Di salah satu Villa yang berada di daerah Karawang, Gea duduk di depan jendela kamar sambil menatap pemandangan gunung dengan tatapan sendu. Suasana yang begitu damai nan asri membuat dia betah berlama-lama di tempat tersebut. Bahkan segala permasalahan dalam pikirannya, perlahan berhasil Gea singkirkan untuk sementara waktu. Sempat terlintas dia tak ingin kembali, namun hati kecilnya selalu menolak. Ada sebuah hasrat yang mendorongnya agar segera pulang ke Jakarta. Namun sebisa mungkin Gea menahannya. Katakanlah dia egois karena lebih memilih lari menghindari masalah dan bukannya menyelesaikan. Untuk sekarang Gea benar-benar butuh waktu sendiri agar pikirannya bisa kembali tenang. Di tengah rasa sepi yang mulai menyelimuti, suara samar langkah kaki terdengar di telinganya diikuti de

