[ H A R O L D ]
Klien yang Nat tangani wafat dan dimakamkan pagi ini. Mendengar kabar itu dari tuan Graham.
“Harold?”
Kuangkat kepala. Laki-laki Asia itu menghadapku dengan pisau di tangan. “Ada apa? Kau mengerutkan dahi sampai terlihat tua.”
Aku tertawa singkat. “Pekerjaan. Sekarang ini sedang ada fenomena supranatural yang aneh,” tuturku sembari meraih roti lapis buatan Dean dan menyantapnya segigit.
“Sejak seminggu aku merasa daerah ini semakin ramai, mungkin itu, ya,” balasnya yang kembali menghadap talenan dan memotong apel.
“Kau tidak bisa keluar rumah, tapi bisa tau?”
“Tentu. Kan mereka bakal jadi urusanku kalau sampai masuk halaman rumahmu.”
“Wah, kau sangat multitalenta.” Jika benar spirit itu yang membuat kekacauan, maka semakin jelas keberadaanku tidak dibutuhkan. Aku tak bisa melihat mereka, yang kupunya hanya kutukan. Kutukan bloodlust.
Ponsel di meja kembali bergetar, kali ini nomor asing memanggil. Aku mengangkatnya. “Halo?” ujarku ragu.
“Mr. Harold?”
“Ya, aku sendiri. Siapa ....”
“Aku Natalie. Natalie Austryn.”
Mataku mengerjap. “Nat? Dari mana kau tau nomorku? Aku belum memberikannya secara langsung.”
“Dari sir Graham dan aku menelepon lewat telepon seseorang karena baterai ponselku habis. Apa sekarang kau ada klien?”
Aku tak pernah ada klien karena laporan pasti datang dari perkumpulan, tapi aku yakin dia juga belum tau soal jabatanku, jadi, ya, sudah. “Tidak ada.”
“Datang ke mari. Aku ingin bicara soal tim.”
“Sungguh?” tanyaku mencoba meyakinkan dirinya yang jelas menentang ide itu kemarin.
Kudengar decakan dari seberang. “Cepat, sebelum aku semakin marah padamu.”
“Okay, kau di mana?”
“Mari bertemu di Youth Cafe dekat Finsbury Park.”
Sebelum aku bicara, dia sudah mematikan panggilan. Aku mengerah keluh, “Banyak tempat selain di sana.”
Mulutku terasa pahit mengingat Fania, tapi aku harus tetap pergi. Kuraih jaket jeans tuk membalut hoodie agar aku tak terlihat terlalu santai, lalu aku berangkat.
Kuparkirkan mobil di parkiran taman Finsbury, melangkah ke Youth cafe yang berseberangan. Langsung kudapati Natalie di meja pojok tanpa jendela sedang menatapku sinis dengan tangan bersedekap. Jujur, aku takut.
Aku berdeham sembari duduk di depan perempuan bersurai pirang itu. “Aku datang secepat yang aku bisa.”
“Aku sudah pesan Milktea untukmu, kau tidak keberatan, kan?” tekannya—mungkin itu nada bicaranya yang biasa tapi bagiku dia terdengar mengintimidasi.
Aku mengangguk, tersenyum lebar berharap bisa meringankan ketegangan suasana.
Seseorang datang dan segera menaruh dua gelas plastik Milktea di depanku dan Natalie. Aku tidak berani mengangkat wajah tuk melihat wajahnya. “Thanks.”
“Hey, pacarmu?” bisik pelayan yang sangat terdengar olehku. Suaranya asing sekaligus familier.
Natalie mendorong pergi pelayan yang cekikikan itu. “Ayo ke taman. Aku butuh banyak oksigen agar bisa membicarakan ini.”
Aku meraih gelasku, lalu mengekorinya ke taman di depan Cafe. Hari cukup terik dan berangin, cuaca yang pas tuk berjalan kaki.
Perempuan bersurai pirang yang memimpin jalan masih memakai baju serba hitam serta baret berwarna senada. Ini kali kedua kulihat surainya digerai.
Mendadak dia berhenti, memiringkan badan, bicara padaku dengan mata menatap sungai. “Aku setuju soal tim.”
“Kau mau setim dengan angsa di sana?”
Matanya melirik julid. Aku langsung menyesali candaan tadi. “Sorry ....”
Nat menyentuh dahi sambil memejamkan mata. “Bisa serius? Aku tak mau ada candaan saat ini.”
Sudah dua kliennya yang meninggal, pasti dia sangat terpukul.
“Bisa, tapi kalau kita duduk di sana. Di sini terik sekali, aku tak bisa melihatmu,” balasku yang sejak tadi mengernyitkan mata.
Aku menyeruput Milktea dan duduk menghadap sungai dibatasi pagar hijau pudar yang sudah terkelupas catnya dan berkarat. Angsa dan dua anaknya menepi, mengepakkan bulu-bulu, mencipratkan air ke sekitar dan berkilap-kilap.
Di belakangku ada taman bermain anak-anak dengan seluncuran kecil, kotak pasir dan ayunan. Mereka tertawa girang, saling kejar, berebut dan berargumen dengan bahasa yang tidak orang dewasa mengerti.
Kutatap gelas Milktea. Hmm, kenapa rasanya bisa beda dengan teh s**u di rumah? Padahal sama-sama teh dicampur s**u.
“Sudah dengar soal Mr. Owen?” katanya yang juga menyeruput minumannya.
“Ya. Kau sudah berusaha, Nat. Jangan salahkan dirimu sendiri.”
Dia mendengus tawa. “Berusaha apanya, aku membiarkannya mati di hadapan dan aku tak menyadari itu,” sarkasnya.
“Kau sempat bicara pada Mr. Owen? Apa saja yang kau dapatkan soal spirit ini?”
“Aku tak dapat petunjuk. Dia cuma bilang kalau dirinya tidak gila, tidak kerasukan.” Nat terlihat kalut. “Namun, mendadak cermin pecah, tak ada spirit masuk dan dia pergi.”
Aku menegang teringat suatu kalimat. ‘Cermin atau kaca adalah pintu. Baik monster dan spirit bisa menggunakannya sebagai jalan pintas, tapi tidak semua. Tidak hanya itu, monster pintar punya cara lain menggunakan cermin.’
Aku sedih mengingatnya, tapi itu ucapan Levine dulu, jauh sebelum aku diusir dari rumah itu.
“Sungguh tidak ada yang keluar dari cermin?” tanyaku.
Dia menatapku. “Keluar dari cermin? Tidak. Aku yakin tak ada yang aneh dengan cermin itu. Aku terus mengawasi sekitar.”
“Mungkin kau sempat tak melihat ke arah cermin beberapa menit dan sesuatu keluar dari sana dan langsung bersembunyi,” usulku.
“Maksudmu aku lengah?” ketusnya.
Ah, aku salah menyusun kalimat dan kembali membuatnya kesal. “Tidak, aku bilang apa pun itu yang menyerang Mr. Owen gerakannya terlalu gesit dan mungkin pintar menyembunyikan diri.”
Natalie mengentakkan napas. “Aku memasang penangkal, jadi aku ragu spirit bisa ada di dekat Mr. Owen lama-lama—“ Matanya membulat. “Dia bukan spirit.”
“Hmm?” ujarku.
Mendadak dia berdiri. “Kau tau banyak monster, kan? Apa saja yang memiliki kemampuan hipnotis atau menggunakan ilusi?”
“B-banyak—“
“Sebutkan!”
“Tenang!” Kuraih kedua pergelangan tangannya sambil menatapnya langsung. “Tenangkan dirimu agar aku bisa mengatakan rinciannya,” gumamku.
Nat mengangguk cepat, kembali duduk dengan cepat. “Jadi, apa saja?”
Melihat sikapnya yang berubah tiba-tiba benar-benar sesuatu. “Bagaimana kalau kita pindah tempat ke rumahku? Di sana aku banyak menyimpan salinan laporan lama yang bisa kita jadikan ensiklopedia.”
“Kenapa kau tidak bilang sejak kemarin?”
Aku mengangkat bahu. Tebak siapa yang menolak menjadi tim kemarin?
Kami pun segera ke rumahku setelah dia memesan Milktea di Youth Cafe lagi. “Kau sangat menyukai minuman itu, ya?” kataku yang menunggu di mobil dan melihatnya masuk.
Nat membanting pintu mobil. “Aku perlu ini tuk berpikir keras.”
“Biasanya orang memerlukan kopi.”
“Aku tak bisa minum kopi. Perutku bakal sakit.”
Aku tersenyum. “Same here.”
Sesampainya, Dean membuka pintu, menyambut kami di area depan rumah yang jalan masuknya juga dikelilingi taman indoor.
Aku menjatuhkan rahang saat Dean menatap Milktea yang Natalie bawa. Ah, benar. Dia pernah bilang kalau dia kesal soal aku makan di luar.
“Kalian ke Youth Cafe?” tanyanya.
“Kau tau?” tanya Nat sembari mengangkat Milktea itu.
Manik Dean langsung bergeser padaku, menatap risau. Kubalas dengan senyum tipis. Tenang saja, aku tidak kalut karena itu.
“Kalian sudah makan siang di luar?”
Nat berjalan masuk. “Tidak. Aku juga tidak sarapan dari pagi.”
Dean senang mendengarnya. “Kalau begitu kubuatkan sesuatu. Apa yang kau mau, Nat?”
“Makanan yang ringan dan pas disandingkan dengan Milktea ini.”
“Ah, croissant?”
Nat menjentikkan jari. “Bingo. Eh, tidak apa aku merepotkan begini?” tanyanya padaku.
Aku berkata. “Anggap rumah sendiri.”