapan berada dalam keluarga yang hangat dan memilih tuk mati. Drrrt! Drrrrrt! Kubangkit dari tidur, membelalak ke seisi kamar dengan paru-paru sesak. “Ck, again ....” Sungguh, mimpi yang membuat hariku buruk. Pintu kamar dibuka dari luar, laki-laki berparas Asia yang tampak lebih muda dariku menyembulkan kepalanya. “Harold?” Otomatis aku mengembang senyum dengan rasa tenang yang menyelimuti. Ah, benar. Semalam aku menemukannya. “Pagi, Dean.” “Aku mendengar teriakan dari dapur. Kau baik-baik saja?” tanyanya lagi sembari menghampiriku. Kuraih tangannya mengarahkannya ke puncak kepalaku. “Aku hanya memimpikan memori lama yang tak ingin kuingat.” Mendadak dia mengacak-acak suraiku. “Sini, aku akan menghilangkannya.” Aku terkekeh. “Caranya benar begitu?” “Cepatlah bersiap kalau kau ada pekerjaan. Sarapan sudah matang,” katanya yang kemudian keluar. Gambaran dapur di rumah Levine terlintas. Spirit Dean seperti biasa membelakangi, sibuk dengan masakan. Aku duduk sambil menggoyangkan kaki yang tidak cukup panjang tuk menapak, Levine di hadapan mengomeli agar aku makan dengan tenang. Aku menggeleng dengan cepat sebelum perasaan sedih kembali menghujani. “Sudah cukup, Harold. Kau mesti bangun dari semua lara itu,” tegurku pada diri sendiri. Selesai bersiap, aku pergi ke dapur. Kudapati Dean sedang berjongkok menatap tanaman di kebun indoor dekat lorong jalan masuk pintu belakang. Pemandangan baru melihatnya yang biasa berada di rumah bergaya Victoria, kini berada di rumahku yang sangat berbanding terbalik auranya. Di meja makan putih dengan goresan hitam abstrak ada fluffy pancake dengan krim putih di atas dan dua buah strawberry. Tak lupa kopi hitam sebagai penyemangat memulai hari. Erm ... dia lupa aku tidak suka kopi hitam. Dean menghampiri, berdiri di belakang kursi sebelah di pertengahan sarapanku. “Kau harus banyak makan. Sungguh, aku syok melihatmu begini sekarang ....” Aku tertawa datar. “Baik, asal kau yang memasak makanannya.” “Tentu aku tidak keberatan,” balasnya. “Apa kau juga masih menjauhi Moirai?” Tentu saja. Melihatnya hanya membuat darahku mendidih. Setelah mendengar Moirai di hari itu, aku langsung pergi dari sisinya menuju London—meski percuma tuk benar-benar menjauh dari dewi yang tau hampir segalanya karena dia diam-diam membayar tagihan listrik rumahku. Rumah ini sudah kumiliki sejak Levine mengusirku dan kutinggalkan selama beberapa bulan jika ada perlu di perkumpulan cenayang. Dulu, aku tidak pernah menempati rumah ini selama empat tahun karena benci merasa sendirian. Kurasa waktu berhasil mengubahku menjadi versi yang lebih baik di bagian itu. “Aku dengar semalam kau dan Nat bertemu dengan Moirai. Apa yang dia katakan?” Dean menunjukkan kegusaran. “Dia dan Nat berargumen tuk membawaku pergi dan akhirnya Moirai menelepon sir Graham tuk mengirimmu ke tempat kami.” “Tukang ikut campur, like always,” timpalku. “Kalau Nat tidak melawan, aku sudah di bawa olehnya.” Aku menganggukkan kepala sembari memotong pancake dengan pisau. Kami sempat berargumen juga semalam dan aku langsung tau kalau Natalie tidak mudah mengalah. Kami mengutarakan kebencian masing-masing terhadap Moirai, sampai Dean teringat sesuatu dan mengalihkan pembicaraan. “Aku lihat Fania di tempat yang tak jauh dari sini,” tuturnya dengan nada sendu. “Ya. Moirai masih memperkerjakan Fania di Youth cafe di kota ini.” Aku pernah menghampirinya seminggu setelah kudengar berita kepergian Levine dan kepindahan perempuan itu ke London. “Dia tidak ingat apa pun soal Stratford, jadi aku yakin dia tidak ingat soal kita.” “Gila sekali. Dia yang mencantumkan Fania dalam kehidupan kita dan dia juga yang mengusirnya.” Dean melirik kopi yang tak kuminum. “Aaah, kau tidak suka kopi, ya? Maaf ....” “Tak apa.” Aku meraih kopi, meminumnya agar Dean tak menunjukkan raut sedih lagi. “Aku belakangan ini mulai mencoba semua kopi.” “Begitukah?” Dia mengambil cangkir kosong itu, membawanya ke wastafel. Aku mengerang dalam hening merasakan pahit yang tertinggal di lidah dan tenggorokan. “Makan malam nanti mau apa?” tanyanya yang memunggungiku. “Apa saja. Kau sebutkan saja barangnya kalau tidak ada di kulkas.” Dean kembali terlihat merajuk sembari berbalik dengan tangan yang dipenuhi busa sabun. “Ah, itu juga membuatku stres. Kau tidak pernah memasak dan selalu memesan atau makan di luar. Itu tidak sehat.” Aku tertawa karena dia mengoceh seperti seorang ibu. “Hei, makanan di luar ada yang sehat.” “Tidak. Kau tidak tau kualitas bahan yang mereka pakai. Bisa saja mereka memakai daging yang sudah dua hari di kulkas.” Dean mengerang jijik, kembali meneruskan kegiatannya. Dean tidak berubah sejak dulu. “Baiklah, Ma’am, aku tidak akan makan di luar lagi. Kecuali rekan kerjaku yang mentraktir.” “Baiklah, itu pengecualian. Menolak traktiran itu tidak baik.” Ya ampun, perutku bakal sakit tertawa terus. “Di sini juga tak ada bedanya dengan Stratford, ya? Aktivitas spiritnya juga terlihat tinggi.” “Ya, aku dengar dari rekan cenayangku kalau menjelang musim gugur dan musim dingin, spirit biasanya menggila.” “Monster juga. Sebelum aku ditangkap, aku melihat monster yang berkumpul di hutan. Mereka berkumpul, duduk di atas batang pohon seperti burung-burung liar dengan mata memicing saat aku melintas. Aku belum pernah melihat yang seperti itu sebelumnya,” lanjut Dean. “Coba sebutkan ciri-cirinya. Kebetulan aku spesialis monster,” kataku. Dean ber-hmm panjang. “Entahlah ... mereka berada di kegelapan jadi yang kulihat hanya kilat kuning dari manik matanya.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN