Aku mengayun kakiku dengan pelan agar ayunan yang kududuki bergerak. Kurapatkan kembali cardigan saat hawa malam hari menusuk kulitku. Aku masih terpikir apa yang baru saja bunda ceritakan. Aku tak menyangka sesosok pria yang kukenal baik dan perhatian, pernah melakukan itu sebelumnya. Sebagai seorang wanita, aku tak akan pernah menerima itu semua. Kubuka perlahan sepucuk surat yang tadi bunda berikan padaku. Surat yang pernah Mama Wulan tulis sebelum aku lahir. Bayangkan saja, dia sudah menulis surat untukku sebelum aku lahir dan kami belum pernah berjumpa. Untuk Cecilia, menantuku. Kenapa aku tahu namamu padahal kita belum pernah berjumpa? Kenapa aku menyebutmu menantuku padahal aku tak pernah menghadiri pernikahanmu dan putraku? Karena aku yang memintanya. Aku meminta pada ibumu ag

