Handphoneku tiba - tiba berdering, aku tidak tau siapa yang menelvonku malam begini. Ku panggil Mama untuk membantuku mengetahui siapa yang menelvon, karena aku belum mengubah dan mempelajari pengaturan handphone untuk orang yang tidak bisa melihat. Ternyata yang menelvon adalah Kelvin.
"Loh, kok belum tidur sih?" Tanya Kelvin. Pada aku sendiri belum bilang halo.
"Ehm, barusan ada Karel datang bersama Mamanya makanya belum tidur. Kamu sendiri kenapa menelvonku malam begini?" Jawabku.
"Hah? Karel sama Mamanya? Ngapain?" Tanya Kelvin lagi. "Eh sudahlah, nggak usah bahas itu. Nanti saja kita bahas itu. Aku menelvonmu, karena aku hanya ingin mengganggumu hahaha." Kata Kelvin lagi.
"Hahaha kenapa mau menggangguku? Nggak ada kerjaan banget sih. Dasar cowok kosong. Hahahhaha." Kataku dengan tertawa.
"Wahh, sedih banget aku dibilang cowok kosong. Tapi benar sih." Kata Kelvin lagi sambil tertawa terbahak - bahak.
"Gak jelas banget sih kamu Kelvin." Kataku.
"Hahahah, Kirana kalau ada apa - apa panggil aku aja atau kalau kamu nggak tau pengen ngelakuin apa, telvon aku saja. Aku siap kok untuk temani kekosongan kamu. Kan aku juga cowok kosong." Katanya dengan nada serius dan tertawa.
"Maaf Vin, tapi aku nggak bisa." Kataku dengan suara sedih.
"Loh, kok nggak bisa. Kirana jahat banget, aku sedih nihhh." Kata Kelvin lagi.
"Hahahha bukan Vin, tapi aku nggak bisa nelvon kamu karena belum tau bagaimana cara mengubah pengaturan handphone untuk orang yang tidak bisa melihat." Jelasku.
"Eh, maaf Kirana. Hmm kalau gitu untuk sementara waktu aku yang akan terus menelvonmu dan tunggu aku akan datang kerumahmu untuk mengubah pengaturan handphonemu terus ngajarin kamu gimana cara pakainya, okehh??" Kata Kelvin panjang lebar.
"Iya iya Vin. Aku tunggu aja deh kalau gitu." Kataku lagi.
"Ya udah, kita nggak boleh ngobrol lama - lama. Kamu harus tidur, byee Kirana." Kata Kelvin sembari menutup telvonnya.
"Iya makasih Vin... byeee." Balasku.
Setelah selesai menelvon perasaanku sudah lebih tenang dibanding tadi. Aku segera naik ke kamarku dan istirahat. Ku tarik selimutku untuk menutupi tubuhku, terima kasih Kelvin, kataku dalam hati sebelum tidur.
————
Esoknya karena Mama sudah bilang ingin ke sekolah, dia bersiap untuk ke sekolahku bersama Papa. Keputusan yang sudah diambil oleh kedua orang tuaku adalah aku harus keluar dari sekolahku yang lama karena kondisiku yang seperti ini dan aku melanjutkan sekolahku dengan Home Scholling.
"Kirana... Mama sama Papa ke sekolah kamu dulu yahh nak. Kamu baik - baik di rumah, kalau ada apa - apa bilang ke Bi Sri yahh." Kata Mama sambil mengelus rambutku.
"Iya Maa.. Mama sama Papa hati - hati, Papa jangan ngebut." Kataku
"Iya sayang." Kata Papa sambil mencium keningku.
AUTHOR POV
- Sekolah -
Mama dan Papa Kirana sudah sampai di sekolah dan langsung menuju ruang wali kelas Kirana.
"Oh, selamat Pagi Bu.. Pak.. silahkan duduk." Kata ibu Aisyah.
Mama dan Papa Kirana duduk di tempat yang sudah dipersilahkan.
"Maaf bu, karena kami baru datang sekarang. Kami benar - benar sibuk sejak kejadian yang menimpa anak kami." Kata Mama Kirana
"Nggak papa Bu.. Pak.. tapi keadaan Kirana sekarang bagaimana? Apa dia baik - baik saja selain matanya.. ehmm maaf.." Kata Ibu Aisyah.
"Nggak papa bu.. bicara saja.. yahh, Alhamdulillah keadaan dia sudah lebih baik di banding hari - hari pertama sejak dia tau kalau dia buta. Sekarang dia sudah ikhlas menerima apa yang terjadi dengannya." Kata Mama Kirana.
"Alhamdulillah, Kirana memang anak yang kuat. Tapi maaf sekali lagi bu, kenapa semua ini sampai terjadi? Apa benar ini semua gara - gara Karel?" Tanya Ibu Aisyah sambil menyodorkan Teh hangat untuk di minum mereka bertiga.
"Mungkin semuanya memang karena Karel bu, tapi mungkin juga ini jalan sudah jalan takdirnya Kirana. Karel yang dirasuki oleh perasaan yang cemburu buta, akhirnya khilaf dan melakukan semua ini. Tapi insyaAllah kita sekeluarga harus bisa menerima semua ini dengan tabah. Iya kan Pahh?" Kata Mama Kirana memandang suaminya yang duduk disampingnya.
"Iya bu. Mau gimana lagi, kita sebagai orang tua harus bisa membuat Kirana cukup lebih sabar lagi dan sampai sekarang kita masih berusaha untuk mencarikan donor mata untuk dia." Kata Papa Kirana.
"Kalian memang luarbiasa, semoga kalian tetap sehat dan selalu tabah yah Bu.. Pak.. Apa Karel harus ditindak lanjuti?" Tanya ibu Aisyah lagi.
"Tidak usah bu, sebenarnya kami juga ingin menindak lanjuti, melaporkan anak itu ke pihak yang berwajib. Tapi Kirana sangat tidak mau memperpanjang masalah ini. Memang dia belum bisa memaafkan Karel tapi dia sama sekali tidak ingin membuat hal yang lebih rumit lagi." Kata Papa Kirana.
"Hmm.. baiklah kalau itu sudah keputusan ibu dan bapak. Kami dari pihak sekolah juga tidak mungkin melakukan apa yang tidak perlu dan tidak di setujui oleh pihak yang bersangkutan." Kata Ibu Aisyah.
"Iya bu, terima kasih banyak atas pengertiannya. Dan saya mohon juga dengan ibu untuk tidak menceritakan semua kejadian ini ke anak - anak yang lain. Saya kasihan sama Kirana kalau sampai jadi bahan gosip yang tidak - tidak satu sekolahan." Pinta Mama Kirana sambil meminum teh yang di suguhkan tadi.
"Tenang saja bu.. Pak.. saya pasti akan merahasiakannya." Kata ibu Aisyah.
"Oh iya ibu, mengenai sekolah Kirana mungkin saya terpaksa harus mengeluarkan anak kami dari sekolah ini, karena keadaannya yangbsudah tidak bisa bersekolah lagi. Kami mungkin akan melanjutkan sekolah Kirana dengan Home Scholling." Kata Mama Kirana lagi.
"Sangat di sayangkan sekali, karena murid yang sangat menonjol di sekolah ini adalah Kirana. Dia murid yang sangat berprestasi dan membuat bangga nama sekolah. Tapi mau bagaimana lagi, karena pihak sekolah mungkin juga tidak bisa membantu Kirana belajar dengan kondisinya seperti itu. Saya sangat sedih harus kehilangan murid yang sangat saya sayangi, murid yang sangat baik ke semua orang." Kata ibu Aisyah, matanya pun mulai berkaca - kaca.
"Iya bu.. Kami tau kalau ibu juga sangat dekat dengan Kirana, ibu yang sabar yahh. Terima kasih sudah menjadi guru yang sangat baik selama ini buat Kirana. Tolong di urus semuanya yah Bu." Kata Papa Kirana.
"Dan kami mohon maaf kalau selama ini Kirana ada salah sama Ibu, dan tolong sampaikan ke semua teman - teman Kirana dengan bahasa ibu saja. Terima Kasih banyak ibu Aisyah, tolong sampaikan juga salam kami ke kepala sekolah dan ke guru - guru yang mengenal Kirana." Kata Mama Kirana dengan nada sedih.
"Siap bu.. Pak.. Saya sebagai wali kelas Kirana saat ini akan menyampaikan semua pesan - pesan yang telah kalian sampaikan. Dan apa boleh saya juga berkunjung untuk melihat keadaan Kirana?" Tanya Ibu Aisyah yang sudah mengeluarkan air mata kesedihannya.
"Silahkan bu, silahkan.. Kami tidak akan pernah melarang ibu untuk menjenguk anak kami. Dan mungkin saja kalau ibu menjenguk Kirana, dia akan sangat senang." Kata Mama Kirana tersenyum.
"Baiklah terima kasih bu." Kata ibu Aisyah nengusap air matanya.
"Kami yang berterima kasih banyak bu Aisyah. Terima kasih banyak untuk semua yang telah ibu lakukan untuk Kirana." Kata Mama Kirana.
"Terima kasih yah bu. Kalau begitu kami permisi dulu, kalau nanti ibu sudah menyelesaikan surat - surat pengunduruan diri Kirana tolong hubungi kami yah bu." Kata Papa Kirana.
"Iya tenang saja, saya pasti akan usahakan secepatnya." Kaya ibu Aisyah lagi.
"Sekali lagi terima kasih banyak bu Aisyah." Kata Mama Kirana.
Papa dan Mama Kirana berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke luar dari ruang terserbut. Ibu Aisyah juga mengantar mereka keluar. Mereka selesai berbicara tepat saat jam istirahat. Dan pasti saja anak murid sedang berada di luar kelas, saat Orang tua Kirana berjalan menuju gerbang banyak anak murid yang memperhatikan mereka. Sesekali murid - murid itu berbisik "eh itukan orang tua Kirana." Dan saat itu juga Carol yang tidak sengaja melihat orang tua Kirana, langsung berlari menuju arah mereka, memberhentikan langkah kaki mereka untuk menuju gerbang sekolah.
"Eh, Om.. tante.. Inget Carol kan?" Sapa Carol tersenyum licik.
Orang tua Kirana hanya tersenyum.
"Duh Om tante, Carol sudah dengar kabarnya loh, katanya Kirana buta yahh, duh kasian banget sih? Kok bisa gitu yahh? Padahal kan dia primadona di sekolah ini, tapi sekarang primadonanya buta. Huuhh Carol turut prihatin yah Om.. Tante.. Sampaikan salamku juga Kirana yah tante, duh kangen deh sama Kirana." kata Carol nyerocos dengan penuh semangat.
"CAROLLLLL" teriak ibu Aisyah. "Sekarang juga kamu tunggu ibu, diruang guru!!!" Kata Ibu Aisyah dengan penuh emosi.
"Makasih yah Carol sayang, nanti tante sampaikan pesanmu dengan Kirana. Dan semoga saja kamu menjadi anak yang bisa membanggakan orang tuamu." Kata Mama Kirana dengan sedikit senyuman.
Yahh, begitulah sifat Kirana dan Mamanya tidak jauh beda. Mereka tetap mendoakan yang baik - baik untuk orang yang menyakiti mereka.
"Tanteeeeee... tante kok nggak nampar anak ini saja sih, dia pantas ditampar loh tante." Kata Sherill yang baru saja berlari ke arah mereka.
"Sherill sayang, tante nggak mau mengotori tangan tante. Nanti blush onnya nempel lagi ditangan tante." Kata Mama Kirana sedikit tertawa.
"Apa lagi yang kamu tunggu Carol??? Cepat pergi ke ruang guru dan tunggu ibu di sana." Kata ibu Aisyah menatap Carol dengan tajam.
Carol hanya bisa melihat mereka dengan sinis, dan langsung beranjak pergi dari tempat mereka berdiri.
"Hahahhaha, rasain lu. Makanya tuh mulut digunakan dengan baik. Dasar beee... " Kata Dinda yang belum menyelesaikan ucapannya.
"Dindaaaaaa" Potong Gadis , Gina dan Sherill.
"Iya iya Maaf, nggak ingat kalau ada ibu di sini hihi.." Kata Dinda.
"Hahahha kalian ini lucu sekali sih, beruntung sekali Kirana punya kalian." Kata Papa Kirana
"Girls... tante sama Om pulang dulu yah. Kasian Kirana udah ditinggal lama. Kami pamit yahh Bu Aisyah, sekali lagi terima kasih." Kata Mama Kirana.
"Iyaa Tante... Om... Hati - hati yahh, salam sama Kirana." Kata Sherill, Gadis, Gina dan Dinda bergantian dan salim ke orang tua Kirana.
"Hati - hati yahh Pak.. Bu.." Kata ibu Aisyah juga.
- Ruang Guru -
Sudah terlihat Carol yang dari tadi duduk, menunggu wali kelasnya itu dengan wajah cemberut.
"Carollll.. kamu ini diajarkan sopan santun nggak sih sama orang tua kamu?" Tanya Ibu Aisyah.
Carol hanya diam.
Sudah berapa kali kamu seperti ini, dan sepertinya kamu sangat senang yah melihat orang lain menderita? Coba deh kamu sedikit lebih mengerti apa yang orang lain rasakan. Hidup ini nggak akan selamanya kamu diatas Carol, kita pasti akan mendapat cobaan juga dari Tuhan." Kata Ibu Aisyah memberi nasehat.
"Tapi kan bu, Kirana selama ini happy - happy aja, dan kayak nggak ada beban hidup. Yah sekarang kan dia sudah sepantasnya mendapat semua itu, kenapa aku nggak boleh seneng. Biar dia dapat merasakan penderitaan orang lain." Kata Carol membela diri.
"Ya Ampun Carol, Kirana seperti itu berarti dia sedang di uji sama Tuhan, berarti Tuhan tau seberapa hebatnya Kirana sampai di kasih cobaan seperti itu. Dan kita sebagai manusia biasa tidak boleh tertawa diatas penderitaan orang lain. Cobalah kamu lebih mengerti Carol, pasti orang tuamu juga akan bangga sama kamu kalau kamu bersikap baik. Daripada kamu seperti itu, sibuk menertawakan penderitaan Kirana lebih baik kamu fokus belajar agar kamu bisa menjadi siswi berprestasi dan bisa membanggakan kedua orang tuamu."
"Iya iya buu." Kata Carol. Dia seperti hanya mendengar dari telinga kanan dan keluar dari telinga kiri.
"Kamu jangan iya - iya saja Carol, ibu sangat memohon kamu bisa merubah sifatmu itu, ibu begini karena ibu peduli sama kamu." Ujar ibu Aisyah wajahnya terlihat sangat memohon.
"Iya buu.. sudah selesaikan yahh bu. Carol balik ke kelas yahh." Kata Carol dengan sangat tidak peduli dengan apa yang wali kelasnya bicarakan.
Carol beranjak keluar dari ruang guru dengan muka sombongnya.
"Astaghfirullah Hal Adzim.. anak itu benar - benar nggak bisa dikasih tau." Kata ibu Aisyah mengelus dadanya.
- Kelas -
Suasana kelas sehabis istirahat masih cukup berisik, karena belum ada guru yang masuk untuk mengajar di jam selanjutnya. Carol masuk ke kelas dengan wajah songongnya seakan - akan tidak terjadi apa - apa.
"Emang yah, kalau iblis itu nggak punya hati." Seru Gina tiba - tiba.
"Iyalah hatinya kan udah rusak, busuk lagi. Bau sampah." Balas Dinda.
"Hahahahhahah." Tawa Sherill, Dinda, Gina, Gadis dan beberapa anak yang tidak menyukai Carol.
"Lo nyinggung gue hah?" Tanya Carol ke meja Gina.
"Emang lo iblis yah? Bukannya lo manusia juga? Kok tersinggung sih?" Gadis berbalik tanya ke Carol.
"Mungkin hati dia juga udah busuk kali. Iya kan iya kan teman - teman?" Kata Dinda melihat teman - temannya.
"Apa jangan - jangan Lo udah berubah jadi iblis lagi? Iya? Lo Iblis yahh?" Tanya Sherill mendekatkan wajahnya ke Carol.
Carol belum membalas perkataan mereka.
"Dihh dihh Sherill jangan deket - deket gitu. Muka Iblis serem tauuu." Kata Gadis menjauhkan Sherill dari Carol.
Tiba - tiba Carol menjambak rambut Gadis, dia sudah cukup emosi dan tidak tahan melihat mereka terus mengejek dirinya. Tentu saja Gadis tidak terima, dia membalas dengan menjambak rambutnya Carol. Gina, Sherill dan Dinda juga ikut dalam perkelahian mereka.