Setelah beberapa hari di rumah sakit, akhirnya aku diperbolehkan pulang dan berisitirahat dirumah. Aku belum terbiasa dengan mataku yang sekarang. Rasanya duniaku sangatlah berubah. Oh, Tuhan ternyata seperti ini rasanya jadi orang buta. Semuanya tidak bisa ku lakukan dengan baik.
“Kirana makan dulu yah sayang? Habis itu kamu minum obatmu. “ Tanya Mama.
“Boleh Maa. Tapi aku mau makan sendiri aja, mama nggak usah suapin aku. Aku harus terbiasa dengan keadaan ini.” Ucapku pelan.
“Baiklah lah nak. Ini sendok dan ini garpunya yah. Hari ini kamu masih harus makan bubur dulu.” Kata Mama memberiku sendok ditangan kananku dan garpu ditangan kiriku.
“Makasih Maa.”
Aku perlahan memakan makananku, berusaha meraba apa yang ada didalam piringku. Dalam hatiku bergejolak rasa marah lagi.
“aaaaarrrrggggghhhhh” aku berteriak, mendorong piringku, melempar sendok dan garpu yang ada ditanganku. Melempar gelas yang ada didekatku.
“Aku benci ini MAAAAAAA… “ Teriakku.
“Sayang tenanglah mama mohon. Mama tau kamu nggak terbiasa dan ini sangat susah buatmu nak. Mama akan berusaha untuk mendapatkan donor mata buat kamu secepatnya.” Ucap Mama menenangkanku dan memelukku.
“MAAA KIRANA BENCI KAREL MAAAA. Dia nggak pantes hidup Maa… Dia nggak boleh tenang – tenang aja menjalani hidupnya Maa.” Aku terus memberontak dan menangis.
“Iya iya nak. Mama tau, tenang yahh. Tapi kamu harus makan dulu, kamu harus minum obat. Habis itu kamu istirahat.” Kata Mama.
TIIINGGG TOOONGGGG TIIINGG TOOONGGG
Suara bel rumahku berbunyi.
“Permisi bu, ada yang datang.” Kata bi Sri.
“Siapa bii? “ Tanya Mama.
“Itu Bu…. Sini dulu deh bu.” Jawab Bi Sri. Mama melepasku dan beranjak ke Bibi.
“Mas Karel Bu.” Bibi berbisik ke Mama
Aku yang mendengar itu, berusaha berdiri meraba memegang kursi yang ada di dekatku.
“Maa biar aku yang ketemu Karel.” Pintaku ke Mama.
“Tapi nak.”
“Dimana dia sekarang bi, suruh masuk aja.” Kataku ke Bi Sri.
Nggak lama Karel pun masuk. Ku cium wangi parfumnya dan iya dia benar – benar Karel. Orang yang sudah berusaha mengahancurkan hidupku masih berani datang ke rumahku dan mencariku.
“Kiranaaa. Maafkan aku Kirana, aku nggak nyangka kalau perbuatan aku bisa sampai separah ini. Maafkan Kirana.” Kata Karel.
“Kamu benar – benar orang yang sangat jahat Karel. Untuk apa kamu minta maaf, kamu sudah membuat hidupku menjadi sangat hancur. Sekarang aku nggak bisa lihat, aku seperti orang bodoh.”
“Aku tau Kirana, tapi aku janji aku juga akan berusaha untuk mencari donor mata buatmu, dan aku janji aku akan berusaha merawatmu.”
“Dengan gampangnya kamu mengatakan itu Karel. Sudahlah sekarang aku nggak mau dengar kamu lagi. Pergi sekarang dari rumahku.” Kataku dan lagi – lagi air mataku mengalir begitu saja.
“Kirana ku mohon percayalah. Aku sangat menyesali perbuatanku Kirana. Ku mohon beri aku kesempatan untuk merawatmu, dan kita jalani hari selanjutnya bersama – sama Kirana.” Karel memgang tanganku dan mengusap air mataku.
“Aku sangat percaya denganmu Karel, aku sangat menyukaimu, aku percaya untuk harapan – harapan yang kita buat selama ini, tapi kamu mematahkan semua itu hanya dengan alasan kamu cemburu.Untuk apa aku kasih kesempatan buat kamu. Kamu lebih baik cari cewek yang lebih sempurna di banding aku, yang bisa melihat. Aku tidak sanggup jalani lagi denganmu dan dengan keadaanku yang seperti itu.” Jelasku sambil menangis.
“Aku tau Kirana, Maaf maafkan aku, aku sangat menyesal.” Ucap Karel. Dia mulai memelukku, seketika aku terdiam dan menangis di pelukannya.
“PERGIII KAREL PERGI DARI RUMAHKU, AKU BENCI DENGANMU.” Tiba – tiba emosiku memuncak.
“JANGAN PERNAH LAGI MENCARIKUUUU. PERGI KAMU DARI SINI.” Aku meneriakki Karel, aku berdiri dan beranjak pergi.
“Kirana ku mohon percaya padaku. Aku sangat menyayangimu Kirana.” Karel memohon, berlutut memgang kakiku.
“PERGIIIII KAREELLLLLLL.”
“Sudahlah Karel... sekarang juga kamu pergi dari rumah ini. Tante juga muak melihat mukamu. Kamu memang anak yang nggak tau diri.” Ucap Mama. Mama yang dari tadi mendengar perbincanganku bersama Karel.
“Biiiii Bawa Kirana masuk.” Ucap Mama lagi.
Aku dipegangi bibi, dibantu berjalan masuk ke ruang tengah.
“Sekarang kamu pergi dari sini Karel. Dan tante mohon jangan ganggu Kirana lagi, biarkan Kirana menenangkan dirinya.” Ucap Mama.
“ Tante maafkan Karel tante, Karel sangat menyesal melakukan semua ini. Tapi aku mohon juga tante percaya sama aku kalau aku benar – benar ingini merawat Kirana dan menemaninya tante. Karel sangat sayang sama Kirana, aku minta maaf tante, meskipun aku sadar perbuatanku ini sangat tidak bisa dimaafkan.” Ucap Karel menangis dihadapan Mama.
“Sudahlah yah, lebih baik kamu pulang.” Mama terisak.
“Maafkan aku tante. Aku pulang dulu.” Karel pamit.
Akhirnya Karel pulang. Kudengar Mama terisak, aku tau bagaimana perasaan Mama melihat anaknya seperti ini.
“Maa, aku ke kamar yahh.” Aku naik ke kamar di pegangi Bibi.
Bagaimana bisa hidupku seperti ini, dulunya aku hidup dengan sangat bahagia. Sekarang takdirku benar - benar berubah, rasanya hidupku sangat suram.
Beberapa hari aku cuma mengurung diriku di kamar, Mama setiap hari mengetuk pintu kamarku, mengatakan teman – temanku datang. Teman – temanku bergantian datang ke rumah untuk melihat bagaimana keadaanku dan juga Kelvin yang selalu saja mengetuk pintu kamarku, membujukku keluar untuk menghirup udara segar, tapi aku tidak ingin bertemu dengan siapapun dulu, aku tidak bisa. Aku benci diriku yang seperti ini, aku benci semua orang.
******
Pagi itu di hari minggu Kelvin datang lagi, dia menyuruhku keluar dari kamar.
Tok.. Tok.. Tok..
“Apakah benar ini rumah Chandra Kirana Adishti? Ada kiriman paket nih, buket bunga mawar yang sangat indah.”
“Duhh nggak ada orang yah? Padahal bunganya masih segar dan sangat cantik. Gimana yah? Apa aku buang saja bunganya? Tapi pasti bunganya sangat sedih.”
Kelvin mengatakan semua itu di depan pintu kamarku, membujukku untuk keluar kamar.
“Ya udah deh, bunganya ku simpan saja di depan sini. Orangnya mungkin nggak ada di rumah. Bunga mawar yang cantik maaf yah, aku harus menyimpanmu di sini, semoga saja orang di dalam rumah ini datang dan mengambil kamu yah. Byee byee mawar.” Kata Kelvin.
Kudengar itu semua dari dalam kamar, hatiku luluh. Aku ingin keluar.
“Mana mawarnya?” Ku buka pintu kamarku dan tersenyum malu.
“Wah, mawar ternyata orangnya ada di rumah. Kamu nggak terbuang sia – sia.” Kata Kelvin.
“Apasih Kelvin? Mana bunganya?” Ucapku.
“Aku mau kasih kamu bunganya, tapi kamu harus keluar kamar yah. Kita pergi jalan – jalan. Oke?” Tanya Kelvin.
“Iya, aku keluar tapi aku ganti baju dulu. Kamu bantuin pilih bajunya yah.” Jawabku.
“Oke siap tuan putri.” Kelvin memilihkan baju -bajuku yang ada di lemari.
“Hmm, tuan putri hari ini pakai baju ini aja deh. Kita kan mau jalan – jalan.”
“Terserah kamu Kelvin.” Aku tersenyum.
“Kalau gitu aku keluar yah Tuan Putri, silahkan tuan putri ganti baju.” Kata Kelvin.
Setelah aku ganti baju, aku turun bersama Kelvin.
“Kirana sayang, akhirnya kamu keluar juga nak. Mama dan papa sangat khawatir, tolong jangan seperti ini lagi. Mama sangat takut.” Ucap mama yang melihatku turun dari kamar bersama Kelvin dan memegang tanganku.
“Iya sayang, kamu menyiksa Papa. Sedih tau nggak bisa ngobrol sama kamu huhuhu.” Kata Papa sambil tertawa.
“Maafin Kirana yah Maa Paa. Kirana nggak bermaksud membuat Mama sama Papa khawatir dan membuat kalian tersiksa mikirin aku. Kirana cuma mau menenangkan diri dulu. Maafin Kirana.” Kataku memeluk Mama dan Papa.
“Nggak papa sayang, yang penting kamu baik – baik aja dan jangan lagi mengurung dirimu di kamar yah.” Kata Papa mengelus rambutku.
“Om Tante, Kelvin boleh ajak Kirana jalan – jalan dulu kan? Aku mau ngajak dia sarapan.” Kata Kelvin.
“Boleh dong nak. Sangat boleh.” Kata Mama.
Aku keluar rumah bersama Kelvin, dia mengambil tanganku terus membantuku berjalan. Aku dan Kelvin berjalan – jalan di sekitar kompleks rumahku. Dan kami berhenti di taman, yang setiap hari minggu selalu ramai, karena banyak jajanan untuk orang – orang yang sedang berolahraga pagi.
“Oke kita sampai Tuan putri. Duduk dulu yah.” Kelvin membantuku duduk.
“Vin, udah deh jangan panggil aku terus tuan putri, malu tau di dengar orang.”
“Hahaha, iya deh. Kamu tunggu di sini sebentar yah, aku mau beli sarapan dulu.” Kata Kelvin.
“Iya Vin.”
Senang sekali aku bisa keluar rumah, menghirup udara pagi yang segar. Kudengar suara kicau burung dan suara orang – orang disekitarku.
“Heiii, mikirin apasih.” Kelvin datang.
“Wahh, harum banget. Bubur ayam yah.”
“Iya dong, kamu suka kan?”
“Sukaaaa.”
“Kalau gitu aku suapin yah.”
“Nggak vin, nggak usah aku bisa sendiri.”
“Ya sudah tapi pelan – pelan aja yahh.”
“Enaaakk banget, aku sudah lama nggak makan bubur ayam. Dan nggak makan di luar kayak gini. Makasih banyak yah Kelvin, kamu sudah mengajakku kesini.”
“Iya Kirana, kapan pun kamu mau aku siap menemani kamu kemana pun kamu mau.”
“Makasih viinnn.”
Setelah makanan kami habis, kami berdiri dan Kelvin mengajakku untuk berkeliling ditaman. Sepanjang jalan dia terus bercerita, memegang tanganku. Kurasakan matahari sudah mulai panas, mungkin sekitar jam 10.30 pagi. Aku dan Kelvin memutuskan untuk pulang.
“Kiranaaa.” Kudengar itu suara Karel memanggilku.
“Vin, itu Karel kan?” Tanyaku ke Kelvin.
“Iya, sepertinya dia sudah dari dati menggumu di depan rumahmu.” Jawab Kelvin.
“Aku nggak mau ketemu sama dia Kelvin, tolong usir dia.” Pintaku ke Kelvin.
“Kirana aku kesini hanya ingin membawakanmu bunga dan sekotak sarapan. Aku tau kamu belum memaafkan aku, tolong terima ini saja.” Kata Karel.
“Maaf nih Bro sebelumnya, tapi kata Kirana dia nggak mau ketemu sama lo, jadi tolong lo pergi dari sini.” Kata Kelvin.
“Apaan sih lu, gua nggak ngomong sama lu. Gua ngomong sama Kirana.” Kata Karel.
“Tapi Kirana nggak mau ngomong sama lo, mengertilah sedikit keadaan Kirana.” Balas Kelvin.
“Kirana pleaassee, aku membawakan bunga kesukaanmu dan ini masih segar. Aku juga membawakanmu makanan kesukaanmu. Kamu mau kan?” Kata Karel lagi.
“Aku nggak butuh semua itu Karel, yang aku butuhkan sekarang adalah penglihatan. Pergi saja kamu dari sini. Aku sudah bilang kamu nggak usah datang lagi dan mengganggu kehidupanku. Apa belum cukup kamu menghancurkan aku. Aku mau apalagi? PERGIIII….”
“Loh loh, ada Mas Karel kok masih di sini?” Pak Adi mendengar teriakanku langsung keluar.
“Pak, tolong bawa Kirana masuk dulu yah. Biar aku yang bicara sama Karel.”Kelvin melepaskan tanganku, memberiku ke Pak Adi.
“Kiranaaa Kiranaaa tunggu dulu. Please, jangan masuk dulu.” Ucap Karel memohon.
“Lo nggak denger yah, apa yang Kirana ngomongin tadi. Lo nggak kasian apa sama Kirana, Lo kesini tuh cuma nambah beban fikirannya doang dan Lo membuat dia semakin stress.” Kata Kelvin.
“b******k, lo tau apa hah? Lo cuma baru di hidup Kirana. Atau jangan – jangan Lo udah cuci otak Kirana kan? Biar Kirana suka sama Lo? HAAAAHH?.” Kata Karel.
“Bener – bener dehh. Gini yah Rel, Gue bukan mau ngajarin Lo, tapi Lo coba deh intropeksi diri dulu. Ingat apa yang sudah Lo lakukan dengan Kirana sampai hidupnya seperti ini. Dan coba Lo bayangin gimana rasanya kehidupan dia yang sekarang, gue emang baru kenal dengan Kirana tapi gue akan berusaha untuk memahami apa yang dia butuhkan sekarang. Itu aja yang bisa gue kasih tau ke Elo.
Karel yang mendengar kata – kata yang keluar dari mulut Kelvin sejenak terdiam.
“Maaf Mas Kelvin, Non Kirana nyuruh Mas Kelvin masuk. “ Ucap Pak Adi dari balik pagar.
“Oh, iya pak. Sebentar bilang sama Kirana sebentar lagi.” Kata Kelvin yang masih melihat Karel.
“Lo suka kan sama Kirana?” Tiba – tiba Karel menyahut.
“Lo kenapa nanyain itu sih? Dan emang kenapa kalau gue suka sama Kirana? ” Jawab Kelvin.
Karel mendekati Kelvin sambil menatap matanya, seolah – olah ingin menerkam Kelvin.
“Lo tau kan gue pacaran sama Kirana sudah berapa lama? Lo itu Cuma orang yang baru muncul di kehidupan Kirana, Lo nggak akan bisa merebut hati Kirana yang sudah lama menjalani kehidupan bahagia bersama gue.” Jelas Karel.
“Gue tau semua tentang Lo dan Kirana bagaimana dulunya, dan sekarang sudah berbeda Karel. Kirana yang sekarang benar – benar sangat membencimu. Meskipun Kirana nantinya bisa memaafkan Lo, gue yakin dia nggak akan mau lagi menjalani hidupnya bersama orang yang sudah membuatnya trauma seperti ini.” Kata Kelvin menekankan apa yang ada di fikirannya saat itu.
“Terserah Lo mau bilang apa, tapi gue nggak akan pernah menyerah untuk membuat Kirana kembali ke pelukan gue lagi. Gue nggak akan ngebiarin Lo merebut hati Kirana, gue akan berusaha menebus kesalahan yang sudah gue perbuat. Dan gue sangat tau seberapa besar kesalahan gue dengan Kirana, jadi Lo harus ingat gue nggak akan pernah menyerah dan membuat Kirana suka sama Lo.” Balas Karel.
“Gini yah Rel, seperti yang Lo bilang tadi gue cuma orang yang baru muncul di kehidupan Kirana, yah nggak mungkin kan sekarang Kirana bisa langsung suka sama gue. Tapi sekarang orang yang dia percaya untuk ada di sampingnya itu yah gue, dan tujuan gue berada disampingnya itu bukan cuma buat dia suka sama gue, tapi gue harus menemaninya, menghiburnya, tanpa harus memaksakan perasaan dia.” Kata Kelvin lagi.
“udah deh yah, gue capek ngomong sama Lo, gue masuk dulu. Hati – hati di jalan” Kata Kelvin sambil berjalan masuk meninggalkan Karel begitu saja yang masih ingin berbicara dengan Kelvin.
Kelvin menjawab semua pertanyaan Karel dengan sangat santai.