Selama perjalanan, Asep terus saja mengoceh. Sementara, aku memilih diam dengan tangan bersedekap. Biasanya, kalau kita dikejar-kejar laki-laki, kita akan senang dan bangga. Hanya saja, kalau terlalu intens seperti Asep, aku jadi ilfeel sendiri. Lain hal cerita kalau yang ngejar itu Mas Mustafa. Masih bisa dipertimbangkan.
“Kok, diam aja, Mil? Biasanya cerewet.”
“Sariawan,” jawabku asal.
Asep hanya mengangguk dan tak lagi bertanya.
“Lho, kok berhenti di sini?” Aku menatap bingung Asep yang turun dari motor.
“Ada yang perlu kubeli. Tunggu sebentar, ya,” jawabnya, kemudian bergegas masuk ke dalam apotek.
Tak berselang lama, dia kembali dan mendekat ke sini sambil memamerkan gigi putihnya yang berjejer rapi.
Cakep, sih, sebenarnya dia. Tapi kenapa aku malah enggak suka, ya?
“Beli apa?”
“Ada, deh.” Dia malah mengedipkan sebelah matanya, lalu kembali duduk di motor matic ini dan melajukannya lagi.
“Mil.”
“Hm?”
“Hari Minggu kamu bisa ambil libur enggak?”
“Kenapa emang?”
“Ada film bagus yang baru keluar di bioskop. Nonton, yuk!”
“Enggak bisa. Kalau libur terus, dari mana aku dapat duit?”
“Nanti aku kasih.”
“Ogah.”
“Ayolah, Mil!”
“Udah fokus ke jalan aja.” Aku memposisikan kepalanya agar lurus lagi. “Jangan tengak-tengok mulu kenapa! Nanti nabrak.”
Sebenarnya, bukan hanya karena tidak ada perasaan cinta. Aku menolak Asep karena tahu salah satu dari sahabatku menyukainya. Minah memang tidak pernah cerita. Aku tahu itu karena tak sengaja baca curhatan di buku diary sewaktu main ke rumahnya.
Sesampainya di kedai bakso, Kulihat Aa Toni sudah lebih dulu sampai. Hanya kami berdua yang bekerja di kedai bakso ini. Semua bisa ditangani dengan baik dan santai, kecuali saat ramai pengunjung. Kami sering kerepotan.
“Makasih, ya.” Aku langsung pergi menjauhi motor Asep.
“Mil!”
Mendengar panggilan Asep, aku berhenti melangkah dan memutar balik badan lagi.
“Apa?”
Asep bergegas turun dari motornya, lalu mendekat sambil memamerkan senyum dengan satu lesung pipit itu.
“Ini ....” Asep menyodorkan kantong plastik putih kecil dari dalam jaketnya.
“Apa ini?” tanyaku seraya mengambil obat dari dalam kantong plastik.
“Gom. Katanya kamu sariawan? Olesin itu aja, Mil, pasti cepat sembuh. Aku juga kalau sariawan pakai itu langsung manjur.”
'Waduh, dikira sariawan beneran.'
“Enggak usah, Sep. Aku—“
“Enggak boleh nolak.” Asep menahan tanganku yang hendak mengembalikan obatnya. “Orang cuma goceng doang, kok.” Dia tertawa.
'Ya sudahlah. Enggak ada salahnya bikin dia senang sedikit.'
“Makasih, ya.”
“Eh, tunggu, Mil!” panggilnya lagi.
Aku mengerling malas sebelum berbalik padanya lagi.
“Apa lagi, sih?”
“Nanti pulangnya aku jemput, ya.”
“Enggak!” tukasku, kemudian bergegas masuk ke kedai tanpa mempedulikan Asep yang masih mengoceh.
“Kenapa, Mil? Datang-datang, kok, muka ditekuk begitu?”
“Tuh.” Aku menunjuk ke luar kedai dengan dagu. “Cowok rese enggak bosan-bosannya gangguin terus.”
Aa Toni yang sedang mengelap gerobak bakso hanya tertawa sambil menggeleng.
“Pantang menyerah dia, Mil. Udah terima aja.”
“Ogah!” sahutku seraya pergi ke belakang untuk menyimpan tas sekalian mengambil kanebo.
“Kenapa, sih? Kamu kayaknya alergi banget sama Asep? Dia cakep, lho.”
“Cakep, sih, cakep, Aa. Tapi ceweknya banyak. Sok paling ganteng, ish!” cicitku sembari mengelap meja.
“Udah biasa itu, Mil. Biarin aja sekarang pacarnya banyak. Asal pas udah nikah, cukup setia sama satu istri.”
Aku menoleh cepat dengan kening berkerut dalam.
“Jangan-jangan … Aa Toni juga dulu pacarnya banyak, ya, sebelum nikah?”
Pria berusia tiga puluh depan tahun beranak satu itu hanya mengulum senyum, lalu pergi ke belakang tanpa menjawab pertanyaan.
Apa semua cowok begitu? Masa, sih? Apa jangan-jangan ... mas ganteng juga pacarnya banyak lagi. Uuh!
“Apa itu, Mil?” tanyanya saat mendengar bunyi meja dipukul.
“Ah? Itu … kakiku kejedot,” elakku.
???
Pengunjung kedai bakso hari ini tidak terlalu sepi, juga tidak terlalu ramai. Meski gaji kecil, tapi pemilik kedai tak melarang kami ikut memakan baksonya. Bahkan, Pak Amir sering memperbolehkan kami membawa pulang sisa bakso yang tidak terjual. Jarang sekali aku bertemu orang sebaik dirinya. Beruntung aku bekerja di sini.
“Aku makan bakso dulu, ya, Aa. Mumpung enggak ada pembeli.”
“Ya udah, makan aja,” sahutnya sambil tetap fokus mengetik sesuatu di ponsel.
Tengah asyik-asyiknya menikmati semangkuk bakso dengan ekstra sambal, aku langsung tersedak pelan saat mendengar suara yang begitu familiar.
Mas ganteng ….
Dia terlihat terkejut saat menoleh dan mendapati keberadaanku di kedai ini. Lekas kuteguk segelas air minum sampai habis. Rasanya seperti mau mati saja tersedak makanan super pedas.
“Eh!” Aku menahan langkah Aa Toni yang hendak menghampirinya, “biar aku aja yang layanin.” Aku tersenyum penuh arti, kemudian bergegas mendekat.
“Mau makan bakso, ya, Mas?”
“Memangnya ini kedai apa? Bakso atau ketoprak?”
Aku tersenyum kaku sembari menggaruk pipi. “Campur atau gimana, Mas?”
“Campur,” sahutnya seraya berjalan menjauh, kemudian duduk di kursi paling belakang.
Enggak bisa apa, sikapnya itu manis sedikit? Ish, untung ganteng, kalau enggak? Huh!
“Kamu kenal?” tanya Aa Toni ketika sudah berdiri di sampingku yang tengah meracik bakso.
“Tetangga baru.” Aku menjawab dengan setengah berbisik.
“Ooh ….” Aa Toni hanya mengangguk-angguk.
“Ganteng, kan?”
Aa Toni mengangguk lagi.
“Gebetan baruku itu.”
“Hah? Yakin?” Aa Toni menatap tak percaya padaku, lalu beralih pada motor sport yang terparkir di depan kedai. “Enggak ketinggian halunya, Mil?”
“Ish, jangan begitu, dong, Aa!” Aku berujar pelan, tapi penuh penekanan. “Doain aja semoga berhasil. Ya?”
Aa Toni menghela napas. “Iya. Semoga berjodoh.”
“Aamiin,” sahutku dengan senyuman senang.
Aku membawa semangkuk bakso padanya dengan senyuman yang tak kunjung hilang. Sayangnya, dia malah asyik sendiri dengan ponsel tanpa menatap padaku sedikit pun.
'Takut terpesona kembarannya Maria Mercedez kali dia, ya. Susah amat diajak tatapan.'
“Ini, Mas.” Aku menggeser mangkuk bakso ke arahnya.
Dia tak merespon.
“Minumnya mau apa, Mas?”
“Teh manis dingin.”
“Siap,” sahutku, kemudian bergegas menyiapkan pesanannya.
Tak butuh waktu lama, aku kembali menghampirinya yang tengah asyik melahap bakso.
“Ini, Mas, tehnya.”
“Hm.” Dia melirik sekilas, lalu mengambil gelas teh tersebut dan meneguknya.
“Manis enggak, Mas? Kalau kurang manis, minumnya sambil lihatin aku aja.”
Aku tersenyum, sedangkan dia tersedak sampai air tehnya menyembur keluar sedikit.
???