13

1141 Kata
"Biasanya es krim itu manis, tapi pas makannya sama kamu rasanya jadi hambar. Kayaknya es krimnya minder" Dua mangkuk es krim dengan 3 varian rasa, baru saja diantar sang pelayan ke meja Rey dan Nesya, mata gadis itu membulat sempurna saat makanan manis itu berada tepat di hadapannya. Tanpa komando dan aba-aba, Nesya langsung menyendokan makanan dingin itu ke dalam mulutnya.  "Mmm!" Nesya berseru girang, es krim dan Nesya adalah cinta sejati begitu katanya. Seakan-akan sedang berada sendirian di meja itu, Nesya terus saja berseru riang setiap kali ia menyuapkan satu sendok es krim 3 rasa itu ke dalam mulutnya. "Ya ampun, lo kalo makan es krim lebih jorok dari pada Rere, ya." tegur Rey, tangannya bergerak untuk membersihkan noda es krim yang ada di hidung Nesya. Gadis itu terdiam, dadanya bergerak naik turun. Ini pertama kalinya Nesya di perlakukan seperti ini, rasanya----rahasia deh nanti jomblo baper. "Nggak usah ngeliatin," celetuk Rey saat memergoki Nesya sedang tertegun menatapnya. Nesya langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain, berusaha menyembunyikan semburat merah yang muncul di pipinya. Belum lagi sekarang di perutnya seperti sedang ada ribuan kupu-kupu. "Siapa yang ngeliatin ...," elak Nesya seraya mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Lah, kok pipinya merah gitu? Emang lo kalo makan es krim, pengaruh dinginnya sampe ke pipi, ya?" Rey mengamati pipi Nesya yang sedang merona, sepertinya cowok itu tidak peka. Pengen gue tabok, untung ganteng. "Pengaruh es krim strawberry," jawab Nesya asal. "Masa? Hebat ya, es krimnya manis terus lo makan, muka lo jadi merah. Jadi ikutan manis," ujar Rey, tanpa sadar kata-katanya itu membuat kupu-kupu di dalam perut Nesya ingin keluar. "Iya, makasih," sahut Nesya, berusaha sedatar mungkin. Agar cowok itu tidak tahu bahwa ia sedang terbang ke langit ke tujuh sekarang. "Em, Nes?" panggil Rey dengan ragu, Nesya hanya merespon dengan berdehem karena sibuk memakan es krimnya. "Maaf sebelumnya, gue tau lo diusir," ujar Rey berusaha mengatur suaranya agar tidak terkesan meledek, namun lebih terdengar seperti peduli. Nesya mendongakan kepalanya, menatap Rey dengan tajam. Membuat lelaki itu menjadi kikuk, ia takut Nesya salah paham akan pernyataannya barusan. "Ja-jangan salah sangka dulu Nes, aduh, itu, gimana ya, anu, ahh!" lidah Rey terasa kelu untuk mengutarakan sesuatu yang ada di hatinya, terutama karena tatapan tajam dari Nesya. Tatapan tajam tadi berubah menjadi seulas senyuman manis, sekarang gadis itu terkekeh karena tingkah gugup lelaki di hadapannya ini. "Kenapa lo ngomong ke puter-puter gitu, sih?" Nesya jadi teringat saat Rey terjatuh di kamar Rere, waktu itu ia juga tidak bisa berbicara dengan jelas seperti sekarang. "Gue cuman mau nyampein pesan mama, katanya lo mau nggak jadi salah satu modelnya buat fashion show koleksi terbarunya nanti."  Bohong. "Gue? Jadi model? Mana ada bakat. Ngejek gue ya, lo?" Nesya memanyunkan bibirnya. "Eh, bukan gitu. Lo kan diusir, mending lo terima. Gajihnya gede loh, lumayan kan. Masa lo mau numpang sama Tasya mulu."  Perkataan Rey seakan menusuk, tadinya Nesya tidak berfikir sampai ke situ. Tapi, bila mengingat uang yang ada padanya sekarang, rasanya tidak mungkin jika ia menolak. "Iya deh, gue mau," ucap Nesya, kemudian gadis itu melanjutkan lagi menyuapkan es krim ke dalam mulutnya. Dan, sekarang masalah gue, gimana caranya nyuruh mama ngadain fashion show. •  "Habis dari mana, Rey?" tanya Eldy saat anaknya itu baru memasuki rumah. "Habis bantuin temen Pa," jawab Rey. "Mama mana?" Eldy menunjuk ke arah dapur, Rey segera menghampiri ibunya yang sedang memasak makan malam itu. "Ma, ini urgent ma. Mama sayang sama Rey kan? Nah, iya sayang. Jadi, bantuin Rey ya, Ma?" cerocos Rey tanpa memberikan jeda untuk Zahra menjawab. "Bantuin apa sih, Rey? Pake acara nanya mama sayang apa engga," kemudian Zahra membulatkan matanya, "ASTAGA! REY, jangan-jangan kamu jual narkoba, ya?! Terus minta bantuin mama buat bebasin kamu? Astagfirullah, Nak ... Emangnya  uang jajan yang mama kasih kurang? Sampe harus jualan narkoba?" "Kamu jualan narkoba, Rey?" celetuk Eldy yang berada di belakang Rey, ia menggelengkan kepala seraya memijit pelipisnya. "Engg--" "Apa kurangnya mama sama papa, Rey? Kenapa harus jualan benda terlarang itu, kalo uang jajan kamu kurang, bilang sama papa, nggak usah  pake acara jualan narkoba, Nak ...," "Tapi ma, Rey bu--" "Papa kecewa sama kamu Rey, benar kata mama. Kalau uang jajan mu kurang, tinggal bilang. Jangan sampai berurusan dengan benda haram itu, astagfirullah ." Eldy mengelus dadanya. "Rey engg--" "Kita harus rehabilitasi Rey pah, nanti dia makin parah ..."  "Ma Rey engg-" "Iya, mama benar. Papa telepon teman papa dulu, dia kerja di BNN." "REY ENGGAK JUALAN NARKOBA!"  "Astagfirullah Rey! Jangan teriak-teriak dong!" Zahra memelototkan matanya pada Rey. "Iya, nggak sopan teriak-teriak sama orang tua." nasehat Eldy. Salah lagi. "Rey daritadi udah mau ngomong, papa atau mama selalu motong, kalau nggak teriak mana kalian bisa denger."  "Ngomong apa Rey? Ngomong kalau kamu jualan narkoba?"  "Mama! Rey itu mau minta tolong, kok malah mama nuduh Rey jualan narkoba!" "Minta tolong apa?" kini Zahra mulai serius. Rey menarik nafasnya dalam-dalam, kemudian ia mulai menceritakan semuanya. Zahra dan Eldy dengan setia mendengarkan cerita anak sulungnya itu, ini pertama kalinya Rey mau bercerita. •  Satu setel baju tidur bermotif disney melekat pada tubuh Nesya, baju yang sudah menjadi kesayangannya sejak satu tahun lalu. Hadiah dari sang Bunda, ya, Nesya sedang merindukan Bunda. Semilir angin malam menerpa tubuh Nesya yang sedang berada di balkon kamar Tasya. Menghirup nafasnya dalam-dalam sembari memejamkan matanya, Nesya berusaha menyegarkan pikirannya. Sempat teralihkan karena Rey entah ada angin apa mengajaknya pergi makan es krim, kini setres yang bersarang di kepalanya kembali muncul. "Bunda ...," lirihnya di keheningan malam yang mencengram ini. Saat sedang terhanyut dalam pikirannya, ponsel yang berada di saku baju tidur Nesya bergertar. Unknown number is calling Dahi Nesya mengernyit saat melihat deretan nomor yang tidak ia kenali, gadis itu akhirnya memutuskan untuk mengangkat teleponnya takut jika itu penting. "Halo?" ucap Nesya untuk mengawali percakapan. "2 minggu lagi, fashion show." "Ini Rey?" tanya Nesya dengan kernyitan di dahinya. "Iyalah, siapa lagi?" "Oh, iya." "Iya." "Ya." "Okey." "Iyaa." "Yoii." Begini saja terus, sampai author jadi pacarnya manu. "Iya." "Sip." "Rey," "Akhirnya." "Hah?" "Engga pa-pa, kenapa?" "Makasih ya." "Buat apa?" "Semuanya, buat lo yang nggak ngejauhin gue, buat lo yang berhenti judes sama gue, buat lo yang entah kenapa selalu ada kalau gue lagi sedih. Terutama buat es krim dan pekerjaan tadi, makasih banget ya." Nesya berterima kasih dengan tulus. Jika saja Nesya bisa melihat apa yang sedang Rey lakukan saat ini. "Iya sama-sama Nesya, gue di panggil mama. Gue matiin dulu ya, bye." Sambungan telpon terputus, Rey segera memutusnya sepihak. Karena ia sudah tidak tahan ingin segera berteriak, dan melompat-lompat girang di atas kasurnya yang empuk. "Argh! Gila!" Rey tertawa senang, ia meloncat-loncat seperti orang gila. "Kayaknya dia udah move on," ucap Zahra dari balik pintu. Rey tidak menyadari, jika sedari tadi kedua orang tuanya sedang mengintipnya dari celah pintu kamarnya yang sedikit terbuka. ------------------------------------------------------------ Hai, goodnight. Cie di ucapin ha ha ha Gimana part ini? Vote dan comentnya dong salam 6 R
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN