Loukin tidak menginjakkan kaki di kampus hari itu. Ia hanya mengirimkan pesan singkat berbunyi demam ringan kepada Mira sebelum mematikan ponselnya dan melempar gawai itu ke sudut tempat tidur. Dunia luar dan perkuliahan minggu pertamanya bisa menunggu. Saat ini, yang ia butuhkan adalah pemahaman atas apa yang sedang terjadi pada fisiknya.
Loukin duduk bersila di lantai kamar kos yang sempit. Cahaya matahari sore menerobos celah tirai, membentangkan garis-garis keemasan di atas permukaan lantai kayu yang kusam. Udara terasa pengap, namun ia mengabaikannya.
Ia mengulurkan tangan kanannya, membolak-balikkan jemarinya di udara. Kulitnya tampak biasa saja, sawo matang khas manusia pada umumnya. Namun Loukin tahu ketenangan itu hanyalah kebohongan sementara.
Ia menarik napas dalam-dalam, menekan ketakutannya, lalu menyentuhkan ujung jari telunjuknya ke permukaan selimut biru tua yang terlipat di samping kasur.
Rasa gatal yang tajam merambat seketika.
Jutaan titik pigmen di bawah kulit jarinya bergeser secara aktif. Dalam kurun waktu tiga detik, rona ujung jarinya berubah menjadi biru tua pekat, menyatu sempurna dengan tekstur kain selimut tanpa menyisakan batas yang jelas.
Loukin menatap perubahan itu tanpa berkedip. Tidak ada lagi porsi terkejut, yang tersisa hanyalah kelelahan mental yang amat sangat. Ia menarik jarinya, lalu menempelkan telapak tangannya ke lantai kayu cokelat tua. Kulitnya merespons cepat, membiaskan rona cokelat yang persis sama. Ia menyentuh buku catatan ber-sampul hijau, dan rona kulitnya langsung berganti menjadi hijau pupus.
Setiap kali tangannya menyentuh permukaan baru, pigmentasi tubuhnya bereaksi secara otomatis. Seperti refleks saraf tak terkendali. Seperti ada mekanisme pertahanan diri spesies asing yang mendiami pembuluh darahnya.
Loukin menarik tangannya kembali, mengepalkannya rapat-rapat hingga bukunya memutih. "Ini nyata. Tubuhku benar-benar berubah," bisiknya serak.
Matahari makin meluncur ke ufuk barat. Loukin masih mematung di lantai dengan punggung bersandar pada dinding semen. Perutnya mulai melilit meminta makanan, tetapi rasa lapar itu terkikis oleh kelelahan yang menguras habis energinya.
Tiba-tiba, rasa hangat meluap dari pangkal lehernya menuju belakang telinga.
Tidak ada gatal pigmentasi kali ini. Namun, sistem pendengarannya mendadak meledak.
Suara-suara yang sebelumnya terhalang dinding tipis kos mendadak masuk ke dalam kepalanya dengan kejelasan yang mengerikan. Ia bisa mendengar gesekan kain sprei dari kamar sebelah, gemercik air keran di lantai bawah, hingga detak jarum jam dinding di kamar pengelola kos.
"Vaksinasi kemarin bikin lenganku pegal sekali," suara tetangga kos lantai bawah terdengar begitu jernih di telinganya, seolah-olah orang itu sedang berbisik tepat di samping wajah Loukin.
"Sama, aku juga ketiduran seharian," sahut suara temannya. "Tapi kamu dengar cerita anak Fakultas Kedokteran Gigi tidak? Katanya dia masih dirawat."
Loukin mencengkeram kedua telinganya rapat-rapat, memejamkan mata erat-erat. Ketajaman pendengaran itu menghantam sarafnya tanpa kompromi. Tidak berhenti di situ, saat ia membuka mata, pandangannya merespons hal yang sama. Dalam kegelapan kamar yang mulai pekat, matanya mampu menangkap setiap detail partikel debu yang melayang di udara, serat kain pada pakaiannya, hingga retakan-retakan mikro pada dinding semen secara telanjang.
Inderanya mengalami beban berlebih. Bau minyak goreng bekas dari Dapur bawah menyengat hidungnya begitu pekat hingga membuatnya mual.
Loukin merangkak ke sudut ruangan, menekan kepalanya ke lantai dingin sambil menahan napas. Butuh waktu hampir satu jam hingga desakan informasi sensorik itu mereda kembali ke batas toleransi tubuhnya. Loukin terbaring telentang dengan napas memburu dan peluh dingin membasahi seluruh kausnya.
Dengan jemari yang masih gemetar, Loukin meraih ponselnya dan menyalakannya kembali. Panggilan tak terjawab dari Mira dan notifikasi grup Maba bermunculan, tetapi ia mengabaikan semuanya. Ia membuka aplikasi peramban, menari-narikan jarinya di atas layar.
Ia mengetikkan kata kunci: *Reaksi perubahan pigmen kulit dan ketajaman indera.*
Hasil pencarian hanya menampilkan artikel kesehatan umum seputar alergi obat, demam pancaroba, dan gangguan kecemasan. Tidak ada satu pun dokumen ilmiah yang mencatat kasus manusia yang mampu berganti warna kulit atau memiliki penglihatan malam secara mendadak.
Loukin menggigit bibir bawahnya hingga terasa asin oleh darah. Ia mengubah kata kuncinya, mencari forum-forum diskusi independen. Setelah menggulir belasan halaman internet, sebuah tautan forum tersembunyi menarik perhatiannya.
*The Hollow.*
Sebuah forum daring independen berlatar gelap dengan tampilan sederhana. Deskripsi utasnya tertulis singkat: *Catatan Fenomena Bintang dan Perubahan Fisik yang Tak Terjelaskan.*
Loukin menekan tombol masuk. Di dalam forum tersebut, sebuah unggahan yang dibuat tiga hari lalu dibanjiri oleh puluhan tanggapan anonim.
*Apakah ada yang merasa tubuhnya tidak sinkron setelah menerima vaksinasi mingguan?*
Loukin membaca barisan komentar di bawahnya dengan jantung yang berdegup kencang.
*Kulit tanganku memudar warnanya saat memegang meja kayu. Aku pikir aku menderita gangguan jiwa.*
*Pendengaranku mendadak sangat tajam. Aku bisa mendengar suara bisikan dari luar rumah.*
*Penglihatanku memipih saat melihat cahaya terang di malam hari.*
Loukin mengepalkan tangannya. Rasa terasing yang menekan dadanya selama dua hari terakhir mendadak terangkat sedikit. Ia bukan satu-satunya korban. Ada orang lain di luar sana yang sedang mengalami kegilaan biologis yang sama dengannya.
Keesokan harinya, Loukin memaksa dirinya untuk kembali ke kampus. Bersembunyi di dalam kamar kos hanya akan membuatnya gila oleh ketidakpastian.
Suasana area kampus terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Para mahasiswa berjalan tergesa-gesa tanpa gurauan khas Maba. Beberapa dosen tampak berkumpul di depan ruang rektorat dengan raut wajah tegang. Percakapan tertahan berseliweran di sepanjang koridor yang Loukin lewati.
"Pihak rektorat belum memberi klarifikasi resmi..."
"Keluarga mahasiswa yang dirawat mengancam akan membawa ke jalur hukum..."
Loukin mempercepat langkahnya, berusaha menutup diri dari kasak-kusuk tersebut. Ia mengambil jalur memutar melewati bagian belakang kompleks kampus, melintasi gedung olahraga tua yang jarang digunakan. Tempat itu sepi dan dikelilingi pepohonan rindang.
Namun, saat ia melintasi area belakang gedung, dentuman keras menggelegar dari dalam ruangan.
*Brak. Brak. Brak.*
Suara benturan logam dan beban berat bergetar hingga ke trotoar tempatnya berdiri. Loukin menghentikan langkah. Didorong oleh rasa ingin tahu yang membakar, ia mendekati pintu besi gedung olahraga yang terbuka sedikit.
Ia mengintip dari balik celah pintu.
Di tengah lapangan semen yang berdebu, seorang pemuda berbadan tegap dengan kaus hitam tanpa lengan sedang berdiri di depan karung tinju berukuran ekstra besar. Pemuda itu menghantam karung pasir tersebut dengan tinjuan beruntun. Kekuatan pukulannya sama sekali tidak masuk akal untuk ukuran manusia. Karung tinju tebal itu meliuk ekstrem hingga besi penyangganya berderit tajam hampir patah.
Loukin menahan napasnya.
Tiba-tiba, pemuda berbadan tegap itu menghentikan gerakannya. Ia tidak menoleh, tetapi cuping hidungnya mengembang kempis secara halus, seolah-olah sedang menghirup aroma udara di sekitarnya.
Sekejap kemudian, pemuda itu memutar tubuhnya, menatap lurus tepat ke arah celah pintu tempat Loukin bersembunyi.
"Keluar," suara pemuda itu berat dan bergetar rendah, memancarkan d******i yang pekat.
Loukin membeku. Ia tahu tidak ada gunanya melarikan diri. Dengan perlahan, ia menggeser pintu besi dan melangkah masuk ke dalam ruangan.
Pemuda itu berjalan mendekat dengan langkah tenang namun berbobot, layaknya seekor predator yang sedang mengukur wilayahnya. Matanya yang tajam menatap Loukin dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Area belakang ini tidak digunakan untuk umum," ujar pemuda itu, berdiri hanya berjarak dua meter di depan Loukin. "Kamu anak baru?"
Loukin mengangguk kaku. "Aku cuma lewat. Mencari jalan pintas ke kantin."
Pemuda itu tidak langsung menjawab. Ia memiringkan kepalanya sedikit, kembali menghirup udara di antara mereka dengan gerakan mikro. Matanya menyipit penuh kecurigaan.
"Aroma tubuhmu aneh," cetus pemuda itu dingin. "Itu bukan bau keringat manusia biasa."
Jantung Loukin serasa berhenti berdetak saat itu juga. *"Dia bisa menciumnya?"* batin Loukin panik.
"Aku baru saja berlari dari gedung depan," sahut Loukin cepat, berusaha menjaga agar raut wajahnya tetap tenang.
Pemuda itu menatap Loukin selama beberapa detik yang terasa sangat panjang, sebelum akhirnya mendengus pelan dan memalingkan wajah. "Pergilah. Jangan keluyuran di area ini lagi kalau tidak mau terlibat masalah."
Loukin tidak menunggu peringatan kedua. Ia berbalik dan melangkah keluar dari gedung olahraga dengan terburu-buru, merasakan tatapan tajam pemuda itu menancap di punggungnya hingga ia menghilang di balik belokan koridor.
Malam harinya, Loukin melangkah pulang menyusuri gang-gang sempit menuju kosnya. Lampu jalanan yang temaram membiaskan bayangan-bayangan panjang di atas permukaan aspal.
Pikirannya masih tertuju penuh pada pemuda di gedung olahraga tadi. Kekuatan fisiknya yang tidak masuk akal dan indera penciumannya yang tajam secara tidak langsung menegaskan satu hal: pemuda itu juga telah berubah.
Tiba-tiba, bulu kuduk di leher Loukin berdiri tegak.
Rasa gatal tajam menjalar di sepanjang tulang belakangnya. Sensasi bahaya yang instingtif merayapi sarafnya.
Ada yang sedang mengawasinya.
Loukin menoleh cepat ke belakang. Gang di belakangan sepi, hanya ada tiang listrik dan tempat sampah tua. Namun ketajaman inderanya yang baru tidak bisa dibohongi. Ia mendengar desiran angin yang aneh dari arah atap bangunan di seberang jalan.
Ia mendongak sekilas.
Di atas pembatas atap toko kelontong yang gelap, sebuah bayangan hitam berukuran besar sedang berjongkok kaku. Bentuknya menyerupai tubuh manusia, tetapi gerakannya terlalu gemulai dan cepat. Sebelum mata Loukin sempat memfokuskan pandangan, bayangan itu melompat melintasi celah atap lain tanpa memicu suara sedikit pun.
Kepanikan murni menguasai Loukin. Ia memutar badan dan berlari sekencang-kencangnya menembus kegelapan gang. Langkah kakinya menghantam aspal dengan keras hingga ia berhasil mencapai pintu kosnya.
Ia membanting pintu kayu itu rapat-rapat, menguncinya dari dalam, lalu merebahkan punggungnya ke pintu dengan napas yang tersengal-sengal. Peluh membasahi seluruh wajahnya, dadanya naik-turun secara tidak beraturan.
Loukin memejamkan mata rapat-rapat, menahan gejolak rasa takut yang menekan dadanya.
Ketika ia membuka mata beberapa saat kemudian, ia memandangi kedua tangannya sendiri.
Dalam remang kegelapan ruangan, tubuhnya tidak lagi kelihatan. Pakaian, lengan, dan kulitnya telah bertransformasi sepenuhnya menjadi rona hitam pekat, berbaur sempurna dengan bayangan pintu dan sudut kamar tempatnya berdiri. Tubuhnya merespons rasa takut yang ekstrem dengan mengaktifkan penyamaran total secara otomatis.
Loukin menatap tangannya yang seolah-olah telah lenyap dari realitas. Ia tidak lagi merasakan ketakutan atas perubahan itu, melainkan sebuah kepasrahan yang dingin.
Anomali di dalam tubuhnya bukan lagi sekadar efek samping yang bisa diabaikan. Sesuatu yang asing telah benar-benar mengambil alih fisiknya, dan dunia di sekitarnya tidak akan pernah terasa aman lagi.