Angin laut berhembus lembut menyentuh kulit anak manusia yang sedang menikmati pantai kala malam hari. Deburan ombak menerjang bebatuan karang memberi irama 'musik' unik. Laut terlihat indah dengan cahaya dari kapal-kapal yang tengah berlayar. Erick dan Sintia terdiam sejenak tanpa ada yang memulai percakapan setelah perkataan yang cukup membingungkan menatap lurus pada lautan lepas. Langit malam tampak cerah dengan banyak bintang bertaburan. Dua insan yang telah berpindah dari pasir ke atas bebatuan. “Maafkan aku,” ucap Sintia lembut diantara deburan obak memecah karang. “Aku yang harus minta maaf. Tidak memberikan kesempatan untuk dirimu bebicara. Itu aku lakukan agar kamu tetap nyaman berada di sisiku.” Erick tersenyum tampan. “Apa aku boleh berada di sisi kamu?” tanya Sintia merasak

