Setelah menyetujui pembayaran kerusakan rumah, pihak penyewa mulai memperbaiki rumahku. Meski aku diminta membayar seperempatnya, tetap saja jumlah segitu cukup besar. Aku berjanji membayarnya di tanggal dua puluh tujuh, setelah mendapat gaji dari perkumpulan. Aku juga sudah memberitau Ibu soal biaya itu. “Mau disesali pun, sudah terjadi. Tidak aneh rumah seorang cenayang sering rusak atau hancur,” ucapnya yang tumben sekali terdengar menyemangati. “Ibu akan kasih uang lebih, kan?” “Siapa yang bilang begitu? Kau pasti bisa bertahan dengan jumlah uang yang sama.” “Iya, kalau aku makan udara saja,” sarkasku. “Kalau begitu bujuk Harold agar kau bisa menumpang selama sebulan.” Aku mendecak kesal. “Ibu!” “Aku dengar kau pindah ke rumah Aliza. Dasar pemalu, kau hanya akan membebankannya,”

