BAB 3

968 Kata
Ceci Pov. Aku masih berdiri menatap orang-orang yang sedang mencoba membangunkan Om Randy dari pingsannya. Om Randy terlihat pucat dan berkeringat dingin. Matanya terlihat sayu meski dalam keadaan tertutup. Om Randy tak kunjung sadar. Suasana heboh kian menyepi. "Ada apa ini?" Seorang pria berdiri di ambang pintu dengan wajah panik. Pria yang di lift tadi. Pria itu mendekati Om Randy. "Apa yang terjadi dengan papa saya?" Tanyanya lebih keras. Menatap Om Randy yang belum sadar. Papa? Dia bilang papa? Aku menaikkan alisku saat orang-orang di dalam ruangan ini menatapku ragu. Pria itu, pria yang kuyakini adalah Kak Thomas -karena ia menyebut Om Randy, papa - menatapku sama kagetnya. Ia bahkan mundur selangkah karena kagetnya. Apa mereka semua indigo, ya? Pikirku. Soalnya dulu, Eyang Clara bilang kalau aku punya penjaga, dan mukanya nyeremin. Tapi aku tak percaya, menurutku Eyangku hanya membuat karangan cerita untuk menakutiku karena dulu temanku banyak saat di Belanda, dan sama tengilnya denganku. "Kak Thomas?" Tanyaku ragu padanya. Dia menatapku lama dan menyuruh orang-orang untuk pergi. "Iya. Kamu siapa?" Sahutnya. "Aku-" "Ngh..." Ringisan om Randy terdengar. Om-ku itu langsung terduduk dan menatap Thomas yang sedang memberinya air putih. Om Randy menatapku sambil terdiam. "Bisa kalian tinggalkan kami berdua?" "Baik, Pa." Kak Thomas bangkit dan berjalan keluar.   "Sini om, Ceci bantu." Ujarku memegang lengannya saat ia mencoba bangkit dari sofa. Kutuntun ia menuju kursinya dan aku duduk di kursi sebrang. "Maaf, ya. Mungkin tadi om terkena serangan jantung dadakan. Maklumlah sudah tua." Katanya sambil memegang jantungnya. "Gak apa-apa kok, Om. Habisnya, om melihat Ceci tadi seperti melihat setan. Apa om memang melihat setan di belakang Ceci?" Candaku. Tapi dia sama sekali tidak tertawa. Justru terlihat bahwa bibirnya bergetar. "Ehm… Ayahmu bilang pada om kalau kamu mau kerja disini?" Sebenarnya gak mau disini, cuma paksaan ayah.  "Pengen sekali, Om." Ujarku semangat. But, it’s okay! Lumayan, bisa cuci mata karena ada Kak Thomas. "Tapi, om herannya ayah kamu nyuruh kamu buat jadi OG di kantor ini." What the-? OG? Serius ayah nyuruh gitu? Ya allah jahat banget. "Kok-" Om Randy menggidikkan bahunya. "Ehm. Maksudnya, OG-nya Thomas!" Ujar Om Randy. Aku mengernyit bingung, maksudnya OG-nya Kak Thomas apa? "Maksudnya om?" "Maksud om, kamu kerja disini, hanya untuk membersihkan ruangan Thomas saja. Memberinya minum atau tidak membuatkan atau membawanya makan siang." Ini aku disuruh jadi OG-nya Kak Thomas atau disuruh jadi babysitternya, sih? "Hah? Ya sudah gak apa-apa, Om. Yang penting kerja." Ujarku. Gak apa-apa, yang penting bisa lihat Kak Thomas setiap saat. Indahnya duniaaaa... "Oh ya, om juga mau minta bantuan." Kata Om Randy memasang wajah serius. "Bantuan apa ya, Om?" "Begini, Thomas punya seorang kekasih…” Pacar? Kak Thomas punya pacar? "-om tidak suka dengan kekasihnya itu. Om tahu kalau wanita itu hanya mengincar uang Thomas saja." Ujarnya. Aku termenung menatap Om Randy. "Lalu? Om minta bantuan apa ke Ceci?" "Kalau ada seorang wanita centil yang datang menemui Thomas dan mengaku pacarnya. Usir saja." Aku tersentak. "Tapi kalau Kak Thomas marahin Ceci gimana?" "Itu urusan, Om." Aku mengangguk. Meskipun, aku sedih saat mengetahui bahwa Thomas telah memiliki kekasih, aku akan tetap berjuang. Toh, Om Randy juga gak setuju sama kekasih Kak Thomas dan aku berpeluang besar untuk mengejar cinta Kak