"Woy!" Baik aku ataupun para pemuda ini serempak menoleh ke arah belakangku ketika mendengar teriakan lantang. Seorang pria berkemeja cokelat dengan celana bahan hitam berdiri tak jauh dari kami. Dia mendekat dengan langkah cepat. "Jangan beraninya sama perempuan! Kalian enggak malu keroyokan begitu?" sergahnya. "Apa urusan lu? Enggak usah ikut campur urusan kita-kita!" Pria berambut gondrong maju bersama satu temannya. "Lu mau cari gara-gara, huh? Mau gue habisin lu?" desisnya seraya maju lebih dekat lagi. "Jelas jadi urusanku kalau kalian enggak bisa sopan sama wanita. Apa kalian bukan dilahirkan dari seorang ibu, hm? Enggak punya adik atau saudara perempuankah? Gimana perasaan kalian kalau adik kalian sendiri yang diganggu?" "Banyak bacot!" Pria beranting hitam hendak memukul wajah

