Aku tak suka

1345 Kata
[ H A R O L D ] Aku rasa Natalie marah padaku, tapi aku tidak tau kenapa. Rasanya aku tak mengatakan sesuatu yang menyinggung .... Apa mungkin gara-gara aku tidak memberitau lebih rinci soal Levine? Sepenasaran itu kah? Mengingat pertemuan tidak sengaja diriku dengan Nat membuatku mengingat persoalan baru yang sir Graham ucapkan waktu itu. “Banyak orang meninggal belakangan ini, Harold,” ujar pria paruh baya itu dengan raut memancarkan kekalutan. “Semua itu karena kerasukan misterius.” “Apa spirit yang ditangani sangat kuat, sir?” tanyaku. “Tidak ada spirit.” Aku mengerjap. Dia menangkap kebingunganku. “Mereka dilaporkan tewas karena kerasukan, padahal tidak ada spirit negatif dalam diri mereka. Namun, mereka berhalusinasi berat, menjadi sakit lalu meninggal dalam kurun waktu seminggu,” sambung Sir Graham. “Kalau begitu, seharusnya Anda memanggil cenayang spirit tuk berunding soal ini, sir.” “Tidak. Aku memintamu untuk menelaah lagi soal ini dari sudut pandang spesialis monster.” Aku nyaris tersedak mendengarnya. “Anda terlalu melebih-lebihkan, sungguh. Apanya yang spesialis monster,” candaku, meski aku cukup percaya diri untuk menyandang julukan itu. Sir Graham tersenyum sejenak. “Ah, gawat. Aku kembali memikirkan orang yang sudah pergi,” gumamnya yang kutebak teringat Levine karena kata ‘spesialis’. Baru setelah sir Graham memberitahu soal beberapa korban, Nat datang, masuk ke ruangan. Tiga hari kemudian, di tanggal sepuluh, aku menjumpai satu makam serta keluarganya tuk mengumpulkan informasi lebih rinci. Istri dari mendiang suaminya yang meninggal itu berpikir kalau beliau mengalami gangguan jiwa pada awalnya, lalu karena tidak ada kemajuan dengan terapi dan obat dari dokter, dia mulai menyewa cenayang, tetapi tak terselamatkan. Tiga hari selanjutnya, aku mendapat kabar soal korban baru dari sir Graham. Namanya Irma, anak dari Mrs. Alma, baru dimakamkan sore, jadi malamnya aku berencana pergi ke sana. Sir Graham meneleponku lagi, memberitahu alamat terbaru Mrs. Alma. “Dia sedang menumpang, tinggal di rumah Benton Rowan, di Bromley.” “Menumpang?” “She is homeless, Harold.” Satu jam mengendarai mobil ke sana, aku sampai saat jarum pendek baru menjauh dari angka delapan. Kuketuk pintu rumah tanpa nomor, suara laki-laki merespons dan segera membuka. Dia pria paruh baya yang tingginya sama denganku, dengan tubuh lebih ramping, mata abu-abu terang dan surai berwarna serupa. “Maaf mengganggu di malam begini. Ap ini rumah tuan Benton Rowan?” tanyaku kaku. Pria itu menatap menyelidik dari atas sampai bawah. “Ya, saya sendiri. Ada keperluan apa?” “Saya dari pihak cenayang, ingin menanyai informasi soal Mrs. Irma. Apa Mrs. Alma ada?” “Dia tak bisa ditemui sekarang. Kondisinya—“ “I’m okay, Mr. Rowan.” Seorang Wanita dengan surai pirang dan hitam di akar rambut. Wajahnya memerah karena kesedihan. Mata sembabnya menatapku. “Ah, aku pikir Nona Natalie ....” “Anda klien Natalie?” tanyaku yang tidak tau soal ini. Wanita itu mengangguk, mengusap air matanya yang kembali mengalir. “Aku sudah sangat menyusahkannya.” Aku dipersilakan masuk. “Kau pasti lelah berangkat dari pusat London ke sini, aku akan buatkan teh,” ucap Mrs. Alma sambil melangkah ke dapur. Mr. Rowan duduk di sofa abu seberang, dengan mata menatap punggung lemah wanita di dapur. “Kau tidak bermaksud tuk bilang kalau putrinya masih kerasukan di dalam makam, kan?” tukasnya. Aku tertawa awkward. “Tentu tidak, Pak. Aku ingin mengonfirmasikan beberapa hal terkait kondisi Irma sebelum parah.” Mrs. Alma yang mendengarnya di jalan menuju sofa membalas. “Irma tidak pernah seperti itu. Mendadak dia berubah menjadi orang lain, entah apa pemicunya.” Kuraih mug keramik hitam berisi teh hangat yang diberi sedikit s**u, meminumnya sejenak. “Lebih tepatnya sejak hari apa, Mrs?” Dia menatap pinggir meja, terlihat mengingat memori lalu. “Di hari Minggu, jika ingatanku tidak berkilah. Irma diam-diam bergumam akan menghabisi semua orang. Aku pikir aku hanya salah dengar karena aku sangat tau, Irma tidak seperti itu. Aku sangat kenal putri kecilku.” “Apa ada fenomena supernatural yang pernah menimpa dia?” “Maksudmu kerasukan? Sebelum yang kemarin dia tidak pernah mengalami yang aneh-aneh.” “Kalau ... melihat sesuatu yang aneh?” Mrs. Alma menggelengkan kepalanya. “Aku tidak mengawasinya dua puluh empat jam, kami suka terpisah kalau aku hendak mencari sarapan atau saat kami mengemis di dua tempat berbeda. Mungkin dia melihat sesuatu dan tidak mengatakannya padaku.” Sulit kalau begini. Tak ada fenomena ganjil berarti tak ada pengaruh supranatural yang membuat Irma meninggal. Aku segera pamit dan pulang ke rumah dengan pikiran yang berusaha mencari inti dari misteri ini. “Sir Graham salah memintaku tuk menyelidiki ini. Pengetahuanku soal spirit sangat rendah, apalagi aku tak bisa melihat mereka,” gumamku sembari menyalakan mobil. Aku juga sangat yakin ini bukan perbuatan monster. Memang ada monster yang mengganggu dengan ilusi atau sihir—contohnya para Elf—, tapi dampaknya spontan. Korban tidak dibiarkan berhari-hari. Kuhela napas. “Ini mustahil untukku sejak awal.” *** Esok siangnya, aku pergi ke perkumpulan tuk mengundurkan diri dari permintaannya. Di jalan masuk, aku melihat perempuan dengan surai pirang bergelombang yang diikat rendah. Pakaiannya bernada boss girl karena boots selutut dan jaket kulit crop menutupi dress rok mengembang yang keseluruhan berwarna hitam. Dia terlihat makin garang berkat penampilan itu, tapi tak membuatku mengurungkan diri tuk menyapa. Kutepuk pundaknya, dia menoleh dengan manik berwarna kuning mentega yang membulat. “Siang, Nat,” sapaku. Dia mendecak, berjalan menjauh. “Ada perlu dengan sir Graham lagi?” tanyaku yang mendekat. “Mind your bussiness, please,” tukasnya tak menatapku lagi sampai kami berdua berjalan bersama ke ruangan sir Graham. Kami bersamaan mengetuk pintu. “Sir Graham?” ujar Nat. “Masuk.” Natalie yang meraih kenop pintu dan masuk lebih dulu dan langsung menjabarkan keperluannya selagi aku berbalik menutup pintu. “Aku menemui klien lain yang juga mengalami hal ganjil seperti Irma, sir.” Aku berbalik dengan mata membulat, langsung bergegas berdiri di sisinya. “Siapa dia?” Perempuan itu menukik alis tanpa menoleh. “Jangan ikut campur,” tekannya pelan. “Aku juga perlu tau,” paksaku. Kalau tidak berada di depan sir Graham, aku rasa dia bakal membentakku, tapi saat ini tidak. Dia mendongak karena tingginya hanya sebahuku. “Diam.” “Coba kenalkan klien ini pada kami, Nona Natalie,” pinta tuan Graham. “Baik, sir.” Dia menenangkan diri dengan menarik napas. “Namanya Mr. Isaac Owen, tinggal cukup dekat dari rumahku, di jalan Crouch Hall 63. Orang tuanya bilang dia kerasukan, tapi benang spirit tidak terjerat saat kuarahkan padanya.” “Serupa dengan laporan Irma yang kau kirim semalam.” Sir Graham mengetuk jemari di meja dengan irama, lalu berhenti. “Kalau begitu, kalian berdua mesti menjadi tim untuk Owen.” “I’m sorry?” ujar Natalie tak yakin mendengar barusan. Sir Graham tertawa jenaka. “Aku sudah lama meminta Harold untuk menyelidiki ini. Kuharap dengan kerja sama kalian berdua, kita bisa dengan segera menemukan benang merahnya.” Natalie mulai berargumen selagi aku memikirkan bagaimana jadinya kalau kita berkelompok. “Aku menolak saran itu, tuan,” tegasnya. “Apa ada alasannya?” Perempuan bersurai pirang itu agak tergagap di awal. “Dia tidak bisa melihat spirit.” “Sebenarnya aku kemari juga untuk mengundurkan diri dari misi ini, sir. Aku bukan orang yang tepat untuk menyelidiknya,” sambungku. “Tidak ada yang tau masalah kali ini melibatkan spirit atau monster. Jujur saja, kalian akan menjadi tim yang hebat dan sesuai untuk kasus ini,” timpal sir Graham, dia sudah bulat tekad dengan gagasan itu. “Itu sangat tidak benar,” bantah Natalie. “Kalau begitu cobalah bekerja sama beberapa hari dulu. Jika tidak berjalan baik, aku tidak memaksa kalian tuk tetap menjadi tim.” Natalie mendadak menyikut lenganku. “Tadi kau bilang mau mengundurkan diri.” “Ya, tapi ....” Sir Graham menepuk tangan di udara. “Sudah diputuskan. Semoga penyelidikan kalian membuahkan hasil, Natalie, Harold.” Natalie mulai menunjukkan ekspresi kekesalannya setelah aku menutup pintu dan berbalik badan. Bibirnya mengatup rapat, alis menukik ke bawah dengan mata menyalang. Kurasa dia hendak memakiku, tapi dia berbalik, berjalan pergi sembari menggeram dengan langkah lebar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN