Berada di dalam lorong sempit dan minim cahaya, Max dan juga dua bocah itu merasa sangat sesak sekarang. Bahkan dinding-dinding yang ada di hadapannya sekarang mampu untuk membuatnya saling menyentuh bagian hidung dan juga semua tangannya. “Apakah ini jalan yang benar?”
“Kami sudah berada di rumah ini lama sekali bahkan melebihi dirimu. Kami sudah mengetahui berbagai macam lorong rahasia yang tidak diketahui Mathilda sekalipun. Kami merasa kalau perjuangan kami untuk menyimpan rahasia ini darinya tidaklah sia-sia. Maka dari itu aku berharap dengan sangat besar darimu untuk sukses melakukan apa pun yang akan kau kerjakan nantinya.” Ucap Marcell kepada Max di sana.
Membawa sebuah crossbow dan juga beberapa anak panah, Max tak tahu apakah itu akan cukup untuk melawan semua anggota keluarga Conro dengan menggunakan senjata ini. Tapi tentu saja Max masih memegang belati yang ada di kantongnya sekarang, belati yang telah berhasil membelah bayangan yang dimiliki Mathilda. Max merasa tidak bisa kehilangan senjatanya yang paling pamungkas itu sekarang. Max sudah mencoba crossbow itu agar sesuai dan mirip seperti senapan yang selama ini dia pakai. Max memang mahir dalam menggunakan senjata jarak jauh oleh karena itu dia sangat senang mendapatkan senjata ini.
Tepat di balik dinding yang Max diami sekarang, ada sebuah celah besar yang mampu membuatnya keluar dan menghirup ruang yang lebih besar dan tentu saja lebih lega. Dia bisa saja berguling dan berpindah ke tempat itu hanya semata untuk mengatur napas dan hidungnya kembali yang sudah penuh dengan debu juga jaring-jaring laba-laba. Namun saat Max hendak melakukannya, kedua bocah itu selalu mencegah Max untuk keluar dengan gegabah dan tanpa rencana. “Sampai kapan kita harus menunggu di tempat seperti ini!” Gumam Max kepada kedua bocah itu.
Berbeda dengan Max, tubuh Marcell dan juga Julio yang lebih kecil dapat masuk ke dalam lorong itu dengan mudah dan tanpa merasa sesak. Mereka dengan santainya bisa menunggu untuk waktu lama di dalam lorong itu. “Apakah kau benar-benar pemburu? Karena setahuku orang yang merengek dan juga mengeluh seperti itu hanya dilakukan oleh seorang pengecut. Apakah kau sudah ingin menyerah berada di dalam lorong sempit ini? Apa jadinya jika Mathilda yang menjebakmu menggunakan sihir kegelapannya dan bahkan dia bisa saja membuatmu sesak napas tak berdaya?” tanya Julio kepada Max yang mulai kesal.
“Lihat, tubuhku, berbeda dengan kalian. Aku mungkin akan pingsan beberapa saat lagi karena tidak menghirup oksigen untuk waktu yang cukup lama. Dan jika kalian memaksaku terus untuk melakukan ini, kenapa tidak kalian saja yang mencuri jiwa itu? Kalian pasti akan lebih mudah untuk kabur dan juga menyelinap di tempat seperti ini bukan? Kenapa kalian harus melibatkanku!” Ucap kesal Max marah kepada dua bocah itu. Memang semenjak mengenal tabiat asli kedua bocah itu, Max merasa menjadi dirinya sendiri untuk waktu yang cukup lama berada di tempat ini. “Oh... aku mengerti. Kalian pasti takut dengan anggota keluarga kalian sendiri bukan, maka dari itu kalian menyuruhku. Sekarang, siapa yang pengecut!”
“Dengar Max, aku sungguh tak peduli dengan apa yang kau tuduhkan kepada kami. Sungguh kami benar-benar tidak peduli. Namun ini perihal tentang jiwa temanmu sendiri. Jiwa Alinzar, kalian tidak akan bisa kabur jika kau belum merebut jiwanya dari tangan Judy dan Jade. Dan sebentar lagi, mereka akan berdua akan lewat di lorong ini. Kami sudah memperhatikan gerak-geriknya, jadi percayalah saja!” Ucap Marcell kepada Max mencoba meyakinkan sang pemburu itu. “Kami tidak bisa melakukannya karena kami anggota keluarga mereka. Bukannya aku takut, tapi kami memang hanya bisa melakukan sesuatu dan segala hal secara terbatas. Mungkin kau tidak mempercayainya, tapi memang itu kenyataannya!”
Beberapa menit yang lalu saat mereka belum berada di lorong sempit ini, Marcell dan juga Julio menjelaskan kepada Max perihal cara untuk menyelamatkan Alinzar yang sekarang sedang disandera. Namun Max tidak bisa menyelamatkan Alinzar semudah itu karena memang jiwanya sedang di kurung dalam dimensi lain saat Judy dan Jade mencoba membelah dimensi saat Alinzar pertama kali sadar. Sekarang, jiwa Alinzar berada di tangan Judy dan Jade menunggu untuk dikembalikan ke pemilik aslinya. Jiwa tidak bisa dihancurkan atau dibunuh, hanya bisa dikonsumsi. Dan Max tidak bisa menunggu waktu terlalu lama sebelum Keluarga Conro mengonsumsi jiwa milik Alinzar.
“Kau dengar suara itu? mereka akan segera datang! Cepat persiapkan semua peralatanmu dan segera sergap dia. Kau masih mengingat rencananya kan Max!?” Bisik Marcell dan juga Julio kepada Max agar tidak mengundang massa ataupun atensi dari orang yang akan berjalan menuju mereka tersebut. Max bisa melihat bayangan orang yang akan datang di lorong tersebut, memakai baju panjang dan juga topi. Langkah kaki yang anggun dan juga pelan menandakan kalau mereka memang tidak ingin berbuat kebisingan dalam setiap langkah kaki mereka. Max mengokang crossbow miliknya, mempersiapkannya dan akan langsung menembak ke arah Judy dan Jade saat mereka sudah berada di hadapannya.
“Sekarang Max! Semoga beruntung! Kami akan pergi!” Teriak Marcell dan juga Julio memberikan aba-aba. Max pun langsung saja menembak crossbow itu tepat ke arah kepala Sang putri werewolf menembaknya sampai mati. Mereka berjalan dengan berbaris sehingga memungkinkan mereka untuk kena secara bersamaan dalam satu kali tembakan. Max pun berguling dan berlari bersembunyi.
Tepat sasaran, anak panah itu dengan mudah menancap ke arah kepala Judy dan Jade secara bersamaan dan bertumpuk. Namun dalam kondisi seperti itu, kedua wanita itu masih tetap hidup dan bahkan berdiri dengan tegak seperti tak terjadi apa-apa. Mereka berdua mematahkan anak panah itu dan mencabutnya dari kepala mereka, memutar kepala mereka seratus delapan puluh derajat dan menengok ke arah Max. “Di sana kau rupanya pemburu. Kau sekarang tahu bukan kenapa aku tidak takut saat kau mengacungkan pisaumu ke arah leherku? Karena memang itu tak akan berdampak apa-apa padaku!”
Bukan masalah tak bisa melukai Jade dan Judy yang menjadi ke khawatiran Max, namun dia melihat kalau mereka tidak membawa kotak yang berisi artefak atau jiwa Alinzar bersama mereka. Marcell dan juga Julio mengatakan kalau Judy dan Jade akan membawanya. Tapi ternyata tidak. Untuk sementara, rencana Max harus berakhir kacau. Karena memang tujuan awalnya bukan untuk melawan Jade dan Judy, melainkan hanya untuk mengambil jiwa Alinzar kembali ke tempatnya.
Judy dan Jade pun menyerang Max. Dengan mengubah wujud mereka menjadi werewolf sehingga menambah ketangkasan dan juga kekuatan mereka. Max bisa menghindar dengan mudah oleh serangan-serangan itu karena memang Max terlatih untuk melawan makhluk-makhluk buas yang mirip seperti mereka. Max memasukkan anak panah itu kembali ke dalam crossbownya dan menembak Judy dan Jade satu persatu, tepat mengenai kaki dan juga tangan mereka secara bersamaan dalam satu lintasan lurus. Untuk sementara, pergerakan mereka melambat dan terhenti sehingga membuat kecepatan mereka menjadi berkurang. “Meskipun kalian tidak merasakan rasa sakit, namun sendi-sendi dan juga organ tubuh kalian tetaplah berfungsi sebagai mana mestinya.
Melihat kesempatan itu, Max pun berlari sambil mengambil bilah belatinya dari kantongnya. Dengan ayunan sangat cepat, Max pun memotong kaki Jade dan juga Judy secara bersamaan membuat kaki mereka putus dan juga hilang. Kedua makhluk werewolf itu pun berteriak, entah karena kesakitan atau pun untuk memberi tanda. Apa pun itu yang jelas membuat Max benar-benar puas telah membawa kaki buntung mereka yang ada di tangannya saat ini. Max pun berlari ke arah kamar mereka mencoba untuk mencari jiwa atau pun kotak artefak yang di simpan oleh Judy dan Jade.
“Aku akhirnya tahu siapa kau sebenarnya, kau adalah seorang kecoak yang menyebalkan dan sangat mengganggu. Seharusnya kami tahu saat kami pertama kali bertemu denganmu, kami akan langsung membunuhmu di tempat tanpa adanya keraguan sedikitpun!” Teriak Judy ke arah Max yang sedang berlari menjauhinya. Max mendengarkan ucapan itu, dia hanya tersenyum kegirangan melihat kedua wanita itu yang tak bisa melakukan apa-apa melihatnya kabur.
Sementara itu, Max berada di depan kamar Jade dan Judy sekarang. Tanpa ragu-ragu dan merasa kalau pintu ini tidak akan terbuka dengan mudah, Max langsung saja melompat dan mencoba untuk menabrak pintu itu membuatnya rusak. Max berhasil masuk ke dalam kamar itu dan mencari dimana letak keberadaan artifak kotak yang ia cari selama ini. Dia mencari sebuah kotak yang terbuat dari kayu dan sebuah gembok di luarnya. Sangat sulit mencari benda itu di kamar Judy dan Jade karena banyak sekali perabotan dan juga barang-barang yang dia miliki. Sampai-sampai barang yang penting tertutupi oleh perabotan-perabotan tak berguna itu.
Max tak sabar langsung saja membanting semua yang ada di hadapannya. Benda-benda yang ia tak tahu fungsi atau pun nilainya. Max merasa tidak ada yang penting di kamar ini selain mencari kotak itu dan segera pergi untuk memberikannya kepada Alinzar. Max tahu kalau dia tak memiliki waktu yang banyak karena memang Judy dan Jade memiliki kemampuan regenerasi. Namun memang membutuhkan waktu yang lama untuk menumbuhkan kaki mereka kembali dan berjalan dengan sempurna melawannya di tempat ini.
Akhirnya Max menemukan benda yang dia cari. Kotak itu berada di atas lemari dan susah untuk dijangkau. Tapi di sana ada sebuah tangga yang dapat dengan mudah membuat Max meraihnya dengan naik ke tangga itu dengan pelan-pelan. Ia takut terjatuh dan malah membuat kotak itu hancur. Max meraih benda itu. Dan benar-benar akurat dengan yang sudah dikatakan oleh Marcell dan juga Julio. Max pun turun mencoba untuk kabur dari tempat terkutuk ini.
“Mau kemana kau wahai kecoa kecil!” Tiba-tiba Jade dan juga Judy muncul dari luar pintu. Dengan wujud Werewolf yang lebih ganas dan besar daripada sebelumnya. Mereka menghalangi jalan keluar Max sehingga ia terjebak di sana dan tak bisa kabur. “Dengar Jude, Judy, Jade, siapa pun nama kalian. Aku tidak ingin bertarung dengan kalian untuk saat ini. Aku harus pergi dari tempat ini dan membangkitkan Vampir itu. Dan setelah itu aku akan pergi meninggalkan kalian semua. Apakah ada dari salah satu wanita yang ku ajak bicara ini paham dengan apa yang kukatakkan?” Ucap Max mencoba mengelabuhi Jade atau pun Judy.
Namun ucapan dan kata-kata Max benar-benar tidak dihiraukan oleh mereka berdua. Mereka malah membuat sihir cakaran yang dapat membelah dan mencabik apa pun yang melintasinya. Max yang menembakkan anak panahnya itu pun merasa tidak berguna saat beberapa detik ia menembakkannya.
Karena anak panah itu seketika hancur berkeping-keping membuatnya tak mendapatkan ruang sedikitpun untuk kabur atau pun menghindar. Max yang berada di lintasan cakaran itu pun harus menerima cabikan dan juga cakaran yang bertubi-tubi oleh sihir itu sampai tubuhnya terangkat ke atas. Max merasa sangat kesakitan seperti menerima tusukan seribu pedang masuk ke dalam tubuhnya.
Tak hanya itu, Max menerima sebuah pukulan dan juga tendangan yang membuatnya benar-benar terombang-ambing dalam sebuah kekacauan di kamar ini. Barang-barang di kamar ini seketika hancur dan remuk terkena beban berat tubuh Max di sana. Max tidak merasa keberatan dengan benda-benda itu, hanya saja darah dan juga sayatan selalu ia terima saat ini membuatnya merasa mati rasa dan juga rasa sakit level maksimum. Max bahkan tak bisa merasakan kalau sebuah lemari kayu menghantam kepala dan juga badannya membuat tubuhnya penuh dengan lebam. Teriak pun tidak akan membuat rasa sakitnya berkurang atau menjadi sedikit lebih baik, malah membuatnya mendapatkan perhatian dari seluruh anggota keluarga di rumah ini.
Jade dan juga Judy terlihat sangat menikmati perbuatan mereka menyiksa Max dengan sihir yang telah mereka berdua lakukan. Sampai-sampai mereka lupa kalau mungkin saja Max sudah mati terkena serangan mereka yang bertubi-tubi itu. Untuk membuatnya menjadi jelas dan pukulan yang sangat telak, Dua wanita itu membuang Max ke arah luar kamar dan menabrak dinding dan juga meretakkan separuh permukaannya. Tubuh Max tampak remuk dan juga penuh darah dan luka. Bahkan hidungnya sudah tak berbentuk menjadi sebuah hidung manusia yang sesungguhnya sekarang. Bengkok, namun tetap terlihat tampan dan keren. Max masih menggenggam belati itu di tangannya dengan sangat erat.
Judy dan juga Jade pun mendekat ke arah Max, “Belati itu tidak ada gunanya. Aku sarankan agar kau membuangnya saat ini juga. Itu tidak mampu untuk membunuh kami, apalagi ibu!” Ucap Jade dan Judy. Tapi dalam kondisi seperti itu, Max malah tersenyum sambil memperlihatkan giginya yang merah penuh darah. Ternyata di tangan kirinya, dia membawa kotak berisi artefak itu.
Tiba-tiba dari ujung lorong, Marcell dan juga Julio berlari, mencoba menggotong Max yang terkapar. Kekuatan dua anak kecil itu mampu untuk mengangkat Max dan membuatnya berlari. Judy dan Jade menatap mereka berdua dengan tatapan kosong, kaget kalau adik mereka sendiri lah yang telah menyelamatkan Sang pemburu itu. “Dasar Pengkhianat!”
Marcell dan Julio menengok ke belakang, melihat Judy dan Jade berlari sangat kencang mengejar mereka bertiga. Sementara Max yang digotong dan melihat langsung ke arah kedua wanita itu mengangkat tangannya, menunjukkan jari tengahnya mencoba untuk mengisyaratkan sesuatu kepada mereka berdua. “Sia-lan kalian. Tenang saja, kalian berdua akan mati di tanganku!”