Penantian Sia-Sia

1029 Kata

Kafe sudah tutup setengah jam lalu. Meja konter tampak rapi dan bersih, lantainya berkilau setelah dipel. Sejak ada Danar, beban kerja Langit memang jauh lebih ringan. Ia berdiri di teras, bersandar pada tembok pembatas, memandangi Danar yang masih sibuk membereskan bagian dalam kafe. Mas Bima sudah pulang lebih dulu. Kini, hanya tersisa mereka berdua—dan sebentar lagi, ia juga akan pulang. Langit menghisap rokoknya perlahan, lalu mengembuskan asapnya ke udara senja. Tiga hari beristirahat di rumah telah mengembalikan tenaganya. Dan selama tiga hari itu pula, ia banyak merenung. Kejadian kemarin tak boleh terulang. Ia telah merepotkan terlalu banyak orang—membuat Mentari panik, membuat orang-orang di sekitarnya khawatir. Ia tak ingin lagi menghabiskan energinya untuk hal-hal yang sia

Cerita bagus bermula dari sini

Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN