Greyson Halim Obsidian

2035 Kata
Sebuah ruangan bernuansa gelap menyapanya kembali setelah tiga tahun ditinggalkannya. Tiga tahun lalu, ia mengenyam pendidikan S2 di sebuah negara yang menjadi julukan negara super power. Isi ruangan itu tidak berubah sama sekali, hanya sedikit lebih rapi. Ruangan itu tidak benar-benar ditinggalkan. Ibu dari pemilik kamar selalu menyuruh pelayan untuk membersihkan debu-debu dan merapikan beberapa barang yang tidak tertata. Perjalanan hampir dua puluh jam sungguh membuatnya kelelahan. Namun, ia tidak dipersiapkan untuk mengeluh. Studinya ke Amerika bukan semata-mata untuk mencari prestasi, melainkan untuk mempersiapkan diri menjadi penerus Obsidian. Langkah kakinya masih setia memutari sudut-sudut kamar itu. Tidak banyak kenangan di sana, tetapi memori itu masih terekam. Kamar yang ditempati selama hampir dua puluh tahun itu menjadi saksi tumbuh kembang seorang anak kecil yang kini sudah menginjak usia lebih dari seperempat abad. Koleksi alat musik dan buku-buku masih tersusun rapi di sudut kanan dan kiri kamar yang luasnya hampir setara dengan minimarket yang ada di pinggir jalan–atau lebih. “Abang!” Suara lembut seorang wanita disertai ketukan pintu menginterupsi nostalgianya. Ia melangkahkan kaki untuk membuka pintu. Tatapannya datar, tapi siapa pun yang sudah mengenalnya dengan baik pasti tahu kalau itu tatapan paling lembut yang pria itu miliki. “Sudah bersih-bersih?” Pria itu menggeleng. Ia masih menyampirkan jas pada lengannya. Wanita itu mendengkus geli. “Mandi dulu Bang, makan malam sudah siap.” “Iya, Ma.” “Abang nanti siap-siap juga, ya.” Alisnya menyatu. “Nanti akan ada tamu penting,” jawab sang mama seakan tahu apa yang ada dipikirkan anak sulungnya itu. “Sepenting apa?” selidik pria yang sering dipanggil Rey itu. “Nanti Abang juga tahu sendiri,” balas wanita itu sambil mengedipkan sebelah matanya. “Abang enggak mau dijodohkan, ya, Ma,” pinta Rey dengan suara tegas. Setelah anaknya mengatakan itu, senyum wanita itu berubah menjadi sedikit kikuk dan dipaksakan. “Mama nggak menjamin hal itu, tapi semoga Abang kasih keputusan yang terbaik.” Diacaknya pelan puncak kepala Rey, kemudian wanita itu meninggalkan pria yang mematung dengan pandangan yang tidak bisa diartikan. Semua bercampur menjadi satu–marah, kecewa, sedih–semua tergambar dalam tatapan itu. Lagi. Tiga tahun yang lalu hal ini juga pernah terjadi. Beruntungnya saat itu ia bisa menolak dengan alasan ingin fokus dengan studi S2nya. Ia tidak tahu harus mengambil keputusan seperti apa. Hidupnya tidak pernah terlepas dari aturan dan pilihan sang papa, pendiri Obsidian. Rey menghela napas berat. Dia menginginkan seorang perempuan yang bisa membuatnya bertekuk lutut tanpa diminta. Dia juga ingin mencari seorang perempuan yang memang mampu mengimbanginya dalam segala hal. Ia mengacak rambut frustrasi. Jika begini akhirnya, lebih baik ia tinggal di Amerika selamanya. Rey memutar lagu secara acak untuk menghias heningnya ruangan. Lagu ‘Someday’ milik 92914 terputar. Under the montain I see those birds Hanging from the trees Suara guyuran shower turut menemani alunan musik. Out of the sky I see those clouds Running from the wind Makan malam keluarga bersama tamu spesial tak lantas membuat suasana menjadi istimewa. Canggung. Kata itu sangat menggambarkan suasana ruang makan ini. Meski beberapa kali tuan dan nyonya pemilik rumah mencoba mencairkan suasana, tetapi ketiga anaknya sama sekali tak mendukung hal tersebut. Seedlip Grove 42 menjadi pelengkap makan malam mereka. Rasa rempah dengan campuran lemon dan jeruk mandarin. Meski begitu, makan malam tetap berlangsung dengan tenang. Tamu itu merupakan kolega bisnis si tuan rumah. Rey ingat betul pertanyaan tamu terhormatnya ini saat sedang mengobrol. Ia melangkahkan kaki menuruni tangga dan berjalan menuju ruang tamu. Di sana tampak mama dan papanya sedang membicarakan sesuatu. Ia tidak begitu tertarik dengan pertemuan ini, tetapi yang bisa ia lakukan hanya menuruti kata orang tuanya. Orang yang pertama kali menyadari kehadiran Rey adalah mamanya. Ia langsung berdiri dan menghampiri anaknya yang masih terdiam di dekat tangga. Mama Gina menggandengnya dan menyuruhnya bersalaman dengan tamu yang menganggu kedamaiannya. Obsidian berdiri ketika istri dan anaknya sudah berdiri di sampingnya. Tamu mereka juga ikut berdiri—sebagai rasa sopan santun. “Rey, mereka kolega Papa,” jelas Obsidian—sang papa—meluruskan kebingungan anaknya. Bukannya paham, Rey malah makin mengerutkan kening. “Pak Wira, Bu Naya, Nak Arum, kenalkan ini anak pertama saya namanya Rey.” Dengan raut bangga, Papa Ian memperkenalkannya dengan tamu-tamu tersebut. Rey tersenyum tipis. Ia menjabat tangan mereka dengan tegas—seperti biasa. Perasaannya mulai tidak enak ketika tamu yang bernama Pak Wira itu menanyakan status hubungannya. “Rey udah punya pacar atau masih sendiri?” Pak Wira bertanya secara to the point. Rey rasa papa dan mamanya bisa menilai kembali tamu tersebut atas pertanyaan yang baru saja dilontarkan. Rey mengatupkan mulutnya kuat-kuat. Ingin sekali ia membalas, “Bukankah tidak sopan menanyakan hubungan anak kolega Anda dengan gamblang, Pak Wira yang terhormat?” “Rey,” panggil Papa Ian setelah menyelesaikan makan malam. Ia mendongak. Alisnya naik sebelah. Firasatnya mengatakan hal menyebalkan akan terjadi setelah ini. “Nanti temani Nak Arum ngobrol di taman.” Benar saja. Perintah itu membuat rahangnya sedikit mengeras. Para tamu mungkin tidak menyadari perubahan raut mukanya, tetapi kedua adik dan mamanya sangat paham bahwa ia sedang menahan amarah. Kalau saja menentang kehendak orang tua itu diperbolehkan, sudah sejak enam tahun lalu ia memberontak. Namun, sebagai anak sulung, Rey sedikit banyak mengerti bahwa ia menjadi panutan bagi adik-adiknya–meski ia tidak yakin adik-adiknya itu akan menuruti jalan hidupnya. Tanpa mau memperpanjang argumen, Rey pun mengiyakan perintah dari papanya. Ia mengajak Arum ke taman tanpa suara, hanya mempersilakan perempuan itu dengan isyarat tangan. “Aku nggak tahu kamu sependiam ini.” Perempuan itu membuka suara setelah sepuluh menit mereka saling diam. Angin malam berembus cukup kencang, membuat perempuan berambut sebahu itu sedikit menggigil. Lengannya diusap perlahan. Sweater yang ia kenakan sama sekali tidak memberi kehangatan yang berarti. Beberapa kali terdengar bunyi jangkrik yang mengisi sikap diam keduanya. “Maaf ya, atas pertanyaan Papa tadi.” Arum mencoba kembali mencairkan suasana. Ternyata Rey bukan pria yang selama ini ia bayangkan. Ia kira laki-laki itu akan bersikap hangat kepadanya. “Lain kali jangan tanyakan itu kepada orang yang baru Anda kenal.” Anda? Begitu asingkah Arum di mata Rey? Rey berdiri dan menyimpan kedua tangannya di saku celana. Kemeja abu-abu polos yang dikenakannya sangat pas dengan tubuh atletik miliknya. Arum sampai tidak berkedip memandangnya. – S B T – Belum ada seminggu, Rey kembali disibukkan dengan masalah pekerjaan. Hari ini ia ada jadwal untuk mewawancarai beberapa peserta yang melamar pekerjaan. Bukan hal yang mudah baginya untuk memilih yang terbaik. Namun, ia cukup percaya diri bahwa pertanyaan-pertanyaan yang ia susun akan menyulitkan beberapa di antaranya. Rey berangkat menggunakan Volvo tanpa supir. Ia tidak terlalu suka berada di mobil hanya berdua dengan Pak Epan, rasanya aneh. Jalanan pagi ini tidak begitu padat, tapi juga tidak begitu senggang karena hanya didominasi oleh pengendara motor. Kedua tangannya memegang kemudi, sudah lama ia tak melewati jalanan ini. Kali terakhir Rey berkendara seperti ini ada seseorang yang menemaninya, tapi itu dulu. Pria berdarah Jerman itu selalu suka suasana yang tenang. Ia tidak begitu nyaman berkendara sambil mendengarkan lagu di radio. Saat jalanan terlihat sepi, tanpa diduga ada seorang anak perempuan menyeberang tanpa memperhatikan arah kiri dan kanan. Otomatis, Rey menginjak rem sekuat mungkin. Nyaris ia menabrak seorang anak. Rey mendesah. Itu tadi hampir saja. Kantor perusahaan milik Obsidian hampir seluas mal. Letaknya ada di daerah Kuningan, Jakarta Barat. Hampir semua kegiatan administrasi dilakukan di kantor pusat ini. Rey melangkahkan kaki mantap masuk ke gedung yang kira-kira akan menjadi miliknya beberapa tahun ke depan. Semua pegawai yang sudah datang langsung memberikan hormat dengan membungkukkan badannya. Rey tidak menghiraukan sekelilingnya, tatapannya pun terarah ke depan. Banyak pertanyaan yang ada di benak mereka, salah satunya, “Apakah bos macam ini yang akan memimpin Obsidian ke depannya?” Akses masuk ke gedung Obsidian juga tidak mudah. Setiap pegawai memiliki kode masing-masing dan hanya bisa diakses melalui sidik jari atau barcode yang ada di id card. Tempat untuk presensi tiap-tiap pegawai pun berbeda. Ada sekitar sepuluh tempat presensi di lantai satu. Untuk masuk ke ruangan tertentu pun juga membutuhkan akses yang khusus pula. Ruangannya berada di lantai delapan. Ia membuka pintu dan masuk ke ruangan bernuansa monokrom—request pribadinya kalau dia diangkat menjadi Chief Executive Officer (CEO). Pria berpakaian formal itu mendudukkan diri di kursi kebesarannya. “Permisi, Pak.” Pintu diketuk dari luar. “Ya, masuk.” Rey masih berdiri menghadap jendela belakang yang menyuguhi pemandangan gedung-gedung pencakar langit. Seorang perempuan melangkah mendekati meja sang pemilik ruangan sambil membawa beberapa berkas. “Ini berkas yang Bapak minta. Wawancara dengan pelamar akan dilaksanakan sekitar tiga puluh menit dari sekarang.” Rey membalikkan badan dan mengangguk. “Terima kasih ....” Laki-laki itu mendongakkan kepala dan tersenyum miring. “Mala.” Perempuan yang dipanggil Mala itu melebarkan mata, terkejut. Dia tampak masih sama seperti dulu. Senyumnya perlahan mengembang. Bertemu teman lama memang tidak pernah mengecewakan. “REY!” teriak Mala tanpa sadar. “Kata Om Ian kamu belum mau ngurus perusahaan?” Rey berdecak mendengar keributan yang dibuat perempuan itu. “Berisik.” Mala mengerucutkan bibirnya tidak suka mendengar protes dari pria yang sudah dikenalnya selama enam tahun lalu. Rey yang dikenalnya adalah seorang pria yang identik dengan sikap cuek. Selama mengenal laki-laki itu, Mala hanya pernah melihat tawanya sekali, yaitu ketika laki-laki itu sedang berbicara dengan perempuan masa lalunya. Selebihnya hanya senyum formal yang biasa ia berikan pada saat perkenalan diri. “Rey! Aku benar-benar bertanya!” seru Mala. Pria berjas abu-abu itu menghela napas. “Profesional, Mala!” peringatnya. Perempuan itu mendengkus. “Baik. Maaf, Pak.” Mala sadar kalau saat ini ia sedang di ruangan seorang penerus Obsidian Corp. Beberapa kali ia merutuk dalam hati atas tindakannya yang sedikit berlebihan. Hening beberapa saat. “Kalau begitu saya permisi dulu, Pak.” Akhirnya Mala pamit karena tidak ada lagi kepentingan perusahaan yang perlu dibahas. Rey hanya mengangguk samar ketika sang sekretaris keluar dari ruangannya. Pria yang kini menggantikan seorang Obsidian di posisi CEO sedang memperhatikan betul berkas yang sedang dipegangnya. Berkas-berkas itu adalah data diri dari pelamar yang ingin menjadi bagian dari Obsidian Corp. Rey sudah menyeleksi tiga dari enam yang lolos tahap sebelumnya. Dari enam orang tersebut, hanya akan diambil dua dari masing-masing divisi. Rey sangat selektif. Dari tiga yang sudah diwawancarai, hanya satu yang sesuai kriterianya. Waktu menunjukkan pukul 08.25 WIB. Lima menit lagi ia akan mewawancara orang keempat. Ia beberapa kali mengetukkan jari ke atas meja. Wajahnya masih terlihat lelah setelah tadi malam ia harus menemani tamu papanya itu mengobrol. Mereka baru selesai berbicara ketika mendekati tengah malam. Terlalu larut untuk bertamu. Kantung matanya begitu jelas jika dilihat dari dekat, tapi tidak mengurangi kadar ketampanan yang dimiliki tentunya. Terdengar suara pintu diketuk. “Permisi.” “Ya, silakan masuk,” jawab Rey yang kemudian menegakkan badannya. Terlihat seorang perempuan memakai pakaian yang berbeda. Pakaian yang dikenakan perempuan itu berbeda dengan pakaian orang-orang yang ia wawancara sebelumnya. Atasan hijau lumut dengan rok span berwarna hitam cukup menarik perhatiannya tanpa sadar. Perempuan itu terlihat gugup seperti bingung harus melakukan apa. Melihat hal tersebut, Rey pun mempersilakannya duduk dengan wajah datarnya. Pria yang berstatus sebagai CEO Obsidian Corp itu memberikan pertanyaan-pertanyaan yang umum diberikan. Sesekali tangannya mencatat beberapa poin dari jawaban yang diberikan oleh perempuan berambut ponytail itu. Ia mendengarkan dengan cermat dan beberapa kali melemparkan pertanyaan atas jawaban yang telah disampaikan. “Jika Anda diterima di perusahaan ini, berapa gaji yang Anda inginkan?” Pertanyaan jebakan miliknya membuat perempuan itu sedikit tersentak. Namun, tidak lama perempuan itu terlihat menguasai dirinya kembali. Tampak gestur tubuhnya yang mulai santai. “Saya yakin bahwa perusahaan memiliki anggaran dan standar rentang gaji maksimal untuk posisi ini. Saya juga yakin bahwa Bapak ingin mendapatkan kandidat yang memiliki kompetensi yang telah disyaratkan. Maka dari itu, dengan penuh hormat saya akan menerima rentang gaji maksimal untuk posisi tersebut.” Perempuan itu mengakhirinya dengan senyuman. Ia cukup terkesan dengan cara perempuan itu membalas pertanyaannya. Ini adalah salah satu kriteria pegawai yang diinginkan Rey. Selain memiliki pendirian, tentunya para pegawai harus memiliki pemikiran yang kritis. Vanilla Pramudya Astari. Selain outfit, ternyata namanya juga cukup unik. Tidak heran jika Rey cukup terkesan dengan pertemuan mereka kali ini. Lima menit lalu, pintu tertutup diikuti keheningan yang kembali menyeruak dalam ruangan itu. Ia sudah memutuskan nasib dari perempuan itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN