Malam Panjang

1196 Kata
Malam ini tidak seperti malam beberapa akhir bulan lalu,mungkin hujan akan turun lagi.Mitos akhiran di bulan ber biasanya akan selalu hujan dan di bulan oktober tahun 2017 ini sedang berada di iklim tersebut. Setelah makan malamnya dengan keluarga besar Nanda tadi ia memilih untuk memisah. Bukan masalah cowok itu yang sedang menemani keluarga besarnya di Ruang tamu,namun untuk ikut dalam pembicaraan yang menurutnya tidak penting sangat banyak menghabiskan waktu.Afila memilih keluar untuk duduk di Taman,tepatnya di samping kamar. " Salah rasanya tidak menginginkan kedatangan Papa di pernikahan,tapi rasa benci ini benar-benar tidak bisa tertahan." Lirih Afila. ❤ Fil pr kimia jangan lupa di selesaikan,gue nyontek❤- Poppy Pesan masuk di ponsel membuat Afila menoleh kearah samping lalu kembali menatap langit yang gelap tapi indah. " Nanti kamu sakit karena angin Malam,masuk." Ujar cowok yang sudah berdiri di dekat kursi taman. " Pulanglah sana,ngapain masih di sini." jawab Afila dengan tatapan fokus ke Gedung-Gedung pencakar Langit. Nanda menghampiri perempuan yang menjadi lawan bicaranya saat ini." Saya hanya tidak ingin kamu sakit,angin malam itu enggak bagus untuk kesehatan Afila." " Apa yang gue lakukan itu nggak ada urusannya dengan lo." " Ada banyak sekali." " sudah lah Nan,keinginan keluarga akan terwujudkan.Sekarang bebas dong menjalankan kehidupan masing-masing,gue lagi pengen sendiri." Ujar Afila dengan suara yang cukup keras namun tidak membuat cowok itu menyerah. " Kadang lo kadang Nan,mana Satu sih.kamu enggak sendirian kok masih ada saya yang menemani di sini.Lagi ada masalah?" " Masalahnya ada di lo." Afila menghela nafas kasar.Ia berusaha agar Nanda tidak melihat tangisnya barusan tapi gagal.Cowok itu sudah menatapnya dengan rasa bersalah. " Maaf kalau menurut kamu saya ini adalah kesalahan,tapi saya janji akan bahagia kan kamu setelah menjadi istri." " Gue enggak cinta sama lo,begitu juga sebaliknya kan.Gue takut nanti kita sama-sama tersiksa dengan Rumahtangga yang masih sangat muda." Tatapan dari Afila di balas Nanda dengan serius." Ketika saya siap untuk menikahi kamu berarti saya sudah siap juga untuk menjalaninya." " Lo beda dari awal kita kenal,yang marah-marah minta di batalkan pernikahan ini.Bahkan ketidaksukaan lo terlihat jelas.Jujur lo sembunyiin apa?" Dengan tersedu-sedu Afila mengungkapkan segala perasaannya. " saya enggak pernah berfikir seperti itu Afila,apa lagi untuk menghancurkan hati kamu.Memang sekarang saya masih belajar mencintai kamu,saya ingin menjadi tempat berkeluh kesah Kamu setiap Malam.Saya punya Telinga yang siap untuk mendengarkan,saya punya Bahu.Seandainya kamu lelah dalam menghadapi masalah atau butuh sandaran.saya ingin membahagiakan kamu dengan sederhana,agar kamu tidak terbebani." " Lo enggak tahu apa-apa jadi enggak usah sok perduli." Nanda melepaskan jaket melihat Afila yang mendekap Lengannya sendiri.Ia memasangkan pada perempuan itu, Dada Afila berdesir,sebenarnya ia merasa lega mendengar semua ucapan yang baru saja di lontarkan oleh Nanda. " Saya perduli dengan kamu,lagi sedih ya?" Afila terdiam. " Mau saya ajak jalan-jalan ke depan sana?" kata Nanda kembali. " Pamit ke mama dulu deh." " Kamu kan perginya sama saya,mereka pasti tidak akan khawatir." " Kamu suka soto Ayam?" " Kenapa emang?" " Soto Ayam itu enak di Lidah seperti kamu,enak letakin di Hati." " Enggak jelas banget,receh." Balas Afila sambil geleng-geleng Kepala. Sikap Galak Nanda menghilang saat ini hingga sekarang ia tidak takut. " Kenapa lo bawa gue ke sini?" tanya Afila setelah mereka berhenti pada warung Kaki Lima di jalan. " Kan saya mau ajak kamu makan soto Ayam,dulu saat saya masih tinggal bareng dengan Mama Kandung setiap akhir pekan kita akan menghabiskan waktu untuk makan seperti ini,Papi saya suka sekali makanan kayak begini." Afila ingat Adly,papanya.Lelaki itu juga sangat menyukai Soto Ayam. " Papa gue juga suka soto Ayam,tapi dulu." Nanda menggigit Bibir sekeras mungkin,ia salah bicara. " Bang,pesan soto Ayamnya Dua." " Baik,di tunggu ya." Jawab Penjual tersebut. Sambil menunggu pesanan mereka datang,Nanda dan Afila sibuk dengan Handphone masing-masing. " Kamu yang tercantik," Nanda bersenandung kecil sembari membalas chat yang masuk. Bahagia itu sederhana,bisa mengulang kisah yang bertahun-tahun lamanya untuk duduk di Kursi seperti ini.Menikmati indahnya pemandangan malam,Afila rindu lagi. Ia melirik wajah Nanda yang serius,senyumnya kembali melukis setelah mengamati setiap inci Wajah itu. " Silahkan di nikmati pesanannya,semoga sesuai dengan selera lidah Mbak dan Masnya." ucap Penjual yang membuat Afila mengalihkan tatapannya,lalu mengangguk. " Enak." Puji Perempuan itu lirih. " Mau saya suapin?" " Enggak." Nanda terkekeh,meletakkan handphonenya di atas Meja,ikut Menyantap soto Ayam. " Fil,saat kita menikah nanti kamu tidak ingin Papa datang?" Afila terdiam,menjauh sejenak.Hanya untuk meluangkan waktu bernafas sebentar. " Udah tahu gitu,kenapa masih nanya!" suara Afila terdengar bergetar. " Kamu kenapa sih,dia itu orangtua kamu juga,yang akan menikahkan kita." " Karena Papa telah menyakiti dan melukai Mama dengan menikahi Perempuan lain.Namanya Isna,Sekretaris papa yang sudah berhasil merusak hidup oranglain.Gue memang masih kecil tapi nggak buta untuk masalah mereka.Mana mungkin gue minta dia hadir di hari pernikahan besok.Kalau lo mau Papa datang dan menikahkan gue,lebih baik tidak ada pernikahan sama sekali." Nanda menatap bingung." Kenapa kamu tidak berusaha memaafkan Fil?" " Lo gila ya! sejak kapan gue harus membutuhkan papa.Orang yang menyakiti Hati mama habis-habisan,memilih bahagia dengan Isna,Perempuan yang tidak tahu malu itu." Dada Nanda bergemuruh hebat mendengar nama Wanita yang di sebutkan oleh Afila dengan nada penuh kebencian. " Apa lo pernah merasakan kehilangan?" Tanyanya dengan santai tetapi penuh penekanan. " Nggak pernah,tapi kan enggak boleh juga bersikap seperti itu." jawab nanda. " Jangan ceramah di sini,.." " Saya hanya..." Ucapan Nanda terhenti saat Tangan Afila menutup mulutnya cukup keras. " Lo enggak pernah merasakan kesepian itu seperti apa,jadi apapun yang lo jelasin ke gue itu enggak ada artinya." " Maaf,tapi mulai sekarang saya enggak akan membiarkan kamu kesepian." Afila terkekeh singkat." Nggak perlu minta maaf,gue males aja bahas itu ketika akan menikmati Soto Ayam." Nanda mengangguk,mengerti. Marry With My Senior Afila membenarkan selimutnya setelah melihat pesan masuk.Ia menepuk jidat karena melupakan sesuatu. " Kok belum tidur ?" Tanya Anin. " Kakak tidur duluan deh Afila lupa kalau ada tugas kimia." " Kakak bantuin ya." " Emang kakak enggak capek setelah acara tadi? " Tanya Afila sembari meletakkan Bukunya di depan Tv. " Lumayan,tapi nanti kalau kamu udah nikah mana mungkin bisa kakak begini lagi.Palingan sama Mama doang." " Apaan sih kak,berlebihan banget."Canda Afila dengan memukul bahu Anin. " Kakak enggak nyangka kamu menikah muda,tapi pilihan mama keren ya.3T oke banget." " Apa itu 3T kak?" " Tampan,Tajir,dan Top Markotop." Afila hanya mengerucutkan Bibir tanpa menjawab,lalu mulai sibuk dengan soal-soal yang di kerjakan. " Fil." Panggil Anin setelah ucapannya tidak di jawab. " Apa." Jawabnya dengan malas. " Kamu enggak sedih? kakak kok sedih ya.Nanti setelah menikah kamu ikut suami,bakal jauh." " Ih kakak jangan sok tau deh.Afila aja enggak berfikir sampai di sana." " Mama yang bilang begitu,setelah menikah kamu akan tinggal bareng Nanda.Jangan cepet-cepet kasih kakak keponakan ya,belum siap di panggil Tante." Anin menutup Mulutnya,menahan Tawa. " Error,kakak makin aneh kalau malem.Tidur sana,gangguin aja." Anin terkekeh pelan dan bangkit menuju ke Tempat Tidur." Good Night." " Too." Selamat terlelap,mimpi indah. Nanda membuka pesan masuk barusan.beberapa panggilan masuk dan pesan menjadi penghias layar handphone berwalpaper wajah dirinya. Ada lima panggilan masuk dengan nama "Mom".Nama yang langsung membuat fikirannya merekam ucapan perempuan yang di temani tadi. Maaf,sekalipun untaian kata ini tidak perlu di ucapkan.Namun setidaknya aku mengerti bagaimana rasanya di posisi kamu sebagai makhluk ciptaan tuhan yang mudah tersentuh soal perasaan,begitu juga tentang harapan.-Nanda Eko Putra
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN