Aku tengah duduk bersandar kepala ranjang sembari memeluk lutut ketika pintu kamar ini diketuk. "Mil," panggilnya lagi, tapi tak kutanggapi, "buka pintunya dulu, Mil. Aku mau bicara." Kubaringkan tubuh dalam posisi telungkup, lalu menutup kepala ini dengan bantal. Malas mendengar suaranya yang sok lembut itu. Menjelang maghrib, aku baru keluar karena desakan biologis. Pun belum mandi. Kubuka pintu dengan perlahan, lalu mengintip ke sekeliling rumah. Mendapati sosoknya tak ada, aku bergegas keluar sembari membawa pakaian ganti. Belum sempat melangkah jauh, aku spontan berhenti dan mematung saat dia tiba-tiba keluar dari kamarnya. Aku bimbang, antara pilih maju atau mundur. Pada akhirnya, aku berdehem pelan dan memutuskan lanjut karena sudah tak tahan. "Mila." Tepat di ambang pintu, di

