Satu minggu berlalu, sejak saat itu Felisha semakin mendekati Dafi meskipun ia masih belum mengingat sepenuhnya tentang Dafi. Ia hanya ingin berada di dekat Dafi, ia pernah bermimpi tentang Dafi, tetapi mimpi itu hanya samar. Ia teringat saat tertawa terbahak di suatu tempat. Mimpi itu sangat samar tetapi membuat Felisha percaya bahwa memang Dafi adalah kekasihnya. Senin pagi itu Dafi sedang bersiap untuk meeting di kantor. Ia sedang membereskan pekerjaannya dan merapihkan dalam tas. Felisha bergerak dalam tidurnya, Dafi segera menghampiri Felisha. “Kamu sudah bangun sayang?” tanya Dafi dan menyiapkan minum untuk Felisha. Felisha membuka mata dan langsung terduduk melihat Dafi yang sudah rapi. “Kamu mau kemana?” selidik Felisha. “Maaf sayang, aku akan meeting sebent

