Chapter 42 : Barang Langka

2109 Kata
Max membuka matanya, melihat dirinya tidak mengenakan baju apa pun terbaring di atas ranjang. Dia tidak tahu apa yang terjadi sebelumnya tapi dia mengingat apa yang dia barusan lakukan sebelum dia tertidur pulas. Dua orang gadis, Angela dan Ankha “Menemaninya” tidur di sana dan melakukan sesuatu yang belum pernah Max lakukan sebelumnya. Tapi anehnya Max tidak melihat dua gadis itu terbaring bersamanya. Dia kemudian berpikir sejenak, apakah mungkin yang dia lihat itu hanyalah sebuah mimpi belaka yang membuatnya berpikiran seperti itu? Max melihat kondisi badan bagian bawahnya. Ternyata memang basah. Namun dia tak tahu itu terjadi karena tumpahan air atau sesuatu yang lain. Max memeriksanya dengan ujung telunjuk jarinya. Menciumnya dengan hidungnya. Dia tak merasakan aroma apa pun. Benar-benar mirip seperti sebuah air biasa. Max buru-buru mengambil pakaian yang ada di lemari tepat di hadapan kasurnya. Dia sudah memilih beberapa baju yang dia rasa cocok untuk digunakan. Max pun mencobanya dengan bercermin di depan cermin itu, lagi. Dan di atas meja tempat cermin itu berada dia melihat sebuah makanan dan juga minuman tersaji di sana. Max meyakini kalau apa yang dilakukannya bersama Ankha dan juga Angela bukanlah sebuah mimpi belaka. Karena dia ingat betul kalau kedua gadis itulah yang membawakannya makanan dan minuman itu. Tapi Max masih bingung kenapa mereka berdua meninggalkan Max begitu saja sendirian di atas ranjang. Apakah ada sesuatu yang salah dengan dirinya sampai-sampai kedua gadis itu tak ingin menemani Max untuk tidur bersamanya, atau mungkin karena sesuatu yang lain? Max tak tahu apa yang mendasari hal tersebut terjadi tapi yang jelas Max juga bingung bagaimana perasannya saat melakukan hal tersebut malam tadi. Suara pintu dari luar mengetuk. Max yang sudah memakai baju lengkap pun mulai memanggil siapa yang berada di luar sana. “Ini kami Marcell dan Julio. Kami akan membawakanmu beberapa kudapan untuk pagi ini. Bolehkah aku membuka pintu ini?” Ucap dua bocah itu. Namun meskipun Max belum mempersilahkan mereka untuk masuk, mereka tetap saja membuka pintu itu dan melihat Max yang tengah duduk di hadapan cermin seperti ingin melakukan sesuatu dengan benda itu. Sepertinya memang sudah menjadi tradisi di rumah ini untuk membuka pintu kamar tanpa seizin orang yang ada di dalamnya. Mereka benar-benar terlihat memiliki aturan sendiri. “Ehhh... sebenarnya kakak kalian telah memberikanku makanan dan kudapan ini. Dan aku belum habis memakannya. Jadi mungkin aku tidak akan memakan kudapan kalian.” Ucap Max kepada kedua bocah itu. Julio dan Marcell saling menatap, mereka terlihat kebingungan. “Kakak kami belum ke sini sama sekali. Apa yang kau katakan? Bagaimana kau mendapatkan makanan itu?” tanya Marcell kepada Max. “Aku yakin dua kakak kembarmu yang bernama Angela dan juga Ankha. Mereka datang kemari malam-malam. Wajar saja jika kau tidak tahu mereka datang kemari. Karena memang besar kemungkinan mereka datang ke kamarku dengan diam-diam.” Ucap Max kepada bocah itu. Namun Marcell dan juga Julio tetap terlihat bingung dengan ucapan Max barusan. Mereka pun menaruh kudapan yang mereka bawa di tangan mereka di atas kasur. Julio dan juga Marcell mendekat ke arah Max. Mereka menatapnya dengan tajam dan bertanya, “Apa yang kau lakukan kepada mereka berdua?” Pertanyaan Julio dan Marcell seperti mengisyaratkan kalau mereka berdua sudah tahu kemungkinan apa yang terjadi kepada Max dan kakak perempuan mereka. Max tak tahu harus menjawab dengan jujur atau pun bohong. Karena memang Max tak tahu apa yang sebenarnya terjadi kemarin malam. “Apa pun yang terjadi, itu bukan urusan kalian anak kecil. Mereka hanya datang kemari dan membawa kudapan itu. Semudah itu. Dan sekarang bisakah kau keluar dari kamar ini karena mungkin ibu kalian akan mencari kalian jika terlalu lama berdiam di kamar ini”. Julio mengambil biskuit di atas kudapan yang dia bawa. Sedangkan Marcell memakan daging ayam yang juga ada di kudapannya. Mereka lanjut duduk di atas kasur yang tingginya melebihi tinggi mereka sendiri. Mereka harus melompat untuk sampai ke kasur itu. Mereka memakan makanan itu dengan lahap sambil bersenandung menggumam dan mengayun-ayunkan kaki mereka. Terlihat seperti tipikal bocah pada umumnya. “Tunggu, bukankah kudapan itu untukku? Kenapa kalian memakannya?” “Kau bilang sendiri kalau kau tidak bisa menghabiskan kudapan yang diberikan kak Angel dan Ankh, maka dari itu aku membantumu menghabiskan kudapan ini. Kau tidak keberatan bukan?” jawab Julio dengan mulut yang penuh dengan makanan sehingga beberapa kata-katanya tidak terdengar jelas di kuping Max. Pipi mereka yang besar dan juga perut gempal memang menandakan kalau mereka adalah dua bocah yang sangat doyan untuk makan. Max pun duduk kembali di kursi cermin itu, namun menghadap ke arah dua bocah yang sedang sibuk makan tadi. “Kalian benar-benar mengesalkan. Apakah kalian selalu bersikap seperti ini kepada para tamu yang datang ke rumah ini?” tanya Max kepada dua bocah itu. Julio dan juga Marcell saling menatap lagi. Mereka terlihat selalu bingung dengan ucapan yang diberikan Max kepada mereka berdua. “Siapa yang bilang kalau kami mengesalkan? Bukankah kami terlihat sangat imut dan lucu?” Ucap Kedua bocah itu. Max beranjak dari kursi itu dan mendekat ke arah kedua bocah itu. Semakin lama Max melihat mereka berdua. Max semakin sadar kalau mereka tidak memiliki wajah yang mirip. Hanya penampilan mereka yang sama membuat mereka memang terlihat sedikit mirip. “Tunggu, kalian benar-benar saudara kembar bukan? Aku tidak melihat kemiripan secara fisik di dalam diri kalian. Tolong katakan kalau aku salah”. “Aku tidak ingin menjawab pertanyaanmu,” Marcell turun dari ranjang itu dan berdiri di atas lantai. Dia menjilat telunjuk dan ibu jarinya tidak ingin menyisakan satu makanan pun di dalam tangannya. Sementara Judy menaruh kembali tulang ayam yang tidak bisa dimakan itu di atas piring. “Sebenarnya kami tidak hanya memberikanmu sebuah kudapan. Namun ibu kami menyuruh untuk mendapatkan jawaban darimu tentang mendapatkan bunga dahlia itu. Apa kau ingin untuk mengambilnya atau hanya menunggu sampai temanmu benar-benar sembuh?” “Aku masih belum yakin. Namun bisakah kau memberiku waktu lebih lama lagi. Aku tidak memiliki Aliran sihir atau sesuatu semacam itu. Dan jika aku terjebak terkena kutukan atau semacamnya, mungkin aku tidak akan bisa selamat. Jadi bisakah kau memberitahu itu kepada ibu kalian?” Max sebenarnya tidak benar-benar takut. Namun dia ingin menyelidiki bunga apa itu sebenarnya yang ada di sana. Karena benda yang sangat berguna seperti itu tidak mungkin tidak memiliki pamor di dunia luar. Paling tidak orang-orang akan mengetahui kalau itu sebenarnya adalah benda yang memang legendaris. “Ternyata ibu benar. Dia tahu kalau kau akan mengatakan