Rumor

990 Kata
Langit mengayuh sepedanya mengelilingi kompleks perumahan. Putaran demi putaran. Hingga napasnya terengah dan kausnya basah kuyup oleh keringat. Saat mencapai taman, ia langsung meluruskan kaki di atas rerumputan yang sejuk, mencari kelegaan dari pegal yang mendera. Sudah terlalu lama ia meninggalkan sensasi roda berputar di bawah tubuhnya. Orang-orang lalu lalang di hadapannya, memulai aktivitas olahraga pagi. Ada yang bersepeda dengan riang, ada yang berlari ringan, ada pula yang berjalan santai bersama keluarga, pasangan, atau teman-teman. Sebuah desahan panjang lolos dari bibir Langit. Teman… Sudah tiga tahun ia tak pernah lagi berkumpul dengan teman-teman lamanya sejak pindah ke sini. Ia sengaja menghilang. Ia ingin menata hidup baru—menjadi laki-laki yang bertanggung jawab penuh untuk satu-satunya keluarga yang ia miliki: Mentari. Masa lalu yang keras, penuh kesenangan semu dan kehidupan jalanan, telah ia tinggalkan jauh di belakang. Kini fokusnya hanya satu: bekerja keras demi mencukupi kebutuhan mereka berdua. Mentari adalah tumpuan hidupnya. Dan meski lelah sering kali merayap tanpa permisi, ia tetap bertahan. Cita-citanya sendiri telah lama ia kubur. Mimpinya kini hanya satu: melihat Mentari menjadi sarjana. Mentari tak boleh gagal seperti dirinya. Saat matahari mulai memancarkan sinar hangatnya, Langit merasakan dorongan menuju tujuan berikutnya. Ia bangkit, kembali mengayuh sepedanya— menuju sebuah pemakaman umum. Setibanya di sana, ia menelusuri jalan setapak hingga berhenti di depan dua makam yang bersisian. Ia bersimpuh, memanjatkan doa. Tak ada lagi kesedihan kentara di wajahnya. Ia tak ingin kedua orang tuanya melihatnya terpuruk dalam duka. Ia ingin mereka melihatnya sebagai laki-laki dewasa yang kuat—meski jauh di dalam jiwanya, ia tahu, dirinya masih rapuh. Sudah tiga bulan ia tak berkunjung. Rumput liar tumbuh subur, dedaunan kering menutupi nisan bertuliskan nama kedua orang tuanya. Langit memunguti daun-daun itu satu per satu, mengusap nisan dengan lembut. Ia mencoba tersenyum, menyembunyikan pilu yang kembali menggenang—perasaan yang selalu datang setiap kali ia menjejakkan kaki di tempat ini. Setelah semuanya selesai, Langit pulang. Lelah dan kantuk menyerangnya bersamaan. Ia tak sabar merebahkan diri di kasur empuknya. Namun, setibanya di rumah, langkahnya terhenti. Sepatu dan sandal berserakan di depan pintu. Sekejap ia teringat pekerjaan sampingannya: les melukis teman-teman Mentari. Langkah Langit melemah saat memasuki rumah. Harapan untuk kembali tidur pupus sudah. Empat remaja putri telah siap dengan papan lukis dan cat di tangan, mata mereka berbinar penuh semangat. “Selamat pagi, Mas Langit!” Sapaan itu menyambutnya serempak. “Pagi juga,” balas Langit, senyum terpaksa terukir di bibirnya. Mentari keluar dari dapur, terkejut melihat kakaknya. “Aduh! Aku kira Mas Langit lupa! Tadi aku nelepon, tapi hapenya nggak dibawa,” sungutnya sambil membawa nampan berisi minuman dingin. “Bilang sama teman-teman kamu, hari ini nggak boleh ada yang pegang hape,” kata Langit sambil melangkah ke kamar mandi. “Semua pegang kuas. Nggak ada yang cengengesan. Harus serius.” “Siap, Mas!” sahut Mentari, menahan tawa. Tak lama kemudian, Langit masuk ke studio lukis. Para remaja itu sudah berkumpul. Sejujurnya, jika bukan karena bayaran, ia enggan memberi les pada abg tujuh belas tahun itu. Mereka benar-benar menguji kesabarannya. Seperti anak TK diberi krayon—tak peduli apa yang digambar, yang penting bersenang-senang. Kadang mereka lebih sibuk bersenda gurau, kadang hanya memandangi dirinya sambil berbisik-bisik entah membicarakan apa. … Langit tiba di Bagja Tower lebih awal dari biasanya. Setiap Senin, pekerjaannya memang lebih banyak—kafe perlu dibersihkan ekstra setelah libur akhir pekan. “Pagi banget, Mas Langit?” sapa Pak Riswan sambil mendorong gerbang. “Biasa, Pak. Senin,” sahut Langit. “Habis jaga malam, Pak?” tanyanya penuh harap. “Iya, Mas. Nanti saya mampir, ya. Sambil minta kopi,” bisik Pak Riswan. “Siap!” jawab Langit sumringah. Benar saja. Lima belas menit kemudian Pak Riswan menyusul, dan pekerjaan pun selesai lebih cepat. Mereka duduk di teras belakang kafe, menikmati kopi hangat. Sinar matahari pagi menyelinap di antara gedung-gedung tinggi, sementara suara lalu lintas ibu kota mulai membentuk simfoni khas pagi hari. “Mas Langit kemarin jatuhnya di sebelah mana?” tanya Pak Riswan tiba-tiba. Langit menyesap kopinya. Otaknya bergerak cepat. “Di pojok sana,” ujarnya santai sambil menunjuk dengan dagu. “Cewek itu kepeleset, jatuh nimpa saya." Ia tahu betul—cerita ini akan jadi versi terbaru gosip Bagja Tower. Pak Riswan mendekat, berbisik. “Bukannya Mbak Malia mau lompat dari atas gedung, Mas?” Senyum kecut muncul di bibir Langit. “Kok Pak Riswan tahu?” “Sopirnya cerita,” jawab Pak Riswan prihatin. “Kasihan Mbak Malia.” “Kenapa?” Langit mengernyit. Pak Riswan mengepulkan asap rokoknya ke udara, menatap ke kejauhan. "Dia stres dikurung terus sama orang tuanya. Gak boleh keluar." "Ah. Masa? Lah, itu kemarin keluar?" Langit masih tak percaya. "Ya, itu akal-akalan dia, Mas. Pura-pura ijin ke pesta ulang tahun temannya supaya bisa keluar rumah." Langit terdiam, kejadian malam itu berputar di benaknya. Pantas saja gadis itu mengenakan gaun pesta. "Malahan tadinya dia enggak boleh keluar sama sekali. Kalaupun pergi, dia selalu ditemani sopir. Pokoknya dia enggak boleh pergi sendiri, Mas. Apalagi bawa mobil sendiri." "O ya? Bandel kali?" pancing Langit, meski dalam hati ia merasa ada yang janggal. "Ah, tapi mukanya enggak kelihatan bandel." Pak Riswan menghela napas. Langit kembali merenung, mencoba memahami. Apa yang membuat perempuan itu begitu tertekan hingga Pak Bagja begitu protektif padanya? "Oh ya, waktu malam itu, siapa yang angkat saya ke mobilnya, Pak?" Tanyanya. "Oh, waktu Mas Langit pingsan itu kebetulan rekan saya yang jaga. Dia dan sopirnya Mbak Malia yang ngangkat. Katanya Mas Langit berat banget." Langit tertawa lepas."Tolong sampaikan terima kasih saya." Ia menepuk bahu Pak Riswan. Pak Riswan mengangguk. "Katanya, Mbak Malia panik banget. Sampai nangis." "O ya?" Alis Langit terangkat. "Dia takut Mas Langit meninggal dunia." Langit terdiam. Ia ingat wajah itu—gemetar, matanya berair. "Udah mau buka, Mas." Pak Riswan melirik arlojinya, lalu menghabiskan kopinya. "Saya ke pos dulu. Makasih loh, kopinya," ucapnya seraya beranjak pergi. Dari balik dinding kaca, Langit melihat Bima masuk sambil menenteng boks roti. Ia pun beranjak. Waktunya kembali bekerja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN