Seperti yang kujanjikan semalam, aku membawa Karim keliling kampung dengan menggunakan sepeda lama Bapak setelah sebelumnya sarapan bersama. Sebelum Mama bicara dengan Ibu dan Bapak, aku sudah mewanti-wanti keduanya agar masalah kami tetap dirahasiakan dari Mama. Awalnya Ibu tak setuju, tapi Bapak mendukung. Bagaimanapun juga, hubungan Bapak dengan keluarga Mas Mustafa sudah lama terjalin baik dan tak ingin rusak karena masalah ini. "Enak, ya. Di sini adem. Enggak kayak di kotaku. Angin gede aja rasanya tetap panas bukan sejuk," komentar Karim. "Iya. Makanya aku juga kayaknya enggak bisa kalau harus pindah ke kota. Di sini nyaman dan tenang." "Kalau Bang Mus yang ngajak, gimana? Kan, mau enggak mau kamu harus ikut." Aku diam sejenak, lalu tersenyum. "Hal itu enggak akan pernah terjadi