sesuatu seperti itu,” Ucap Marcell kepada Max. “Kami tidak bisa memberikanmu waktu lebih lama lagi. Karena untuk merawat temanmu itu juga memerlukan waktu untuk mempersiapkannya. Jadi sebaiknya kau memberitahukan keputusan yang akan kau ambil untuk sekarang ini. Ya atau tidak, semuanya ada di tanganmu.” Ucap Julio kepada Max. Pemburu itu pun menggaruk-garuk kepalanya, bingung harus menjawab apa kepada kedua bocah itu. Julio dan Marcell masih berada di sana, menunggu terlalu lama atas keputusan Max yang tak kunjung ia jawab. Dua bocah itu pun akhirnya mendekat dan akan mengatakan sesuatu kepada Max, “Baiklah, aku melihat ada sebuah kebimbangan dalam dirimu. Aku akan memberitahukanmu bunga apa itu sebenarnya. Tapi semuanya terserah kepadamu ingin percaya atau tidak. Aku hanya memberikanmu informasi ini”. “Kenapa kau tidak memberitahukannya sejak tadi? Aku benar-benar menginginkan informasi terkait bunga itu. Kebiasaanku menjadi seorang Pemburu membuatku tidak bisa mengambil sebuah kepurusan dengan buru-buru. Cepat katakan padaku, apa itu sebenarnya?” Ucap Max kesal. “Bunga itu adalah bunga kematian. Hanya terdapat di dunia lain. Dan jika kau akan mengambilnya, maka kau juga berada di dunia lain. Namun tenang, kami memiliki sihir yang mampu untuk menampung jiwamu tetap di dalam sini. Hanya saja kami tidak bisa menjamin apa yang terjadi denganmu nantinya saat berada di sana. Mungkin kau akan mendapatkan sebuah halusinasi atau ilusi di tempat itu. Kau harus memikirkan segala kemungkinan buruk yang mungkin terjadi di alam lain itu.” Ucap Marcell. “Sebenarnya, kau tidak harus menjawab keputusanmu kepada kami wahai pemburu. Kau harus mengatakan itu langsung kepada ibu. Dia berada di lantai paling atas rumah ini. Kau tahu dimana tangga rumah ini bukan? Kami akan segera pergi. Pastikan kau memberitahukannya kepada ibu saat ini juga. Mengerti?” ucap Marcell dan juga Julio kepada Max. Kedua bocah itu pun berjalan pergi dari kamar ini menuju ke pintu luar. Max melihat kudapan yang mereka bawa, dan ternyata kudapan itu sudah habis. Di makan oleh dua bocah itu sendiri. “Hei... bawa kudapan ini bersama kalian. Kalian sendiri yang telah memakannya!” Julio dan Marcell tak mendengarkan ucapan Max karena mereka berdua sudah menutup pintu itu dari luar. Max kembali sendirian sekarang. Bersiap-siap untuk pergi dari kamar ini menuju ke Mathilda. Max berusaha memeriksa kamar ini bilamana dia meninggalkan sesuatu di sini. Namun Max teringat bahwa dia hanya membawa sebuah belati di kantongnya. Saat ia mencari benda itu di dalamnya, Max bisa melihat kalau belati itu masih ada di sana. Tak tersentuh oleh siapa pun. Hanya menyisakan noda Gargoyle yang sangat sulit untuk dihilangkan atau pun dibersihkan. Max tentu saja langsung menaruh itu kembali ke kantongnya karena hanya itu satu-satunya senjata yang masih ia punya sekarang. Max beranjak keluar dari kamar itu. Namun saat ia mencoba membuka pintu, ia tak sengaja melihat sebuah figura dengan lambang yang ia sangat familiar. Max mundur beberapa langkah mencoba untuk mencari tahu apa yang sebenarnya dia lihat tadi. Figura itu terletak menempel di dinding samping ranjangnya. Max bingung kenapa ia tak menyadari adanya figura itu saat tinggal beberapa saat di tempat ini. Dan saat ia melihatnya, bagaimana dia tidak mengenali lambang itu. Karena itu ternyata adalah lambang guild Iron Hammer! Sebuah palu berwarna perak yang saling bersilangan satu sama lain. Max tak tahu kenapa emblem ini bisa berada di tempat ini. Dia menyentuhnya. Max harus menanyakan perihal ini secara langsung kepada Mathilda, karena mungkin keluarga ini mempunyai hubungan dengan Brooks. Max keluar dari kamarnya, dan melihat sebuah tangga yang memutar di sana menuju atas dan juga bawah. Max yakin kalau Marcell ingin mengatakan kalau dia seharusnya mengambil tangga ke atas untuk menuju langsung ke Mathilda. Tangga itu berada di kanan dan lorongnya tetap dikelilingi oleh sebuah lukisan-lukisan makhluk misterius nan menyeramkan. Max berjalan dengan menunduk menolak untuk melihat lukisan itu secara langsung karena ia merasa diawasi oleh lukisan-lukisan itu. Dan saat ia menuju ke lantai atas, tepat di sampingnya ada sebuah kamar yang pintunya di biarkan terbuka. Max tentu saja tak sengaja melihat ke arah kamar itu. Di sana ada seorang yang sangat Max kenal. Suami dari Mathilda yang duduk tanpa busana baik baju maupun celana. Memperlihatkan pipit kecil miliknya. Max mengingat kalau namanya adalah Roccus, dan sepertinya dia menginginkan bantuan kepada Max. Tapi orang itu melihat dengan tatapan kosong dan menyeramkan ke arah Max. Jika ia memang akan berniat untuk membantu Roccus, dia terlalu takut dengan orang itu jika terjadi apa-apa dengan dirinya. Secara Max memang tidak mengetahui kondisi medis yang dialami oleh orang itu. Max memilih untuk berpura-pura tidak melihat dan langsung naik ke atas tangga. Anak tangga yang memutar itu ternyata sangat tinggi sampai Max berada di atas loteng rumah itu. Di sana, Max melihat Mathilda berdiri sendirian sambil di dampingi oleh Angela dan Ankha. Kedua gadis itu tersenyum manis ke arah Max. Namun Max tidak membalas senyuman mereka. Dia malah membuang mata mencoba untuk tidak berinteraksi secara langsung kepada mereka. “Pemburu, akhirnya kau datang juga. Jadi bagaimana, apa keputusan yang akan kau ambil untuk menyelamatkan temanmu itu?” tanya Mathilda kepada Max. Ketiga orang itu memakai baju yang rapi dengan dilengkap sebuah topi untuk menutup kepala mereka. Max bisa merasakan angin sepoi-sepoi meniup dari belakang tubuhnya. Max pun menoleh ke belakang, mencoba untuk mengulur waktu agar ia bisa memikirkan keputusan apa yang harus dia buat. Karena sejujurnya Max memang belum memberikan keputusan yang pasti saat dia berjalan di tempat ini. Ternyata di belakang Max adalah hutan kegelapan yang sudah dia lalui bersama dengan Alinzar sebelumnya. Hutan itu sangat luas sampai-sampai semua area itu di selimuti kegelapan walaupun matahari sangat terik menyinari di atas. “Itu adalah hutan kegelapan. Dan saat ini, para makhluk yang berada di dalamnya sedang ada di masa aktif-aktifnya. Aku cukup heran kepadamu bagaimana kau bisa selamat dari kutukan itu sementara temanmu tidak. Siapa kau sebenarnya pemburu?” Max masih belum menjawab apa-apa. Dia terus melihat ke arah hutan kegelapan itu dengan tatapan kosong. Max sendiri juga ingin bertanya hal yang sama kepada dirinya sendiri. Tapi karena menunggu jawaban yang tak kunjung diberikan, Mathilda kembali bertanya. “Lupakan itu. Jadi bagaimana pemburu, kau akan mengambil bunga Dahlia itu atau tidak?” “Pertama-tama, orang itu bukanlah temanku. Kedua, aku tidak akan pergi ke sana jika aku tidak tahu benda apa itu sebenarnya. Dan yang ketiga...” Max menghirup nafas dalam-dalam. “Siapa kalian sebenarnya!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN