Api di bahu Hasan sudah mulai memudar, dia sudah berlahan bisa mengerakkan tangannya kembali. Sedetik wajahnya terlihat tidak percaya padaku, aku bisa memiliki kemampuan aneh dengan ramuan aneh yang bisa menyembuhkan lukanya dalam waktu sekejap. Menurutnya aku bisa dibayar mahal di kota untuk itu. Aku dan Hasan cuma bebering saling tatap satu sama lain sambil menikmati sunyi yang aneh. Aku pikir aku hanya bisa menikmati keheningan seperti ini, hanya dengan Jefri "Aku harus pergi ke sanggar desa untuk menemui para tetua" Hasan menegakkan badannya, ramuan daun api yang sudah mengering pecah dan berguguran dari lengannya. Aku mewadahi dengan tangan agar tidak jatuh ke ranjangku. Aku membuka pintu kamarku hingga udara malam menyentuh permukaan kulit kami. Hasan sudah meregangkan badannya,

