Menghabiskan waktu di Surabaya sepanjang hari tanpa tujuan yang jelas adalah suatu yang menyenangkan, Harandita dan Panji mengatakan apapun yang mereka rasakan selama ini, benar-benar gamplang tanpa ada yang ditutup-tutupi lagi, tanpa menghindar ataupun lari. Keduanya kini berdiri di depan rumah yang dulu pernah memberikan kehangatan tapi selama beberapa tahun terakhir tidak lagi pernah mereka kunjungi. Keduanya berdiri kaku di sana tanpa berani mengetuk pintu. Keadaan rumah kedua orangtua Harandita masih sama seperti itu namun suasananya sangat berbeda, rumah berlantai dua dengan desain minimalis itu terasa sangat sepi. “Siap?” tanya Panji, dia bisa merasakan ketakutan Harandita, bahkan semenjak mereka meninggalkan bandara Soekarno Hatta, Harandita tidak pernah melepaskan genggaman pada