Thomas. Aku beranjak meninggalkan ruangan Om Randy saat sekilas aku melihat dia menghela nafasnya dengan pelan dan menyandarkan punggungnya dengan lemas di sandaran kursi. Setelah mengganti pakaianku dengan seragam OG, aku langsung membuat kopi untuk Kak Thomas. Gak disuruh, sih. Inisiatif saja. Ya,hitung-hiitung belajar bikin kopi untuk calon suami. Ini konyol bukan? Aku, Princecilia Anderson. Putri dari Joananda Anderson, Pengusaha terkenal yang telah sukses di berbagai negara. Menjadi seorang office girl di perusahaan kerabatnya sendiri, dan itu atas permintaan Ayahku sendiri. Jahat, seharusnya aku bisa seperti Clara, menjadi wakil direktur. Ya, paling tidak jadi sekretaris Ayah. Lah ini? Jadi OG. Eh tapi gak apa-apa. Jadi OG-nya kak Thomas, daku mah pasrah saja mau disuruh-suruh. Kuletakkan kopi hitam yang telah kubuat dengan cinta ini diatas nampan. Membawanya menuju ruangan Kak Thomas. Sekretaris Kak Thomas duduk di mejanya di depan pintu ruangan Kak Thomas. "Ceci, ya?" Tanyanya sekretaris wanita itu. Cantik. "Eh, iya…. Iya!" "Pak Randy tadi sudah menghubungi saya. Karena kamu OG khusus Bapak Thomas, kamu punya dapur dan ruang istirahat sendiri di dalam." Ujarnya dengan lembut. "Dapur sendiri? Maksudnya di dalam ini?" Tanyaku sambil meletakkan nampan kopi di mejanya.  "Iya. Kata Pak Randy, biar kamu gak usah naik turun kalau ada perlu." Kuanggukkan kepalaku. "Oh begitu. Terima kasih, ya. Eh iya nama saya Ceci." Ujarku menyodorkan tanganku. "Leora. Ternyata kata orang-orang benar ya." Ujarnya ramah Aku mengernyit bingung. "Benar apa, ya?" "Ah, bukan apa-apa. Silahkan masuk, Ci." Kudorong pintunya dengan punggungku. Kak Thomas dengan seriusnya mengetik di laptop. Kudekati mejanya. "Hai, Kak." Sapaku sambil menyengir lebar. Dia menghentikan jemari indahnya dan mendongak menatapku. "Kak? Kamu-" Dia terhenti saat ia benar-benar menatapku. "Ehm, kamu panggil saya 'Kak'?" Lanjutnya dengan ketus. "Iya, Kakak lupa sama aku, ya?" Tanyaku. Dia mengernyit. "Emang kamu siapa?" Oke, mungkin karena aku sudah tumbuh jadi dia lupa wajahku. "Pftt... aku Ceci, Kak." Ujarku. Kerutan di dahinya semakin dalam. "Ceci mana? Perasaan saya gak punya kenalan namanya Ceci." Ujarnya acuh. Serius nih, lupa? Wah parah... "Aku Ceci, Kak. Masa lupa... kan dulu pas kecil kita bareng-bareng. Ada aku, kakak, Kak Anka dan Clara." Jelasku. Kedua alisnya terangkat. "Saya tidak mengerti apa yang kamu katakan, lebih baik kamu ke ruangan kamu. Daripada disini? Bikin konsentrasi saya hilang saja." Katanya ketus, kembali berkutat dengan laptopnya. Drttt... drttt... "Halo? Ya, sayang?" Aku berhenti tepat di depan pintu dapur. Sayang? Apa Kak Thomas ditelpon pacarnya? Aku menguping pembicaraan mereka, ya mungkin lebih tepatmya pembicaraan Kak Thomas saja. "Iya, kamu kenapa sayang? Pelan-pelan ngomongnya. Mas gak bisa dengar kamu ngomong apa kalau sambil marah begitu." Ujar Kak Thomas. "..." "Iya, nanti kalau mas ketemu sama orang itu. Mas kasih bogeman mentah ke  dia, oke?" "..." "Owh begitu. Kalau gitu, nanti mas kasih pelaran saja ke pipinya, kalau itu bikin kamu senang." "..." "Sudah, sepulah juta ‘kan? Coba kamu cek dulu, uang dari Mas masuk apa tidak?" Ehhh ceweknya minta sepuluh juta? Gilak plus matre ih! Pantas Om Randy gak suka. Eh, tapi ini sepuluh juta apa, ya? Rupiah ‘kah? Atau mata uang negeri ini! Sepuluh juta dolar?! "Oke, Love you." Nyesss... sudut hatiku terasa tercubit. =====
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN